Menjawab Agus Efendi
Beberapa hari yang lalu, kami membaca sebuah tulisan dari Sdr. Agus Efendi yang ditujukan untuk membantah dalil-dalil Ahmadiyah yang berkenaan dengan kontinuitas kenabīan. Setelah kami kaji argumentasi-argumentasi yang beliau pakai, itu semua sebenarnya telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya oleh Pendiri Ahmadiyah, Sayyidunā Mirzā Ghulām Aḥmadas, para Khulafā’ Ahmadiyah, dan para ‘ulamā Ahmadiyah dalam buku-buku mereka. Sdr. Agus sendiri mencantumkan beberapa sumber primer yang berasal langsung dari Ahmadiyah. Sikap jujur dan orisinalitas beliau ini sangatlah kami apresiasi. Namun, meski demikian, ada banyak hal yang perlu dikritisi dan diluruskan. Wabil khusus, karena tulisan itu dibuat untuk mendiskreditkan dan menyerang dalil-dalil Ahmadiyah, maka selaku seorang Ahmadi, kami mempunyai kewajiban dan tanggung-jawab untuk memempertahankan keyakinan kami yang diserang itu. Dalam karangan ini, kami akan membantah satu per satu argumentasi yang digunakan oleh Sdr. Agus. Kami berharap, tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi semua orang, khususnya para pencari kebenaran. Āmīn!
Introduksi
Klaim bahwa mayoritas ummat Islām sejak zaman para Ṣaḥābatra berakidah bahwa tidak akan datang lagi seorang nabī pun sesudah Nabī MuḥammadSAW tidaklah tepat. Karena, seluruh ummat sepakat, kecuali sebagian Mu‘tazilah dan Jahmiyyah, akan kedatangan dan turunnya Nabī ‘Īsāas di akhir zaman. Dalam ḥadīts ṣaḥīḥ yang dibawakan oleh al-Imām Muslim dari Ḥaḍrat Nawwās ibn Sam‘ānra, kata “Nabiyu-Llāh” dipergunakan oleh NabīSAW untuk al-Masīḥas sebanyak 4 kali[1]. Seandainya pintu nubuwwah telah benar-benar terkunci rapat, mengapakah ‘Īsāas masih dapat kembali sebagai seorang nabī pada akhir zaman?
Sungguh benar sabda Rasūlu-LlāhSAWbahwa ummat beliau kelak akan mengikuti dan membebek Yahudi dan Nasrani, hingga tak ubahnya bagai sepasang terompah[2]. Anggapan bahwa tiada lagi seorang utusan yang akan datang setelah wafatnya Nabī MuḥammadSAWadalah salah satu bentuk pembebekan kaum muslimin kepada orang-orang Yahudi. Kita membaca dalam al-Qur’ān:
وَلَقَدْ جَاءَكُمْ يُوسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا زِلْتُمْ فِي شَكٍّ مِمَّا جَاءَكُمْ بِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا هَلَكَ قُلْتُمْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ مِنْ بَعْدِهِ رَسُولًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ مُرْتَابٌ ﴿﴾
“Dan, sesungguhnya telah datang kepada kalian Yūsuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kalian selalu dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepada kalian. Sehingga, tatkala dia telah wafat, kalian berkata: Allāh sekali-kali tidak akan mengutus sesudahnya seorang rasūl. Demikianlah Allāh menetapkan sesat barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu”. [Sūrah Ġāfir {40}:35]
Banī Isrā’īl, semasa Nabī Yūsufas masih hidup, mereka adalah musuh utama bagi beliau yang senantiasa mengadakan huru-hara untuk menentang beliau. Menurut al-Qurṭubī, mereka yang menentang Nabī Yūsufasadalah orang-orang yang memiliki derajat keruhanian yang rendah. Kata مسرف(yang melampaui batas) merujuk kepada orang yang menyekutukan Tuhan. Sedangkan kata مرتاب (yang ragu-ragu) berpulang kepada dia yang menaruh syak-wasangka terhadap keesaan Tuhan[3].
Demikian juga orang-orang musyrik, baik dari kalangan Arab ataupun ‘Ajam, yang dahulu tidak pernah melewatkan sedikitpun kesempatan untuk menyakiti dan melukai Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW, disebabkan kurangnya ta‘līm dan tarbiyyah, serta siasat-siasat licik nan culas mereka yang terpendam untuk menjatuhkan Islām dari dalam, menyebarkan faham-faham yang bertentangan dengan ajaran Islām yang murni dan asli, taktala mereka berbondong-bondong menjadi mu’allaf. Mereka tadinya adalah penyembah api, penyembah berhala, penyembah kaisar, kesemuanya tidak memiliki iman dan keyakinan di dalam waḥdāniyyat Allāh. Tetapi, ketika mereka melihat kekalahan telah memukul mundur mereka dari segala penjuru, mereka mulai mengubah taktik dan strategi dengan berpura-pura masuk Islām. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghancurkan Islām dari internal ummatnya, dengan menyebarkan faham-faham sesat yang tidak pernah diajarkan oleh NabīSAWdan para Ṣaḥābatra. Gambaran ini persis serupa dengan peri-keadaan kaum Nabī Yūsufas setelah wafatnya beliau.
Adapun para Ṣaḥābatra, mereka adalah orang-orang yang telah meneguk susu secara langsung dari ilmu NabīSAW. Mereka teguh mengatakan bahwa pintu kenabīan masih dapat terbuka. Mereka mengetahui bahwa al-Masīḥ al-Mau‘ūdaskelak akan datang di akhir waktu. Sebagai contoh, Sayyidatunā Ummm-ul-Mu’minīn aṣ-Ṣiddīqahra berucap:
حدثنا حسين بن محمد؛ قال: حدثنا جرير بن حازم؛ عن عائشة، قالت : قولوا: خاتم النبيين؛ ولا تقولوا : لا نبي بعده.
“Ḥusayn ibn Muḥammad menceritakan kepada kami; dia berkata: Jarīr ibn Ḥāzim menceritakan kepada kami; dari Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra, beliau bersabda: Katakanlah: Khātam-un-Nabiyyīn. Janganlah katakan: Tidak ada nabī setelah beliau”.[4]
Ibn Qutaybah, seorang sarjana filologi dan ḥadīts abad 3 H, memberikan penjelasan tentang maksud perkataan Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra sebagai berikut:
وأما قول عائشة رضي الله عنها – قولوا لرسول الله صلى الله عليه وسلم خاتم الأنبياء ولا تقولوا لا نبي بعده –فإنها تذهب إلى نزول عيسى عليه السلام. وليس هذا من قولها ناقضا لقول النبي صلى الله عليه وسلم –لا نبي بعدي – لأنه أراد لا نبي بعدي ينسخ ما جئت به كما كانت الأنبياء صلى الله عليهم وسلم تبعث بالنسخ، وأرادت هي: لا تقولوا إن المسيح لا ينزل بعده.
“Adapun perkataan Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra – Katakanlah bagi Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW: Khātam-un-Nabiyyīn. Dan janganlah katakan: Tidak ada nabī setelah beliau –sesungguhnya itu merefer kepada turunnya ‘Īsāas. Perkataan beliau ini tidaklah bertentangan dengan sabda NabīSAW – Tidak ada nabī setelahku – karena yang beliauSAW maksudkan adalah – Tidak ada nabī setelahku yang akan membatalkan apa yang aku bawa, sebagaimana para nabī ‘alayhim as-salām diutus untuk saling membatalkan hukum yang satu dengan yang lainnya –. Yang Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra maksudkan adalah: Janganlah katakan bahwa al-Masīḥas tidak akan turun setelah Nabī MuḥammadSAW”.[5]
Perkataan Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra ini cukup kiranya bagi orang-orang yang berakal. Beliau digambarkan oleh para ‘ulamā’:
لم يكن في الأمم مثل عائشة في حفظها وعلمها وفصاحتها وعقلها.
“Tidak pernah ada di antara ummat mana pun seorang yang semisal Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra dalam hafalan beliau, ilmu beliau, kefasihan beliau, dan akal budi beliau”.[6]
Pernyataan Sdr. Agus bahwa tidak ada sama sekali dalil, baik dari al-Qur’an maupun ḥadīts, yang mengindikasikan kontinuitas kenabīan terkesan sangat sembrono. Ayat-ayat al-Qur’ān saling terangkai satu sama lain dalam menginformasikan keberlangsungan kenabīan. Allāh berfirman:
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿﴾
“Kemudian, jika datang kepada kalian suatu petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih”. [Sūrah al-Baqarah {2}:39]
Huruf ماdalam ayat di atas yang digabungkan dengan إنmempunyai faedah taukīd. Untuk menunjukkan bahwa itu adalah taukīd, maka nūn musyaddadah tsaqīlah dimasukkan ke dalam fi‘l يأتينكمsebagai pembeda antara huruf ماyang berfaedah taukīd li al-kalām dengan ḥarf ماyang bermakna الذي (ism mauṣūl)[7]. Jadi, ayat ini menerangkan kepada kita bahwa merupakan janji Tuhan semenjak zaman Ādamas untuk selalu memberikan petunjuk kepada manusia. Petunjuk yang dimaksud ini, menurut Abū al-‘Āliyah Rafī‘ ibn Mihrān, seorang imām ahli qirā’ah dan tafsir dari kalangan tābi‘īn, adalah para nabī, para rasūl, dan al-bayān (penjelasan). Khiṭāb ayat tersebut tidak hanya ditujukan kepada Ādamas dan istri beliau, tetapi juga seluruh keturunan beliau[8]. Maka dari itu, pengutusan para nabī dan rasūl ini tidak bisa tidak langgeng, bahkan bersifat kontinu hingga Hari Kiamat. Perlu diperhatikan pula bahwa ṣiġat yang dipergunakan dalam ayat di atas ialah dalam bentuk muḍāri‘ yang mengandung istimrāriyyah (kontinuitas), tajaddudiyyah (rejuvenasi), ‘ādah (kebiasaan), dan basīṭ (simplisitas)[9]. Maknanya adalah, sebagaimana dahulu Dia mengirim duta-duta-Nya ke dunia ini untuk membimbing manusia kepada kebahagiaan abadi, pun sekarang Dia juga menggerakkan tangan qudrat-Nya untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan. Dari sini, kita dapat mengkonlusikan bahwa nabī-nabī akan tetap dan senantiasa eksis sampai Hari Penghabisan.
Manusia adalah makhluk lemah yang tak habis-habisnya terjerembab dalam jurang angkara-murka. Dia ibarat seorang pasien yang sakit. Jika ingin mengalami kesembuhan, dia harus berobat ke dokter. Jika tidak, penyakitnya akan bertambah parah, dan sangat mungkin bagi dia untuk meregang nyawa. Al-Imām Fakhr-ud-Dīn ar-Rāzī, seorang mufassir besar dari Syāfi‘iyyah, mengatakan:
واعلم أن أكثر الخلق وقعوا في أمراض القلوب وهي حب الدنيا والحرص والحسد والتفاخر والتكاثر. وهذه الدنيا مثل دار المرضى. إذا كانت مملوءة من المرضى، والأنبياء كالأطباء الحاذقين.
“Ketahuilah! Sesungguhnya kebanyakan manusia berada pada penyakit-penyakit hati, yaitu cinta dunia, loba, dengki, berbangga-bangga, dan memperbanyak harta. Dunia ini adalah bak rumah orang-orang sakit. Apabila dunia ini telah penuh dengan orang-orang yang berpenyakit, maka para nabī adalah para dokter yang mahir”.[10]
Al-Imām al-Ġazālī, seorang yang tak perlu lagi dipertanyakan otoritasnya, berkata dalam al-Iḥyā’:
واعلم أنه كان يطلع الطبيب الحاذق على أسرار في المعالجات يستبعدها من لا يعرفها، فكذلك الأنبياء أطباء القلوب و العلماء بأسباب الحياة الأخروية، فلا تتحكم على سننهم بمعقولك فتهلك.
“Ketahuilah! Sesungguhnya seorang dokter yang mahir pasti mengetahui rahasia-rahasia dalam penyembuhan-penyembuhan yang orang-orang yang tidak mengetahuinya menjauhinya. Demikian juga para nabī adalah dokter-dokter hati dan orang-orang yang mengetahui sebab-sebab al-Ḥayāt al-Ukhrawiyyah (kehidupan metafisik/alam mendatang). Karenanya, janganlah engkau mencoba menghakimi sunnah-sunnah mereka dengan akal engkau atau engkau akan binasa”.[11]
Dalam Qawā‘id al-‘Aqā’id, beliau berkata:
فحاجة الخلق إلى الأنبياء كحاجتهم إلى الأطباء.
“Manusia membutuhkan nabī-nabī layaknya mereka membutuhkan dokter-dokter”.[12]
Nah, ketika penyakit manusia sudah sedemikian rupa parahnya, masakah Allāh tidak memperhatikan keadaan mereka dan menelantarkan mereka? Justru Dia akan mengutus dokter-dokter ruhani agar mereka mendapat kesembuhan. Al-Imām ar-Rāzī menulis:
ولما كان الخلق محتاجين إلى البعثة، والرحيم الكريم قادرا على البعثة وجب في كرمه ورحمته أن يبعث الرسل إليهم.
“Taktala manusia tengah membutuhkan pengutusan seorang rasūl, maka Yang Maha Penyayang nan Maha Mulia itu, Yang sungguh berkuasa untuk mengutus seorang rasūl, wajib untuk mengutus para rasūl ataskemuliaan-Nya dan rahmat-Nya”.[13]
Namun, ada juga di antara orang-orang sakit itu yang menolak untuk datang ke dokter. Malahan, bersebab kecongkakan akut, mereka menentang dokter tersebut. Orang-orang seperti itu tidak akan pernah bisa sembuh, bahkan mereka akan tersingkirkan dan binasa. Kita membaca:
مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ ﴿﴾
“Allāh tidak mungkin membiarkan orang-orang mukmin di dalam keadaan kalian sekarang, sehingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allāh tidak akan memberitahukan yang ghaib kepada kalian, tetapi Allāh memilih di antara rasūl-rasūl-Nya siapa yang Dia kehendaki. Maka berimanlah kalian kepada Allāh dan rasūl-rasūl-Nya. Dan, jika kalian beriman dan bertakwa, maka bagi kalian ganjaran yang besar”. [Sūrah Āli ‘Imrān {3}:180]
Ayat di atas sangat jelas sekali menegaskan bahwa Allāh akan senantiasa memisahkan yang buruk dari yang baik. Pemisahan ini Dia lakukan melalui perantaraan para nabī yang Dia utus, sehingga mereka dapat menerangkan kepada manusia rahasia-rahasia keghaiban dan ma‘rifat akan Wujud-Nya. Makrifat ilāhiyyah ini, menurut az-Zamakhsyarī, menuntut kita untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang berat, yang tidak seorang pun akan sanggup memikulnya kecuali orang yang sabar. Dia-lah yang akan lulus dari ujian ini. Sehingga, akan tersingkaplah tabir tentang siapa yang memiliki keikhlasan dan ketulusan niat dan siapa yang membawa panji-panji kemunafikan di dalam hatinya[14]. Seandainya tidak ada lagi seorang rasūl pun yang diutus dari keharibaan Tuhan, maka siapakah yang akan menjadi manifestasi-Nya untuk memisahkan kebaikan dan keburukan? Pada zaman ini, kebaikan dan keburukan telah bercampur sedemikian bercampurnya, jadinya tampak sulit sekali untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Untuk itu, diperlukan kedatangan seorang rasūl yang telah diajari secara langsung oleh Rabb ‘Azza Wa Jalla dengan ilmu-Nya yang kokoh dan sempurna. Jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan kedatangan seorang utusan pun, hatinya sungguh telah berkarat dengan kesombongan dan keangkuhan.
Allāh adalah Rabb, yakni Yang Menciptakan, Memelihara, Membimbing, dan Menyampaikan ciptaan-Nya kepada tujuan penciptaan. Tujuan diciptakannya manusia tidak lain dan tidak bukan ialah untuk menyembah-Nya. Dalam fitrat mereka, telah ditanam quwwah malakiyyah (kekuatan malaikat) yang menyeru kepada kebaikan. Namun, di sisi lain, nafs ammārah mereka yang berasal dari setan senantiasa bergejolak. Gejolak ini membawa manusia kepada kejahatan dan keburukan. Kekuatan jahat ini akan selalu menggerayangi manusia sampai Hari Penghabisan. Allāh berfirma
