Sebelas Prinsip Untuk Memahami Al-Qur’an : Pandangan Khalifah Islam Ahmadiyah

Sebelas Prinsip Untuk Memahami Al-Qur’an : Pandangan Khalifah Islam Ahmadiyah

Terjemah oleh : Ataul A’la Agus Mulyana

Seorang ulama non-Ahmadi mengajukan pertanyaan ke hadapan Khalifah Ahmadiyah Ke-2  saat itu (Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra.) melalui sebuah surat mengenai prinsip tafsir Al-Qur’an Karim dan cara-cara untuk memahaminya. Dalam menjawab hal itu, Hudhur ra. menuliskan jawaban sebagai berikut:

“Saya senang sekali setelah mengetahui hasrat anda untuk mengetahui prinsip memahami Al-Qur’an. Prinsip demikian (untuk memahami Al-Qur’an) tidak ada peluang sedikit pun untuk diragukan. Semua perselisihan akan terhapus. Seandainya dapat ditetapkan, maka para sahabat tidak akan berselisih dalam makna ayat-ayat Al-Qur’an Karim. Para imam Islam tidak akan berselisih satu sama lain. Akan tetapi, seandainya maksud anda dari prinsip yang dengan menggunakannya seorang manusia yang mukhlis dan berniat baik akan mengetahui masalah-masalah dasar Al-Qur’an Karim dan mengenai furu’ juga langkahnya akan tegak pada maqam (kedudukan) yang setelah mencapainya di hadapannya tidak terdapat perselisihan yang akan melahirkan kekurangan dalam iman atau menjadi penghalang dalam meraih kedekatan terhadap Allah Taala, maka prinsip demikian sungguh ada dan terbukti dari Al-Qur’an Karim.

Prinsip Pertama dan Kedua

Yang kami ketahui dari Al-Qur’an Karim adalah Al-Qur’an Karim turun dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu, ketika memaknai Al-Qur’an Karim, maka hal ini hendaknya diperhatikan yakni harus sesuai dengan lughat dan idiom bahasa Arab. Seandainya makna yang kita lakukan, itu bertentangan dengan lughat atau idiom bahasa Arab, maka makna seperti ini tidak benar. Jadi, dua prinsip yang harus diketahui adalah pertama, makna Al-Qur’an Karim yang kita lakukan, itu hendaknya tidak bertentangan dengan lughat. Kedua, itu juga hendaknya tidak bertentangan dengan idiom bahasa Arab.

Prinsip Ketiga

Untuk menafsirkan Al-Qur’an Karim, kami mengetahui dari Al-Qur’an Karim bahwa Allah Taala tidak melakukan pekerjaan yang laghaw (sia-sia). Kata Al-Qur’an Karim dan susunan kata-kata Al-Qur’an Karim tidak kosong dari makna. Barangsiapa yang mengatakan suatu kata Al-Qur’an Karim banyak atau menetapkan suatu susunan salah, maka sesungguhnya ia jauh dari kebenaran dan dia tidak memahami makna Al-Qur’an Karim.

Prinsip Keempat

Dari Al-Qur’an Karim mengetahui bahwa dalam Al-Qur’an Karim tidak ada pertentangan. Orang-orang bodoh mengatakan dengan kebodohannya bahwa dalam Kalam Allah Taala hendaknya tidak terdapat banyak pertentangan. Ini adalah pemikiran yang salah. Dalam Kalam Allah Taala sedikit pun tidak terdapat pertentangan. Mereka telah terkecoh dengan kata-kata “banyak pertentangan”. Allah Taala berfirman demikian:

وَ مَا اَنَا بِظَلاَّمٍ لِّلْعَبِيْدِ

Allah Taala bukanlah seorang penganiaya besar atau penganiaya kecil.

Prinsip Kelima

Dari Al-Qur’an Karim kami mengetahui bahwa Allah Taala adalah Wujud Yang Maha Kuasa. Dia bukan mesin. Sebagaimana yang telah dipikirkan oleh para filusuf. Pada saat memahami hakikat pekerjaan-pekerjaanNya, maka semua sifat-Nya hendaknya diperhatikan. Pada saat memaknai Al-Qur’an Karim, seandainya semua sifat-Nya tidak diperhatikan dan hubungannya satu sama lain tidak diperhatikan juga, maka akan terjadi kekeliruan dalam memahami makna Al-Qur’an Karim.

Prinsip Keenam

Al-Qur’an Karim menjelaskan bahwa sebagian ayatnya adalah Muhkamat dan sebagian lagi adalah Mutasyabihat. Hendaknya Mutasyabihat berada di bawah Muhkamat. Orang-orang keliru dalam memaknai Muhkam dan Mutasyabih. Menurut hemat saya, maksud dari Muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya utama dari ayat-ayat lain dan dengan merubahnya akan terjadi perubahan dalam prinsip agama. Jadi, maknanya hanya satu saja. Maksud dari mengatakan satu adalah bukannya makna-makna lain tidak bisa, bahkan maksudnya adalah seberapa banyak makna, itu hanya satu corak saja.

Maksud dari Mutasyabih adalah ayat-ayat yang memiliki dua makna dan satu makna dengan makna yang lain bertentangan. Kedua makna itu tidak dapat diterima dalam satu waktu saja. Dalam waktu demikian terdapat satu perintah, yakni ayat-ayat yang memiliki dua makna tidak dapat diterima dalam satu waktu saja. Itu digabungkan dengan ayat-ayat yang didalamnya terdapat penjelasan mengenai satu topik. Akan tetapi, itu hanya memiliki satu makna saja. Tidak memiliki dua makna yang bertentangan.

Prinsip Ketujuh

Dari Al-Qur’an Karim juga diketahui bahwa Al-Qur’an Karim turun sesuai dengan satu nizam (sistem) yang khusus. Jadi, pada saat memaknainya hendaknya memperhatikan siyaq-0-sabaq (konteks) dan ayat-ayat sebelumnya.

Prinsip Kedelapan

Makna-makna yang Al-Qur’an Karim sendiri jelaskan, itu didahulukan dari semuanya. Di sebagian tempat, Al-Qur’an Karim memaknainya sendiri.

Prinsip Kesembilan

Al-Qur’an Karim menjelaskan kepada kita bahwa salah satu tugas Rasulullah saw adalah:

يُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ

Jadi, makna-makna yang Rasulullah saw sendiri lakukan, itu hendaknya didahulukan dari makna-makna yang lain.

Prinsip Kesepuluh

Dari Al-Qur’an Karim diketahui bahwa mengikuti para tabi’in awal Rasulullah saw sangatlah diperlukan bagi orang-orang muslim yang lain. Jadi, perkataan beliau-beliau ini akan lebih dihormati daripada perkataan orang-orang lain.

Prinsip Kesebelas

Allah Taala dalam Al-Qur’an Karim berfirman bahwa satu zarah dari seluruh alam adalah makhluk. Allah Taala menjelaskan Al-Qur’an Karim sebagai Kalam-Nya. Dalam Kalam dan satu pekerjaan-Nya tidak ada pertentangan. Jadi, makna-makna yang bertentangan dengan pekerjaan Allah Taala, itu tidaklah benar. Bahkan makna-makna yang benar itu sesuai dengan karunia Allah Taala.

Topik ini sangat luas. Akan tetapi, saya memahami bahwa ini sudah mencukupi bagi orang yang memahami.

(Sumber : Alfazal, 25 Nopember 1920)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *