SITI MARYAM DALAM BIBEL DAN ALQURAN

SITI MARYAM DALAM BIBEL DAN ALQURAN

Judul Asli : Mary in The Bible & Alquran
Oleh : M.A.K. Ghauri-Rabwah
Sumber : Review of Religion, Desember 1972
Penterjemah : Ataul Ghalib Yudi Hadiana

Dalam agama Kristen, Siti Maryam, ibunda nabi Isa, adalah seorang tokoh yang sangat penting. Namun, Perjanjian Baru, kitab utama mereka sama sekali bisu tentang pra-kehidupan beliau sampai saat kelahiran Yesus. Dari Matius (1:18-21), hanya sejauh ini kita dapat mengetahui, bahwasannya ketika Siti Maryam diketahui telah mengandung [sebelum hidup sebagai suami-istri], Yusuf, yang dengannya Siti Maryam bertunangan memutuskan untuk menceraikannya secara diam-diam.

Tetapi malaikat Tuhan melarangnya dalam sebuah mimpi, berkata, Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus; ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan dia Yesus, karena ia akan menyelamatkan umatnya dari dosa mereka.

Matius tidak mengisahkan tentang pra-kehidupannya sampai kepada Yusuf. Markus bahkan tidak menyebutkan tentang kelahiran Yesus yang tidak biasa dan Lukas memulai kisahnya hanya dari titik dimana malaikat nampak kepada Yusuf. Tentang kehidupan Siti Maryam sebelumnya, yang dikatakannya hanyalah bahwa ia adalah sanak dari istri Zakariya yang kepadanya dia biasa sering berkunjung. Yohanes sama sekali tidak memberikan keterangan tentang masa kecilnya atau pun keluarganya.

Alquran
Di sisi lain, Alquran menguraikan beberapa fakta tentang keluarga Siti Maryam dan perempuan yang telah mengandung dan melahirkan seorang gadis yang ditakdirkan akan melahirkan Yesus secara ajaib.KelahiranYesus sungguh merupakan suatu tanda yang besar. Hal ini dikarenakan, kepentingan informasi mengenai kondisi sebelum kelahiran Yesus akan dibahas juga.


Di dalam Alquranul karim surat yang ke tiga (Ali-Imran) disebutkan bahwasannya seorang gadis dari keturunan Imran (satu cabang dari keturunan Israil) merasa sangat gelisah dalam pikirannya berkenaan dengan kemerosotan kondisi umat Yahudi dan keimanan mereka. Sebagai jalan pemecahan atas hal ini, hendaklah sejumlah orang (laki-laki) yang berbudi baik mendedikasikan hidup mereka untuk membangkitkan kembali agama mereka dan berjuang keras untuk mengembalikan bangsa mereka kepada jalan kebajikan. Oleh karena itulah, dia memutuskan bahwa jika dia melahirkan seorang putera kelak ia akan mendedikasikan hidup puteranya untuk perkara agama. Tersebab hal itulah, ia membuat perjanjian pribadi dengan Tuhan dan ia memanjatkan doa terus-menerus untuk puteranya.

Tetapi ketika dia melahirkan, dia merasa sangat kecewa mengetahui bahwa anaknya yang lahir ternyata perempuan. Dia meyakini bahwa seorang perempuan tidak akan bisa mengkhidmati agama sebaik layaknya seorang laki-laki. Karena itu ia memohon dengan merendahkan hati kepada Tuhan mengenai apa yang harus diperbuat karena anaknya ternyata hanya seorang perempuan.
Orang-orang Yahudi ketika itu telah sadar secara penuh bahwa bangsa mereka telah menjadi demikian kacau-balau dan agama telah mengalami kemerosotan. Semua orang yang berpikiran benar dan jujur merasakan kebutuhan yang mendesak akan adanya suatu reformasi fundamental.

Tetapi mereka tidak mengetaui bahwa Yang Maha Mengetahui telah menunjuk [siapa] untuk perbaikan-perbaikan ini. Kaum pria dan wanita yang di dalam hati mereka meyakini agama sebagai sesuatu yang paling penting, paling merasa khawatir untuk mengambil langkah praktis demi kebangkitan mereka. Banyak orang yang memiliki sifat sosial dan berkecintaan sejati mendedikasikan diri mereka untuk perkara ini. Wanita-wanita yang baik dan shalehah juga tidak jauh di belakang suami-suami mereka.

Banyak di antara mereka berjanji untuk membaktikan anak-anak mereka demi tujuan yang sama tersebut.
Tuhan Yang Maha Suci mengabulkan doa-doa ibunda Siti Maryam dengan cara memberikan seorang anak perempuan yang telah ditakdirkan untuk menjadi ibu dari seorang nabi yang mashur, Sang Penebus yang lama telah dinanti-nantikan oleh umat Yahudi.

Ada alasan kuat yang lain, mengapa doa-doa ibunda Siti Maryam tidak dikabulkan sesuai dengan cara yang ia kehendaki, yaitu kelahiran seorang anak laki-laki. Injil telah menubuwatkan tentang kelahiran Ia yang dijanjikan[Yesus] dari rahim seorang gadis perawan. Janji yang diberikan kepada umat Yahudi melalui perantaraan banyak nabi ini telah disempurnakan.

Untuk menyempurnakan perjanjiannya dengan Tuhan, ibunda Siti Maryam bahkan menyerahkan tanggung jawab atas anak perempuannya-dalam usia yang cukup-kepada seorang imam agar dapat membesarkannya dengan cara yang benar dan memberikannya pendidikan serta tarbiyat yang sesuai. Tetapi ketika dia menyerahkan anak tersebut, dia memanjatkan doa lain dan memohon agar dia [Siti Maryam] dan keturunannya dilindungi dari pengaruh-pengaruh jahat syaitan. Hal ini secara jelas menujukan bahwa kendati pun didedikasikan, ibunya tidak menghendaki anak perempuannya tetap melajang.

Tuhan Yang Maha Mulia mengabulkan doa ibunda Siti Maryam ini, Maryam tumbuh dalam pengawasan langsung Zakariya, yang bukan hanya seorang yang mulia dan memiliki hubungan kekeluargaan, tetapi juga merupakan seorang nabi Tuhan. Tidak ada dia mendapatkan pembimbing yang lebih baik dari pada Zakariya.
Tepat semenjak usia mudanya, Siti Maryam telah menunjukan tanda-tanda keshalehahan yang istimewa serta kemuliaan spiritual. Ia memiliki keyakinan yang teguh bahwa hanya Tuhan Yang Maha Mulia-lah yang Maha Penopang dan Pemelihara, Zakariya sangat terkesan dengan keshalehahan gadis muda ini.

Dia pun berdoa kepada Tuhan Yang maha Kuasa agar menganugerahinya seorang putera dan pewaris yang akan melanjutkan jejak langkahnya, dan dikabulkanlah [dengan lahirnya] Yahya Pembaptis, yang merupakan pelopor dari Almasih orang-orang Yahudi.
Injil menyebutkan bahwa kesamaan Elia adalah muncul sebelum datangnya Sang Penebus dari umat Yahudi.

Maryam dalam Bibel
menurut Injil, Yusuf, setelah dia melihat malaikat di dalam mimpi, mengurungkan gagasan untuk menceraikan Siti dam membawanya ke rumah sendiri.

Perjanjian Baru mengatakan kepada kita bahwa suatu hari Yesus sedang berbicara di sebuah jemaah di sebuah halaman tertutup, dan, Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia, maka seseorang berkata kepadanya ; lihatlah ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.

Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya ; Siapa ibuku? Dan siapa saudaraku? lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya ; Ini ibuku dan saudara-saudaraku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-ku di sorga, dialah saudaara-saudaraku laki-laki, dialah saudara-saudaraku perempuan, dialah ibu-ku. (Matius:12:46:50)

Ayat di atas membuktikan di balik suatu keraguan bahwa Yesus mengetahui ibu-Nya dan saudara-saudara laki-laki-Nya tidak menerima beliau sebagai Masih yang dijanjikan dan tidak mengikuti ajaran-ajaran-Nya, karena ia mengatakan, Siapa pun yang melakaukan kehendak Bapak-ku ..dialah saudaraku Ini jelas berarti bahwa Maryam dan anak-anaknya yang lain, berdasarkan kesaksian Perjanjian Baru, tidaklah bertindak menurut kehendak Tuhan.
Perjanjian Baru juga mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menolak untuk mengindahkan pendakwaan beliau sebagai Messiah. Mereka mencela Yesus, bahkan ibu, saudara-saudara laki-laki serta saudara-saudar a perempuan beliau sendiri tidak mempercayainya.

Atas hal tersebut Yesus menjawab, Seorang nabi dihormati dimana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarga dan rumahnya. (Markus:6:4)
Tidak hanya menolak untuk menerima-Nya, ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan beliau, mereka sungguh-sungguh menganggap bahwa ada yang salah dengan akal Yesus. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia sudah tak waras lagi. (Markus : 3:21)
Teranglah untuk alasan ini, sebagaimana Perjanjian Baru memberi kesaksian, bahwa perilaku Yesus terhadap mereka cukup kasar dan menunjukan kekesalan. Injil memberitahukan kepada kita bahwa ia secara khusus bersikap kasar terhadap ibu-Nya.

Karena bahkan ketika tengah memegang erat kayu salib, Yesus bertindak sangat tidak sopan kepada ibu-Nya, meskupun ia mengetahui bahwa ibu-Nya begitu bingung dengan kesedihan yang mendalam demi melihat penderitaan puteranya di atas kayu salib.

Ketika Yesus melihatnya berdiri dekat bersama perempuan-perempuan yang lain, dia, menunjuk ke arah Yohanes dan berkata, Perempuan, lihatlah anakmu! Kemudian ia berkata kepada murid-Nya, Lihatlah ibumu! Sikap buruk Yesus kepada Ibu beliau sendiri yang hanya beberapa saat sebelum akhirnya beliau pingsan di atas kayu salib ini membuktikan ia sebagai seorang yang tak mempunyai perasaan dan memiliki sifat pendendam.

Pernyataan ini juga membuktikan bahwa demikian pula Maryam sampai saat-saat terakhir tidak menerima beliau sebagai seorang rasul Tuhan yang dijanjikan.

Hubungan antara sang ibu dengan sang putera -Yesus dan Maryam- sebagaimana disebutkan dalam Injil, dipandang dari segi apa pun tidak dapat dikatakan terjalin dengan ramah dan layak untuk dipuji. Yesus dilukiskan sebagai seorang yang demikian acuh tak acuh terhadap ibu beliau sendiri dan sama sekali tidak memiliki rasa kasih seorang anak. Hal ini disebutkan dalam injil oleh Lukas, Berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya : Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau. Tetapi ia berkata, Yang berbahagia ialah ia yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya. (Lukas : 11:27-28). Ini membuktikan bahwa Yesus tidak membiarkan suatu pujian pun terhadap ibu-Nya , sekalipun secara tidak langsung.

Al-Quran dan Yesus serta Siti Maryam
Kitab suci Al-Quran, di sisi lain menceritakan kepada kita bahwa Yesus adalah seorang yang sangat ramah, seorang putera yang menjalankan kewajibannya secara penuh terhadap ibunya, dan Yesus sangat menyayangi Maryam. Hal ini membuat para pengkaji yang bersungguh-sungguh menjadi ragu dan bertanya-tanya, yang mana di antara kedua keterangan ini yang benar dan dapat diterima? Di satu sisi, Injil mengatakan bahwa malaikat berkata kepada Maryam, Jangan takut Maryam, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. (Lukas : 1 : 30-31)

Bahkan setelah kepastian dari Tuhan ini dan dihadapan fakta bahwa nubuatan tersebut sebagai mana mestinya telah disempurnakan, dan ketidakmungkinan telah dijadikan mungkin di bawah perintah Tuhan, Maryam tetap ragu terhadap pendakwaan puteranya, Yesus. Demikian nyata gambaran tersebut sangat tidak baik.

Sekarang marilah kita memperhatikan apa yang dikatakan Al-Quran tentang Maryam, dalam surat ke tiga kita membaca, Maka Tuhannya telah menerimanya dengan penerimaan yang baik dan menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik . (3:38). Tuhan telah mengabulkan doa yang sungguh-sungguh dari ibu Siti Maryam dan menjadikannya unggul dalam keshalehan dan kebajikan serta membuatnya teguh pada jalan-Nya. Menurut Al-Quran dia dimuliakan secara ruhani. Hai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilih engkau dan mensucikan engkau, dan telah memilih engkau di atas wanita-wanita seluruh alam pada zaman engkau. (3:43).

Al-Quran Karim menegaskan dan menyatakan sebagai fakta bahwa Maryam adalah seorang yang patuh serta teguh, karena statemennya, Hai Maryam! Patuhilah Tuhan engkau dan sujudlah dan sembahlah Tuhan Yang Maha Esa beserta orang-orang yang menyembah Dia. (3:44). Al-Quran menunjukan sebuah kesaksian atas fakta bahwa ibunda Yesus adalah orang yang benar-benar beriman dan dimuliakan secara spiritual diatas perempuan lain pada masanya. Sementara Injil memandang beliau dengan ketidaksenangan karena ia tidak mempercayai firman Tuhan, serta menempatkan Maria yang lain dari Injil pada kedudukan spiritual yang lebih tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.