Hati-Hati Beramal : Allah swt. Menilai dari Kalbu Bukan dari Luar

Hati-Hati Beramal : Allah swt. Menilai dari Kalbu Bukan dari Luar

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (H.R.Muslim, No.4651 – Kitab Berbuat Baik, Menyambut Silaturahim dan Adab)

Penjelasan:

Di dalam hadis ini Yang Mulia Rasulullah ﷺ menyebutkan dua hal, yakni kendati keduanya merupakan karunia dari Tuhan kadangkala menyebabkan fitnah dan ujian yang hebat bagi kaum pria dan wanita.

Yang pertama, adalah keelokan tubuh dan kecantikan wajah yang biasanya bagi kaum wanita menjadi sumber fitnah. Yang kedua, adalah kekayaan dan harta benda yang biasanya menyeret kaum pria kepada berbagai ujian dan godaan. Dengan menyebutkan kedua hal tersebut sebagai contoh. Yang Mulia Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kedua hal itu adalah nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala, tetapi orang-orang Islam harus hati-hati.

Untuk menguji nilai dan martabat manusia, Allah Ta’ala tidak memandang kepada kecantikan wajah seorang wanita atau kekayaan seorang pria, melainkan hanya memandang kalbu dan otak manusia, yang menjadi pokok dan sumber dari pikiran dan perasaan manusia. Selanjutnya Dia melihat amal yang nampak sebagai hasil dan akibat dari pikiran dan perasaan itu.

Dalam hadis ini lafaz “Qalbu” maksudnya “Jantung dan otak” kedua-duanya  yang dalam bahasa Inggris disebut “heart and mind”. Menurut loghat lafaz “Qalbun” berarti titik pusat suatu tatanan atau peraturan; hati dan otak kedua-duanya sebagai pusat pada daerah masing-masing dalam faal tubuh manusia.

Otak adalah pusat perasaan lahiriah (pikiran), dan hati adalah pusat perasaan rohani(keruhanian). Maka dengan menggunakan kata “qulub” dan “amal” Yang Mulia Rasulullah ﷺ  dalam hadis ini mengisyaratkan bahwa meskipun keelokan jasmani dan harta benda lahiriah adalah karunia dan nikmat dari Allah Ta’ala yang harus dihargai(dan syukuri)oleh manusia, namun yang dipandang oleh Allah Ta’ala ialah kalbu dan amal manusia.

Karena itu daripada membanggakan keelokan jasmani serta kekayaan dan nikmat-nikmat dunia lainnya, seyogyanya setiap muslim senantiasa berupaya untuk memperbaiki hati, pikiran(otak) dan amal masing-masing.

Perlu disimak pula pernyataan Yang Mulia Rasulullah ﷺ yang mengatakan bahwa, “Allah Ta’ala memandang kalbu dan amal manusia,” bukan maksudnya hanya diberlakukan saat hisab pada hari kiamat saja. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa di dunia ini juga kehendak hati, pikiran dalam otak, dan amal perbuatan anggota-anggota tubuh memiliki nilai dan potensi yang hakiki. Sesungguhnya kalau suatu kaum dianugerahi nikmat sehingga hati dan pikiran, tangan dan kaki mereka telah berperan dan bekerja pada jalan yang benar maka tidak akan ada kekuatan apa pun di dunia ini yang dapat menjadi penghalang dalam mencapai kemajuan serta meraih karunia-karunia lainnya.

Dikutip dari : Buku Empat Puluh Permata Hadis, Karya Hadhrat Mirza Bashir Ahmad MA, r.a.

Diterjemahkan oleh : Mln.Malik Aziz Ahmad Khan (alm)

Ditulis ulang oleh : Abdul Haq Kartono

Leave a Reply

Your email address will not be published.