Memahami Amal Dinilai Dari Niatnya

Memahami Amal Dinilai Dari Niatnya

Oleh : Hadhrat Mirza Bashir Ahmad ra.

عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّما لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

‘Alqomah bin Waqqash Al Laitsi menuturkan; aku mendengar Umar bin khattab radliallahu ‘anhu menuturkan; aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. (H.R.Bukhari, No.6195- Kitab Sumpah dan Nadzar)

Penjelasan:

Hadis yang latif ini memancarkan cahaya yang menyinari pokok dasar falsafah amal perbuatan manusia. Ternyata bahwa pekerjaan yang secara lahiriah kelihatan sebagai amal yang baik itu banyak macamnya. Misalnya, beberapa pekerjaan dilakukan karena dorongan adat kebiasaan. Ada pula amal yang dilakukan karena meniru orang lain, beberapa amal lagi dilakukan karena ria dan pamer.

Namun, Yang Mulia Rasulullah ﷺ bersabda bahwa semua amal-amal itu ibarat kebun yang tidak menghasilkan buah, dan tidak ada timbangannya dalam neraca Tuhan.

Adapun amal-amal yang benar ialah yang dilakukan dengan niat yang ikhlas dan irodah yang benar, dan amal-amal yang demikianlah yang patut meraih pahala dari Allah Ta’ala. Sesungguhnya seseorang dalam melakukan sesuatu amal bila hati, lidah, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya tidak bekerja secara terpadu dan selaras, maka amalnya yang demikian tidak artinya.

Apabila hati mengandung niat yang benar dan tulus, kemudian lidah membenarkan niat itu, selanjutnya kaki dan tangan menjadi saksi dengan melakukan amal yang diniatkan itu, barulah amal itu akan dikabulkan oleh-Nya.

Seorang yang kadar ketulusan niatnya rendah, dia adalah seorang munafik. Jika lidahnya tidak memberikan kesaksian atas niat yang terkandung di dalam kalbunya, maka dia adalah seorang pengecut. Dan apabila tangan dan kakinya tidak bekerja secara selaras dengan niat yang diucapkannya, maka dia adalah seorang yang berperangai buruk dan jahat.

Amal yang benar ialah yang disertai niat yang benar pula. Dengan niat yang suci manusia dapat meningkatkan amalan sehari-hari yang bersifat duniawi menjadi ibadah kerohanian yang tinggi nilainya.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa jika seorang suami memasukkan sesuap makanan ke mulut istrinya disebabkan mengikuti kehendak Khalik-nya agar dia mencukupi isterinya dengan bahan makanan dan memperhatikan kemudahan bagi istrinya, maka amalnya ini di sisi Tuhan akan diperlakukan sebagai amal shaleh.

Sungguh patut disesalkan bahwa jutaan manusia di dunia ini menjalankan shalat karena mereka terbiasa sejak masa kanak-kanak. Demikian pula jutaan manusia yang berpuasa karena mengikuti orang yang ada disekeliling mereka. Dan, jutaan orang yang menjalankan ibadah haji agar mereka dapat dikenal sebagai Al-Haj di tengah-tengah masyarakat, dan mereka boleh dianggap sebagai sebagai orang yang sholeh,dan agar perniagaan mereka maju.

Hadis ini, yang disampaikan oleh Yang Mulia Rasulullah ﷺ (semoga hidupku diwakafkan untuk mengkhidmatinya) telah membatalkan semua amalan yang demikian.

Suatu amal yang palsu, bagaimana pun nampak megah, tidak patut meraih pahala dari Allah Ta’ala.

Tidak perlu diragukan lagi amalan yang benar adalah amalan yang di dalamnya mengandung niat yang tulus dan ikhlas, sebab pahala dari amal perbuatan dinilai berdasarkan niatnya.

Catatan :

Dikutip dari: Buku Empat Puluh Permata Hadits, Karya Hadhrat Mirza Bashir Ahmad MA, r.a. Diterjemahkan oleh: Mln.Malik Aziz Ahmad Khan(alm). Ditulis ulang oleh : Abdul Haq Kartono

Leave a Reply

Your email address will not be published.