Ternyata Nabi Isa as. Sudah Wafat : 30 Ayat Al-Qur’an Sebagai Bukti Kuat

Ternyata Nabi Isa as. Sudah Wafat : 30 Ayat Al-Qur’an Sebagai Bukti Kuat

Di dalam buku Izaalah Auham, Hadhrat Masih Mau’ud as. – Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as .– telah mencantumkan 30 ayat-ayat Alquran yang membuktikan bahwa Nabi Isa as. telah wafat. Daftar dari ayat-ayat tersebut ada di dalam buku Ruhani Khazain, jilid 3, halaman 423-437.[1]

Berikut ini kami sampaikan ayat-ayat tersebut beserta dengan penjelasan singkatnya yang diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.

Ayat 1

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (آل عمران 56)

Terjemah: “Ingatlah ketika Allah berfirman, “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkan engkau secara wajar dan akan meninggikan kemuliaan engkau di sisi-Ku, akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang yang ingkar kepada engkau, dan akan menjadikan orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat, kemudian kepada-Ku kamu akan dikembalikan, lalu Aku akan menghakimi di antaramu tentang apa yang kamu perselisihkan.” (Ali Imran: 56)

Dalil: Kata ‘mutawaffiika’ memiliki arti “Aku akan mematikan engkau”. Kapanpun Allah berkedudukan sebagai subjek atau pelaku (faa’il) dan manusia sebagai objek (maf’uul), maka kata ini selalu mengarah kepada kematian. Artinya bahwa Allah mengambil nyawa manusia tersebut. Dalam kasus ini, makna ini pun berlaku kepada Nabi Isa as yang berarti bawa beliau sudah wafat.

Berikut ini adalah 2 contoh dari penggunaan kata ‘tawaffa’ yang berarti kematian:

وَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ اللَّهُ شَهِيدٌ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ  (يونس 47)

Terjemah: “Dan jika Kami perlihatkan kepada engkau sebagian dari yang telah Kami ancamkan kepada mereka, atau jika Kami wafatkan engkau sebelum itu, maka kepada Kami juga tempat kembali mereka; dan engkau akan mengetahuinya di alam akhirat, dan Allah menjadi saksi atas segala yang mereka kerjakan.” (Yunus: 47)

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (يوسف 102)

Terjemah: “Ya Tuhan-ku, Engkau telah menganugerahkan sebagian kedaulatan kepadaku, dan mengajarku ta’wil mimpi. Wahai Pencipta seluruh langit dan bumi, Engkau-lah Penolongku di dunia dan akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan patuh taat kepada kehendak Engkau dan gabungkanlah aku dengan orangorang yang saleh.” (Yusuf: 102)

Ayat 2

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (النساء 159)

Terjemah: “… Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Al-Nisaa: 159)

Dalil: Ini berarti bahwa Nabi Isa as tidak menderita kematian yang terkutuk melalui penyaliban di atas kayu salib. Malahan Allah Ta’ala telah meninggikan kedudukan beliau kepada-Nya. Kata “rafa’a” di dalam ayat ini mengarah kepada semacam kematian yang mulia dan terhormat. Kata yang sama telah digunakan juga untuk Nabi Idris as berkenaan dengan kedudukan dan status mulia beliau (Lihat Surah Maryam: 58)

Ayat 3

فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (المائدة 118)

Terjemah: “… tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka Engkaulah Yang menjadi Pengawas atas mereka …” (Al-Maidah: 118)

Dalil: Di dalam seluruh Alquran, kata “tawaffa” berarti merenggut nyawa dan meninggalkan tubuh kasar sebagaimana yang telah disebutkan di dalam surah Al-Sajdah (32): 12, surah Yunus (10): 105, surah Al-Nisaa (4): 16, surah Al-A’raf (7): 38 dan surah Al-An’aam (6): 62. Kata yang sama atau kata lain yang terbentuk dari akar kata ini telah digunakan di 23 tempat berbeda di dalam Alquran dan selalu merujuk kepada makna kematian dan pengambilan nyawa/jiwa. Serupa itu juga, kata “tawaffii” telah digunakan untuk merujuk kepada kata kematian di dalam hadits, dan seluruh koleksi buku hadits Shihah Sittah (6 kitab hadits yang dianggap paling shahih).

Ayat 4

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا (النساء 160)

Terjemah: “Dan tidak ada seorang pun dari Ahlikitab melainkan akan tetap mempercayai peristiwa itu sebelum ajalnya; dan pada Hari Kiamat, ia, Nabi Isa, akan menjadi saksi terhadap mereka.” (Al-Nisaa: 160)

Dalil: Ayat ini berarti bahwa tidak ada seorang pun dari berbagai grup Suku Bani Israil yang tidak percaya kepada Nabi Isa as sebelum kematiannya. Hal ini mengarahkan kita kepada kesimpulan bahwa Nabi Isa as telah melakukan perjalanan ke arah timur dengan tujuan untuk mencari suku-suku Bani Israil yang telah hilang dan untuk menyampaikan pesan yang beliau bawa kepada mereka. Secara keseluruhan, sekelompok orang dari setiap 12 suku Bani Israil telah percaya kepada pesan yang disampaikan oleh Nabi Isa as. Beliau berhasil hijrah dan sampai di Kashmir (saat ini berada di India) dan makam beliau ada di Srinagar.

Ayat 5

{مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ} (المائدة 76)

Terjemah: “Almasih ibnu Maryam tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu rasul-rasul sebelumnya, dan ibunya adalah seorang yang benar, keduanya dahulu biasa makan makanan …” (Al-Maidah: 76)

Dalil: Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa keduanya baik Nabi Isa as maupun ibunda beliau tidak lagi mengkonsumsi makanan sebagaimana yang bisa dipahami dari kata Bahasa Arab “kaanaa”, yang digunakkan untuk kegiatan di masa lalu. Sebagaimana Hadhrat Maryam as tidak lagi memakan makanan dan beliau telah wafat, demikian juga yang terjadi kepada Nabi Isa as.

Ayat 6

{وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ} (الأنبياء 9)

Terjemah: “Dan tidak Kami jadikan mereka jasad yang tidak makan makanan, dan mereka tidak hidup kekal.” (Al-Anbiyaa: 9)

Dalil: Tidak ada tubuh fisik atau tubuh manusia yang mampu bertahan tanpa mengkonsumsi makanan. Ini adalah sunnah Allah. Jika demikian lalu kenapa kita harus mempercayai bahwa Nabi Isa as adalah pengecualian bagi hukum Allah Ta’ala ini?

Ayat 7

{وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ} (آل عمران 145)

Terjemah: “Dan Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Apakah jika ia mati atau terbunuh kamu akan berbalik atas tumitmu? …” (Ali Imraan: 145)

Dalil: argument dari ayat ini adalah sebagai berikut; jika seandainya penting bagi seorang nabi untuk hidup selamanya di dunia ini, maka berikanlah sebuah contoh nabi yang semacam itu dari nabi-nabi terdahulu. Jika seandainya Nabi Isa as dianggap sebagai pengecualian kepada hal ini, maka ayat ini akan kehilangan makna sejatinya.

Ayat 8

{وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ} (الأنبياء 35)

Terjemah: “Dan Kami tidak pernah menjadikan seorang manusia pun sebelum engkau untuk hidup kekal. Maka jika engkau mati, apakah mereka akan hidup kekal?” (Al-Anbiyaa: 35)

Dalil: Ayat ini menjelaskan bahwa semua orang hanya memiliki satu jalan menuju kepada Allah. Tidak ada orang yang pernah lepas atau selamat dari kematian, begitu juga tidak akan ada orang yang mampu melepaskan dirinya dari kematian di masa depan nanti. Setiap orang akan menjadi tua dan akhirnya akan meninggal dunia, begitu juga Nabi Isa as tidak bisa dikecualikan dari peraturan Allah Ta’ala ini.

Ayat 9

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ (البقرة 135)

Terjemah: “Itulah umat yang telah berlalu, baginya apa yang mereka usahakan dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan ditanya mengenai apa yang
dahulu mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 135)

Dalil: Semua nabi-nabi juga merupakan umat yang telah meninggal dunia.

Ayat 10

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ ‎وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا (مريم 32)

Terjemah: “… dan telah memerintahkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup.” (Maryam: 32)

Dalil: Jika seandainya Nabi Isa as belum wafat, maka artinya beliau memiliki kewajiban untuk terus mendirikan shalat dan juga membayar zakat. Namun, “karena beliau saat ini ada di atas langit”, maka beliau tidak bisa memberikan zakat dan juga tidak bisa untuk menganjurkan orang lain untuk memberikan zakat serta tidak bisa melaksanakan ibadah shalat sebagaimana beliau biasa melaksanakannya ketika beliau berada di bumi. Amal-amal perbuatan ini memiliki kaitan dengan tubuh jasmani manusia dan ini tidak bisa dilanjutkan di atas langit.

Ayat 11

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (مريم 34)

Terjemah: “Dan selamat sejahtera atasku pada hari aku dilahirkan dan pada hari aku wafat, dan pada hari aku akan dibangkitkan, hidup kembali.” (Maryam: 34)

Dalil: Di dalam ayat ini hanya ada disebutkan tiga episode kehidupan dari Nabi Isa as, yaitu kelahiran beliau, kewafatan dan kebangkitan beliau di hari kiamat nanti. Jika seandainya kenaikan beliau ke atas langit dan turunnya beliau dari langit dengan tubuh kasar beliau adalah hal yang harus terjadi, maka kejadian itu pun harusnya disebutkan di dalam ayat ini.

Ayat 12

وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا (الحج 6)

Terjemah: “Dan di antara kamu ada yang diwafatkan secara wajar, dan sebagian dari kamu ada yang dipanjangkan umurnya hingga pikun, sehingga ia tidak mengetahui lagi sedikit pun setelah ia mempunyai pengetahuan sebelum itu.” (Al-Hajj: 6)

Dalil: Hanya ada dua hal yang telah ditetapkan untuk semua manusia: 1. Kematian premature atau kematian yang terlalu dini, 2. Kematian yang disebabkan oleh umur yang sudah lanjut. Hal ini juga tentu berlaku kepada Nabi Isa as.

Ayat 13

وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ  (البقرة 37)

Terjemah: “… dan di bumi inilah tempat kediaman bagimu dan perbekalan hidup sampai  suatu masa tertentu.” (Al-Baqarah: 37)

Dalil: kata depan dalam Bahasa Arab “lakum” (artinya untuk kalian) ini ditujukan untuk semua umat manusia dan dengan sangat jelas berarti bahwa umat manusia hidup di bumi ini dengan tubuh jasmani mereka, dan mereka tidak naik ke alam akhirat nanti (dengan tubuh jasmani mereka).

Ayat 14

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ  (يس 69)

Terjemah: “Dan barangsiapa Kami panjangkan umurnya, tentu Kami melemahkan dalam kejadiannya, maka apakah mereka tidak menggunakan akal?” (Yaasiin: 69)

Dalil: “Ayat ini berarti bahwa barang siapa yang sampai pada umur tua, akan melihat penurunan pada kemampuan mereka. Artinya, mereka akan mulai kehilangan kekuatan-kekuatan mereka. Jika seandainya Nabi Isa as telah hidup dengan tubuh jasmani beliau selama lebih dari 2.000 tahun, maka artinya kekuatan dan kemampuan beliau pasti sudah habis semuanya, yang berarti bahwa keadaan beliau hanya akan mengarah kepada kematian.

Ayat 15

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً (الروم 55)

Terjemah: “Allah Yang menciptakan kamu dalam keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu setelah lemah, kuat, kemudian setelah kuat Dia menjadikanmu lemah dan tua…” (Al-Rum: 55)

Dalil: Ayat ini juga menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari pengaruh umur tua. setiap orang akan mengalami kehilangan kekuatan seiring dengan tumbuhnya mereka menjadi orang tua, sehingga akhirnya akan mati juga.

Ayat 16

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ (يونس 25)

Terjemah: “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu seperti air yang Kami turunkan dari awan, lalu bercampurlah tumbuh-tumbuhan bumi dengannya, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak …” (Yunus: 25)

Dalil: Dalam ayat ini, manusia dibandingkan dengan hasil-hasil produksi bumi. Mereka lahir, diikuti dengan perkembangan, dan pada akhirnya mereka akan mati. Nabi Isa as juga tidak terkecuali dari hukum alam ini.

Ayat 17

ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ  (المؤمنون 16)

Terjemah: “Kemudian, sesudah itu kamu pasti akan mati.” (Al-Mu’minun: 16)

Dalil: Ayat ini menunjuk kepada hukum kudrat Allah Ta’ala lagi yaitu terjadinya kematian, dan tidak ada pengecualian dari hukum ini yang dibuat khusus untuk Nabi Isa as.

Ayat 18

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِأُولِي الْأَلْبَابِ  (الزمر 22)

Terjemah: “Apakah engkau tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari langit kemudian Dia mengalirkannya melalui sumber-sumber di bumi, kemudian Dia menumbuhkan dengannya tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam warnanya? Kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering, lalu engkau melihatnya menguning; kemudian Dia merubahnya menjadi jerami yang terpotong-potong. Sesungguhnya dalam yang demikian itu terdapat nasihat bagi orang-orang yang berakal.” (Al-Rum: 22)

Dalil: Ayat ini memberikan indikasi bahwa sebagaimana tanaman akan menjadi kering dan akhirnya akan mati juga, demikian juga manusia hanya akan hidup untuk sementara waktu saja di bumi ini, lalu pada akhirnya akan mati juga.

Ayat 19

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ (الفرقان 21)

Terjemah: “Dan tidak pernah Kami utus seorang dari rasul-rasul sebelum engkau, melainkan mereka akan makan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (Al-Furqan: 21)

Dalil: Menurut ayat ini, para Nabi biasa mengkonsumsi makanan, namun sekarang mereka tidak lagi memakan makanan. Tubuh jasmani membutuhkan pemeliharaan dan perawatan melalui nutrisi dalam makanan jika ingin tetap utuh. Oleh karena itu, karena para Nabi saat ini sudah tidak lagi mengkonsumsi makanan, maka artinya mereka semua sudah wafat, termasuk Nabi Isa as.

Ayat 20

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ – أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ  (النحل 21-22)

Terjemah: “Dan mereka yang diseru selain Allah mereka itu tidak menciptakan sesuatu pun, bahkan mereka sendiri yang telah diciptakan. Mereka itu mati, tidak hidup; dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (Al-Nahl: 21-22)

Dalil: Menurut ayat ini, semua wujud ataupun makhluk yang dianggap sebagai “Tuhan” adalah mati, tidak hidup. Nabi Isa as juga dipercaya sebagai Tuhan, dan artinya beliau sudah meninggal.

Ayat 21

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (الأحزاب 41)

Terjemah: “Muhammad bukan bapak salah seorang laki-laki di antaramu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khaataman Nabiyyin, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 41)

Dalil: Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa tidak ada nabi yang bisa datang untuk menghancurkan status Nabi Muhammad Saw sebagai Khataman-Nabiyyiin. Hanya seseorang yang berasal dari umat Rasulullah Saw yang benar-benar taat dan beriman lah yang mampu datang dengan membawa status kenabian. Oleh karena itu, Nabi Isa as tidak bisa datang lagi karena beliau adalah seorang Nabi yang diutus untuk Bani Israil.

Ayat 22

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  (النحل 44)

Terjemah: “… maka tanyakanlah kepada orang-orang ahli zikir itu, jika kamu tidak mengetahui.” (Al-Nahl: 44)

Dalil: Ayat ini menganjurkan kita untuk memeriksa kitab-kitab agama Yahudi dan agama Kristen jika ingin mempelajari dan mencari kebenaran. Kita melakukan hal ini dengan tujuan untuk mencari tahu apakah kembalinya seorang Nabi telah dinubuatkan untuk masa depan, apakah ia sendiri (dengan wujudnya yang sama) akan kembali ataukah nubuatan tersebut bersifat metafora? Dari kitab-kitab tersebut kita mempelajari bahwa Nabi Isa as sendiri telah menyatakan bahwa nubuatan-nubuatan semacam itu adalah metaforis. Kita harus memperhatikan dan meneliti contoh penyempurnaan nubuatan kembalinya Nabi Elias as yang terpenuhi secara metafora.

Ayat 23

{يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ – ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً – فَادْخُلِي فِي عِبَادِي – وَادْخُلِي جَنَّتِي (الفجر 28-31)

Terjemah: “Hai jiwa yang tentram! Kembalilah kepada Tuhan engkau, engkau ridha kepadaNya dan Dia pun ridha kepada engkau. Maka masuklah di antara hamba-hamba pilihan-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al-Fajr: 28-31)

Dalil: Serangkaian ayat-ayat ini menjelaskan bahwa umat manusia tidak bisa bergabung ke dalam golongan orang-orang yang berada di dalam surga tanpa mengalami kematian terlebih dahulu. Di dalam sebuah hadits yang menjelaskan tentang peristiwa Mi’raj Rasulullah Saw (perjalanan rohani Rasulullah Saw yang beliau lihat di dalam kasyaf, dimana beliau pergi ke langit), Rasulullah Saw melihat Nabi Isa as berada di dalam surga.

Ayat 24

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ (الروم 41)

Terjemah: “Allah yang telah menciptakan kamu, memberi rezeki kepada kamu, Dia mematikan kamu, kemudian Dia akan menghidupkan kamu …” (Al-Rum: 41)

Dalil: Menurut surah ini, hanya ada 4 peristiwa utama yang terjadi di dalam hidup seorang manusia. Pertama, ia dilahirkan. Kedua, ia mendapatkan pemeliharaan dan perawatan sehingga ia berkembang. Ketiga, ia akan meninggal. Keempat, ia akan dibangkitkan. Inilah keempat tingkatan peristiwa tersebut, dan tidak ada juga pengecualian yang dibuat hanya untuk Nabi Isa as.

Ayat 25

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ – وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (الرحمن 27-28)

Terjemah: “Segala sesuatu yang ada di atasnya bumi itu akan binasa, dan yang akan kekal hanyalah Wujud Tuhan engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.” (Al-Rahman: 27-28)

Dalil: Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti mengalami kemunduran dan kebinasaan. Artinya tubuh jasmani manusia juga sedang mengalami perkembangan ke arah kematian. Allah Ta’ala menggunakan kata “faanin” (artinya berada dalam keadaan binasa), dan tidak kata “yafnee” (akan binasa). Artinya kemunduran dan kematian bukanlah suatu kejadian yang akan terjadi pada suatu waktu tertentu di masa depan nati. Melainkan, manusia sedang berada dalam keadaan binasa yang pasti. Tubuh jasmani Nabi Isa as juga tidak dikecualikan dari hal ini.

Ayat 26

{إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ – فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ  (القمر 55-56)

Terjemah: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam kebun-kebun dan sungai-sungai. Dalam tempat tinggal yang kekal lagi mulia di sisi Raja Yang Mahakuasa.” (Al-Qamar: 55-56)

Dalil: Menurut surah ini, memasuki surga berarti bahwa seseorang sudah kembali kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, jika Nabi Isa as telah diangkat ke sisi Allah, maka artinya beliau sudah kembali kepada Allah Ta’ala, yang dengan kata lain beliau sudah berada di dalam surga. Ini hanya bisa terjadi apabila beliau sudah wafat.

Ayat 27

{إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ – لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنْفُسُهُمْ خَالِدُونَ (الأنبياء 102-103)

Terjemah: “Sesungguhnya perihal orang-orang yang telah lebih dahulu mendapat janji ganjaran baik dari Kami, mereka itu akan dijauhkan dari neraka. Mereka tidak akan mendengar suaranya sedikit pun, dan mereka kekal dalam keadaan yang diri mereka sukai.” (Al-Anbiyaa: 102-103)

Dalil: Ayat-ayat ini juga berlaku kepada Nabi Isa as dan dengan jelas menyatakan bahwa beliau telah masuk ke dalam surga.

Ayat 28

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ (النساء 79)

Terjemah: “Di manapun kamu berada kematian akan menemukanmu, sekali pun kamu ada di dalam benteng yang kokoh…” (Al-Nisa: 79)

Dalil: Ayat ini kembali lagi menunjukkan kepada kita bahwa kematian dan faktor-faktor yang menyebabkan kematian selalu ada untuk tubuh jasmani kita. Ini adalah cara Allah Ta’ala, dan disini sekali lagi dijelaskan bahwa tidak ada pengecualian untuk Nabi Isa as.

Ayat 29

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا (الحشر 8)

Terjemah: “… Dan apa pun yang diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah itu, dan apa pun yang dilarangnya bagimu, maka hindarilah …” (Al-Hasyr: 8)

Dalil: Ayat ini mengajurkan kita untuk menerima sabda-sabda Rasulullah Saw. Berikut ini kami sampaikan satu contoh dari sabda-sabda Rasulullah Saw yang membuktikan bahwa Nabi Isa as telah wafat. Diriwayatkan:

أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِشَهْرٍ ‏ “‏ تَسْأَلُونِي عَنِ السَّاعَةِ وَإِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَأُقْسِمُ بِاللَّهِ مَا عَلَى الأَرْضِ مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ تَأْتِي عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ ‏”‏ ‏.‏

Artinya, Hadhrat Jabir bin Abdullah ra meriwayatkan, “saya mendengar Rasulullah Saw mengatakan kalimat berikut ini satu bulan sebelum kewafatan beliau. Bersabda, “Kalian bertanya kepadaku tentang as-Saa’ah (hari akhir), sesungguhnya ilmu mengenainya hanya ada di sisi Allah. Dan aku bersumpah atas nama Allah bahwa tidak ada satu pun makhluk yang ada di atas bumi ini mampu bertahan pada akhir seratus tahun.” (H.R. Muslim) (https://sunnah.com/muslim/44/310)

Artinya, semua manusia yang hidup pada masa ketika beliau menyampaikan hal ini pasti akan mengalami kematian dalam waktu 100 tahun. Ini juga termasuk Nabi Isa as.

Ayat 30

أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا (الإسراء 94)

Terjemah: “Atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas atau engkau naik ke langit; dan sekali-kali tidak akan kami percaya kenaikan engkau ke langit, sebelum engkau turunkan kepada kami sebuah kitab yang dapat kami membacanya.” Katakanlah, “Mahasuci Tuhan-ku! Aku tidak lain hanyalah seorang manusia, yang diutus sebagai seorang rasul.

Dalil: Kaum Kafir telah meminta Rasulullah Saw untuk menaikkan diri beliau ke atas langit, dan mereka telah diberitahu melalui wahyu Ilahi bahwa mengangkat tubuh jasmani seseorang ke atas langit seperti itu bukanlah cara Allah Ta’ala. Jika – anggap saja – Nabi Isa as diangkat ke atas langit dengan tubuh jasmani beliau, maka ini malah akan membuat logika dari ayat ini menjadi tidak benar dan bahkan akan menjurus kepada kontradiksi di dalam Alquran. Oleh karena itu, kebenaran yang benar-benar telah terbukti di dalam perkara ini adalah bahwa Nabi Isa as tidak naik ke atas langit dengan tubuh jasmani beliau. Namun, beliau sudah wafat dan ruh beliau lah yang pergi ke surga.

Oleh Farhan Iqbal

Sumber: alislam.org/articles/

Terjemah oleh Chalid Mahmud Ahmad


[1] Metode penomeran ayat Al-Qur’an dalam tulisan dan situs ini menggunakan metode basmallah di tiap awal surah dihitung sebagai nomer ayat pertama.

One thought on “Ternyata Nabi Isa as. Sudah Wafat : 30 Ayat Al-Qur’an Sebagai Bukti Kuat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *