Kebangkitan Khilafat Islam

Kebangkitan Khilafat Islam

Oleh: Luthfur Rahman Mahmud

Islam bukan hanya satu-satunya agama yang paling cepat perkembangannya melainkan juga merupakan agama kedua terbesar di dunia. Diperkirakan bahwa sekitar 1,3 bilyun muslimin hidup di dunia. Meskipun mempunyai masa lalu yang cemerlang dan satu peradaban yang kaya; ada kekayaan dalam bentuk emas hitam, kedudukan geografi yang menguntungkan dan persekutuan dari 56 pemerintahan, mereka ada dalam keadaan cerai-berai. Banyak kaum muslimin secara tepat mempercayai bahwa kebangkitan Khilafah Rasyidah merupakan obat terbaik bagi keputus asaan mereka yang berakar dalam. Dalam jangka masa 125 tahun, sekitar selusin usaha telah dibuat oleh pribadi-pribadi yang berpengaruh dan kelompok-kelompok kuat untuk menghidupkan kembali ke-khalifah-an, yang gagal atau dalam hal yang berhasil terbukti berumur pendek. Tujuan tulisan ini adalah untuk mencatat seluruh peristiwa dalam sejarah Islam. Saya juga akan menunjukkan sebab kegagalan mereka yang berulang-ulang.

Mahdi Sudan

Sejarah kebangkitan khilafat Islam di masa modern berawal dari seorang Sufi bangsa Sudan, Muhammad Ahmad (1848-1885), yang mendakwakan diri sebagai Mahdi yang ditunggu-tunggu tahun 1881. Tujuan-tujuan pokoknya adalah untuk menyingkirkan pemerintahan Turki-Mesir di Sudan dan memurnikan Islam. Dengan kata lain, Jihad Mahdi itu ditujukan kepada sesama muslim. Benderanya yang menggambarkan dirinya sebagai “Khalifah Nabi Muhammad s.a.w.” juga mengutip bagian ayat Al-Qur’an: Pertolongan Allah itu dekat (2:215).

Pasukan Inggris merampas bendera merah ini tahun 1885. Foto peristiwa sejarah ini dapat dilihat dalam buku William Crompton berjudul, “Flags (Alfred A. Knoph, Ed. 1989, hal. 21).

Pasukan Mahdi itu dikalahkan dalam Pertempuran Omdurman tahun 1898. Abdullahi khalifahnya, beserta pembesar tertinggi tewas bertempur melawan pasukan gabungan Inggris-Mesir di bawah pimpinan Lord Kitchner. Itulah akhir khilafat Mahdi dan diciptakan negeri Islam baru. Sesudah itu Sudan diperintah selama setengah abad oleh penguasa Inggris-Mesir.

Kemunculan Khilafat Baru Dari Tanah Hijaz

Gagasan gerakan Arab menghadapi Khilafat Usmaniah (Ottoman) ditiupkan oleh Lord Kitchner (yang kemudian menjadi Komisioner Tinggi Inggris untuk Mesir) tahun 1914, yang sampai kepada Husain, Syarif (Penguasa) Makkah, bahwa dalam hal gerakan yang berhasil, Sang Syarif tidak hanya dijadikan “Raja Tanah Arab” tapi juga Khalifah. Lord Kitchner secara khusus menekankan poin khilafat: “Adalah mungkin bahwa seorang Arab dari ras sejati akan memangku khilafat di Makkah atau Madinah, dan juga kebaikan mungkin datang dengan pertolongan Tuhan keluar dari segala keburukan yang kini sedang berlangsung.” (Foreign Office Papers, 371/1978-87396, rujukan dalam buku F. E. Peters, Mecca, Princeton University Press, Ed. 1994, p. 381).

Tampak bahwa selama dia tinggal di Kairo, Lord Kitchner menjadi tahu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hadhrat Jabir bin Samurah r.a. mengenai dua belas khalifah Quraisy (Misykat, Kitabul Manaqib). Dalam Surat Kitchner “An Arab of true race” (seorang Arab dari ras sejati) adalah merujuk pada Syarif Makkah, yang merupakan keturunan langsung dari Rasulullah (s.a.w), berasal dari Bani Hasyim dan “evil” (keburukan) dia maksudkan penguasaan Usmaniah atas tanah Hijaz dan Arab. Keluarga Syarif, dengan sokongan dari Pemerintah Inggris, “membebaskan” Hijaz, Palestina, Syiria dan Irak, sesudah mengalahkan Turki yang berpihak dengan Jerman, yang kalah di Perang Dunia I.

Sang Pemenang memberi imbalan kepada keluarga Syarif. Husain diterima sebagai Raja Hijaz. Abdullah putranya diangkat sebagai penguasa di Trans-Yordania. Faisal putranya yang lain diberi tahta Syiria yang kemudian menjadi Raja Iraq. Raja Husain dinyatakan sebagai Khalifah segera sesudah runtuhnya Khilafat Usmaniah pada 3 Maret 1924. Rakyat Hijaz, Trans-Yordania, dan Irak menyatakan kesetiaan mereka kepadanya. Bahkan Wahiduddin Khalifah Usmaniah yang diberhentikan, menerima Raja Husain sebagai Khalifah baru. Tapi Khilafat baru ini tidak berlangsung lama. Inggris juga mengangkat satu kekuatan lain, Keluarga Sa’ud. Pasukan Sa’udi menang dan menguasai kota-kota besar di Hijaz. Menyadari penguasaan ini Raja Husain turun tahta menyerahkannya kepada Ali putranya dan melarikan diri dari Hijaz pada 14 Oktober 1924.

Ali juga mengikuti jejaknya dan pemerintahan keluarga Syarif yang berumur seribu tahun ini berakhir. Malangnya Khilafat Hijazi, yang diciptakan sebagai pengganti Khilafat Usmaniah, dapat bertahan hanya beberapa bulan. Penting dicatat bahwa Khalifah Hasyimi yang baru itu menasihati umat Muslim pada 11 Maret 1924, secara mengesankan tercatat: “Hal itu bukanlah kebaikan dari Islam untuk tetap tanpa seorang khalifah selama lebih dari 3 hari.” (Mecca, F. E. Peters, Princeton University Press, Ed. 1994, p. 380) Ironisnya umat telah berada tanpa keberkatan itu selama lebih dari 80 tahun.

Gerakan Khilafat Di India

Perkembangan penting lainnya adalah Gerakan Khilafat, yang diluncurkan oleh Kaum Muslimin India dalam mendukung Khilafat Usmaniah. Pada titik ini sebuah jalur kecil sejarah terbuka. Tiga tahun sesudah runtuhnya Khilafat Abbasiah di Baghdad oleh bangsa Mongol tahun 1258, Pangeran Ahmad tiba di Kairo sesudah melarikan diri dari tahanan Mongol. Sultan Mesir menghidupkan kembali Khilafat Abbasiah di Kairo. Kekuasaan sebenarnya ada di tangan Sultan tapi khilafat berlanjut hingga penaklukan Mesir oleh Usmaniah tahun 1570. Khalifah terakhir, Wathiq secara suka rela turun tahta menyerahkan kepada Sultan Salim dari Usmaniah dan menyerahkan lambang resmi khilafat yakni bendera, pedang, jubah Nabi Suci (s.a.w) dan kunci-kunci tempat suci Makkah dan Madinah. Itu merupakan lanjutan dari dinasti lain khalifah-khalifah Usmaniah. Keturunan-keturunan Salim tetap memerintah selama lebih dari 400 tahun.

Kekuasaan Usmaniah kalah dalam Perang Dunia I menandakan keruntuhan politik untuk Turki dan khilafatnya. Ali bersaudara yang termasyhur meluncurkan gerakan tahun 1919 untuk menggerakkan kaum muslimin India untuk menekan pemerintahan Inggris sebagai maksud menyokong Khilafat Usmaniah, yang dalam bahaya. Tujuan lain adalah untuk menyalurkan bantuan keuangan kepada Turki. Gerakan ini secara aktif berjalan hingga tahun 1925.

Menarik untuk dicatat bahwa Mahatma Gandhi bukan hanya mengabsahkannya tapi juga memberi sokongan penuh kepada Khilafat Usmaniah. Stanley Wolpert memberi alasan untuk kepentingan Gandhi dalam masalah agama yang peka di kalangan kaum muslimin. Dia menulis: “Gandhi pertama kali meluncurkan keseluruh bangsa [gerakan] Satyagraha pada Agustus 1920. Dia menyeru orang-orang India di mana saja untuk memboikot barang-barang Inggris, sekolah-sekolah Inggris, gelar-gelar Inggris, kerja-kerja Inggris, pendeknya menarik sokongan bangsa India secara luas, mengancam Mesin Kerajaan hingga runtuh. Dia berusaha memenangkan masyarakat Muslim India juga Hindu ke pihaknya, dengan mengambil tuntutan pan-Islami menyusul kekalahan Khilafat Turki sebagai langkah pertama dalam gerakannya sendiri,” (India, University of California Press, Ed. 1991, pp. 63, 64).

Mahatma Gandhi dapat mengambil keuntungan maksimum dari ikatannya dengan Gerakan Khilafat. Hadhrat Muhammad Zafrullah Khan (r.a.) mencatat secara seimbang: “Itu merupakan gerakan yang sangat cerdik di pihak Gandhi untuk memenangkan Ali bersaudara kepada Kongres dengan pernyataan simpati terhadap gerakan khilafat.” (The Reminiscences of Sir Muhammad Zafrulla Khan, Oriental Publications, Ed. 2004, p. 7).

Ketika kaum muslimin India secara bersemangat menghasut dan berkorban dalam menyokong Khilafat Usmaniah, parlemen Turki membatalkannya pada 3 Maret 1924. Tindakan itu menghancurkan Gerakan Khilafat: “Penolakan khilafat oleh pemimpin sekuler Turki yang baru, Kamal Ataturk, menggagalkan Gerakan Khilafat.” (India, The American University, Washington D. C., p. 58).

Kebangkitan Dan Kejatuhan Bacha-i-Saqao

Raja Afghan Amanullah Khan (yang adalah penguasa tak beruntung, seorang Ahmadi yang tak bersalah Maulwi Ni’matullah dirajam sampai mati tahun 1924) sesudah berkunjung ke luar negeri mencoba memperkenalkan pembaharuan berjangkauan luas dengan pandangan untuk memodernisasi Afghanistan tapi usahanya gagal dan rakyat berbalik melawannya. Amir Amanullah Khan dipaksa turun tahta digantikan saudaranya Inayatullah Khan, yang juga turun tahta. Itulah akhir dari dinasti yang zalim. Seorang prajurit bergelar sebagai Bacha-i-Saqao (Putra pembawa air) mengambil keuntungan dari suasana kacau ini. Dia memimpin revolusi dan menguasai Kabul pada Januari 1929. Amanullah Khan terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan hidupnya (raja pelarian ini meninggal di Roma tahun 1960).

Bacha-i-Saqao menyatakan dirinya khalifah dan menyatakan pemerintahannya sebagai “Amirul Mu’minin Habibullah Khan II.” Gelar barunya itu merupakan daya tarik besar. Stephen Tanner, dalam bukunya, “Afghanistan – A Military History from Alexander The Great to the fall of Taliban (De Capo Press New York, Ed. 2002)” menulis bahwa Bacha-i-Saqao “lebih merupakan seorang raja perampok dari pada seorang kepala suku” tapi “ratusan penempur dari penjuru negeri bergabung dalam ikatannya.” (hal. 222).

Bacha-i-Saqao dalam pemerintahannya menggantikan semua pembaharuan yang diperkenalkan oleh para penguasa sebelumnya. Dia mengangkat para mullah (ulama) dan pendekatan keras mereka dalam masalah-masalah wanita, pernikahan, sekolah, dan lembaga kebudayaan seperti perpustakaan dan museum. Untuk rinciannya silakan baca buku Magnus and Naby, berjudul, Afghanistan – Mullah, Marx and Mujahid, (Westview Press, New York, Ed. 1998, hal. 42, 43)

Bacha-i-Saqao disingkirkan oleh Nadir Khan (bapak Raja Zahir Syah) pada Oktober 1929. Dia digantung bersama dengan 16 tokoh lain dari rezimnya. Pernyataan dirinya sebagai khalifah berakhir dengan kekerasan hanya selama sembilan bulan. Namanya yang sebenarnya adalah misteri sampai waktu ini.

Harapan Kerajaan Tuhan Di Mesir

Khilafat sebagai sebuah lembaga telah ada selama berabad-abad di Mesir. Abbasiah dan Fatimiah telah memerintah tempat lahir peradaban ini ketika menetap di Mesir. Paman Raja Faruq, Husain Kamil, raja ke delapan dari dinasti Muhammad Ali, telah menyajikan gagasan pemikiran gelar khalifah Islamiyah. Ketika pemerintah asing Inggris mengangkat Husain Syarif Makkah untuk jabatan kuasa itu, Husain Kamil mengemukakan namanya sebagai yang lebih berhak atas jabatan itu, tapi pemerintah Inggris menghinanya. F. E. Peters dalam bukunya, Mecca, menulis: “Husain Kamil telah diperingatkan oleh pemerintah Raja [Inggris] bahwa dia tidak dibenarkan mendambakan kedudukan itu.” (hal. 381). Juga boleh dicatat bahwa langkah itu telah diambil pada Maret 1917. Empat puluh tahun kemudian, beberapa cendekiawan, ahli politik dan wartawan menganggap Raja Faruq sebagai lambang pan-Islam. Saya secara jelas ingat bahwa pada tahun 1950-an Harian Zamindar Lahore menyiarkan satu masalah istimewa dengan gambar Raja Faruq di halaman depan sebagai Juru Selamat Umat Islam. Raja Faruq terbukti sebagai raja Mesir terakhir sebab dia tersingkir dalam perebutan kekuasaan militer, disusul dengan penghapusan kerajaan.

Kerajaan Harapan Yang Lain

Raja Faisal, raja ketiga dari keluarga Sa’ud, yang memerintah dari 1964-1975, menikmati gengsi besar dalam dunia Islam. Dialah yang pertama menggunakan senjata embargo minyak dan secara berhasil menanamkan pengaruhnya pada politik internasional. Nasser, Qaddafi dan beberapa pemimpin Arab lainnya tidak menyukai kemunculannya. Bagaimanapun pemimpin-pemimpin seperti Z. A. Bhutto dan Idi Amin merupakan pengagum-pengagum besarnya yang ingin melihatnya diangkat sebagai khalifah umat muslimin. Atas saran Raja Faisal dan dengan bantuan keuangan serta sokongan moralnya, sebuah konferensi kepala-kepala Negara dan pemerintah Islam diselenggarakan pada Pebruari 1972 di Lahore, Pakistan. Tn. Bhutto yang ada dalam semangat tinggi menyatakan dalam peristiwa itu: “Tentara Pakistan adalah tentara Islam. Kita akan memasuki Yerusalem sebagai bersaudara dalam pasukan.” (Kingdom – Arabia and House of Saud, Robert Lacey, Ed. 1981, p. 419).

Iain Adamson memberi rincian pertemuan Lahore dalam bukunya, Man of God: “Idi Amin, diktator setengah gila Uganda mengusulkan agar Faisal dari Saudi Arabia hendaklah diangkat sebagai khalifah dunia Islam, tapi usulannya secara sangat hati-hati disiapkan oleh penyokong-penyokong Saudi-nya, jatuh ke atas tanah berbatu. Ada terlampau banyak perbedaan politik di kalangan banyak Negara maka tidak ada satu persetujuan untuk sesuatu pun yang dicapai sejauh ini.” (Man of God, George Shepherd Publishers, Ed. 1990, p. 86).

Sayangnya, Raja Faisal tidak dapat terpilih sebagai khalifah umat muslimin. Dia mempunyai segala persyaratan ditambah dengan gelar yang paling bergengsi Penjaga Dua Tanah Suci tapi tak dapat menambah lebih banyak dambaannya sesuai perkiraannya. Dua tahun kemudian, Bhutto menyatakan orang-orang Ahmadi, yang adalah satu-satunya golongan Muslim yang diberkati dengan lembaga khilafat, sebagai bukan Muslim. Raja Faisal dibunuh oleh keponakannya Faisal bin Musaid ketika raja akan menjumpai seorang perwakilan Kuwait. Itu terjadi tanggal 25 Maret 1975.

Gerakan Presiden Numerie Untuk Meraih Khilafat

Sesudah kekalahan pasukan Mahdi tahun 1899, gabungan Inggris-Mesir memerintah Sudan selama hampir enam puluh tahun. Sudan, akhirnya, memperoleh kemerdekaan tahun 1956, tujuh puluh satu tahun sesudah meninggalnya orang yang disebut Mahdi itu.

Ja’far Numerie menyingkirkan pemerintahan parlementer dalam suatu perebutan kuasa militer pada 25 Mei 1969. Kemudian Numerie menghapus semua partai politik dan Sudan dinyatakan sebagai negeri Sosialis. Atas dasar ini kaum komunis Sudan menyokong Numerie tapi kemudian berusaha menyingkirkannya. Perebutan kuasa gagal dan Numerie menghancurkan mereka. Sesudah itu dia memperkenalkan satu undang-undang baru menjadikan Sudan negeri satu partai politik. Suasana politik memaksa Numerie berbalik arah. Dia merangkul unsur-unsur agama dan fundamentalis. Tahun 1983, mantan sosialis ini memutuskan untuk memperkenalkan syariat, yang juga berlaku untuk kaum Kristen di selatan Sudan. Dia berharap bahwa melalui Islamisasi, dia dapat dengan mudah memperpanjang kekuasaan dan juga merintis jalannya menjadi “Imam Sudan”, istilah dia untuk “Khalifah”.

Bagian Selatan memberontak melawannya, mulailah keberatan umum terhadap kebijakan-kebijakan kerasnya. Jendral Siwar Al-Dahab, komandan pasukan tentara, menyingkirkan Numerie dalam perebutan kuasa tahun 1985. Dia mengungsi ke Mesir dan akhirnya kembali ke Sudan untuk menghabiskan hari-hari terakhirnya, tentu bukan sebagai “Imam Sudan”. Sudan merupakan tanah perebutan kuasa militer. Ada lagi perebutan kuasa yang lain tahun 1989, tapi keadaan Numerie yang menyedihkan tetap tak berubah. (Untuk lebih rinci silakan lihat the Encyclopedia of Africa – South of the Sahara, John Middleton, vol. 4, Ed. 1997, Simon Schuster Mac Millan, New York, pp. 172-173).

Islamisasi Jendral Zia

Mungkin calon khilafat Islam yang paling tak bernilai adalah Jendral Ziaul Haq. Dia akan tetap diingat oleh para ahli sejarah karena kebijakan-kebijakannya yang keliru, yang memberikan Pakistan jutaan pecandu narkoba, budaya Kalashnikov (senjata api), lingkaran kebencian antar golongan, dan pemanfaatan Islam untuk tujuan-tujuan politik. Dia mendapat kekuasaan dalam kudeta tahun 1979 dan memerintah Pakistan dengan tangan besi. Dia memulai proses Islamisasi dan memperkenalkan pengumpulan paksa zakat dan sedekah, dan pengawasan kewajiban shalat di lingkungan resmi. Sewaktu-waktu, dia disapa oleh para pengagumnya “Amirul Mu’minin”. Hal itu membuat dia berani untuk membidani sebuah hasrat untuk [menjadi] khilafat. Dia membenci kelompok Ahmadiyah dan menilai Jama’at sebagai “kanker” dan menetapkan pada 26 April 1984, Ordonansi XX untuk memberinya jalan bagi kedengkiannya yang mendalam. Dia sedang terbang tinggi ketika dia secara tiba-tiba mati dalam kecelakaan pesawat yang misterius pada 17 Agustus 1988, dekat Bahawalpur.

Jendral Zia mempunyai persamaan dengan Ja’far Numerie dalam beberapa segi. Keduanya adalah prajurit yang mendapat kekuasaan sesudah perebutan kuasa militer, memanfaatkan Islam untuk tujuan-tujuan politik, dan merangkul golongan-golongan agama dalam langkahnya. Kedua-duanya berkuasa selama bertahun-tahun melalui manuver politik. Walaupun mempunyai kuasa dan sokongan dari pemuka-pemuka agama, kedua orang ini gagal untuk meraih mahkota khilafat.

Fenomena Taliban

Sesudah perang Afghan berturut-turut (1978-1992), perang oleh Mujahidin Afghan dan penyokong-penyokong mereka, Russia dihalau keluar dari Afghanistan, tapi perang untuk berebut kuasa melanda negeri menuju perang saudara. Kemudian Taliban, mengambil keuntungan dari suasana itu, menguasai Kabul dan menguatkan kekuasaan pada lingkup yang besar dari perang yang membelah negeri. Mereka memulihkan keamanan tapi bandul berayun ke arah berlawanan ketika mereka memulai pelaksanaan ideologi mereka atas nama Islam. Stephen Turner memberikan kata-kata berikut untuk intisari hukum Taliban: “Para wanita dibuat tak dikenal, dilarang bekerja atau belajar. Keadilan dilaksanakan dengan memotong tangan, telinga atau kepala orang tergantung pada kejahatannya. Perajaman umum merupakan penyelesaian untuk zina. Televisi, musik, fotografi, bersiul dan menerbangkan layang-layang semua dilarang. Para wanita akan dipukul jika mereka memperlihatkan lengan atau memakai kaos kaki putih, manakala jendela-jendela di rumah mereka diharap agar dihitamkan. Taliban benar-benar menegakkan aturan di sebagian besar negeri, tapi itu merupakan bentuk abad pertengahan (masa kegelapan).” (Afghanistan – A Military History from Alexander the Great to the Fall of Taliban, De Capo Press New York, Ed. 2002, p. 284).

Perbuatan-perbuatan berlebihan di atas dilakukan oleh Taliban, menjadi berita utama dalam media internasional. Kemurnian asli dan hakiki Islam sedang dicoreng  di dunia, tapi surat kabar Jihadi di Pakistan mula-mula memberi gelar “Amirul Mu’minin” kepada Mullah Umar, yang kadang-kadang mengenakan jubah yang dipercaya telah dipakai Nabi Suci (s.a.w) dengan pandangan untuk memikat kewenangannya. Para penyokong kebangkitan khilafat yang bersemangat mulai membandingkan Mullah Umar dengan Hadhrat Umar r.a. dengan penekanan pada kesederhanaan, kesalehan, kesungguhan dan integritas ulama itu pada keadilan Islam. Sesudah kejatuhan Taliban, terungkap bahwa bahkan sapi-sapi, kambing-kambing dan domba-domba Mullah Umar biasa hidup VIP (mewah) di dalam Istana Kandahar, dilengkapi dengan AC dan kasur berlapis. (Sesudah hal itu terungkap para penggemar bangsa Pakistan-nya mengemukakan penjelasan bahwa perlengkapan itu disiapkan oleh Usamah bin Laden untuk tamu terhormatnya). Patut dicatat bahwa mesin propaganda kaum Jihadi tanpa kenal lelah telah menyebarkan cerita bahwa mullah (ulama) itu tidur di atas tikar seperti sopirnya.

Mullah Umar melarikan diri dari Kabul dan mengambil napas beristirahat di Kandahar. Diumumkan bahwa Kandahar tidak akan jatuh hingga hari kiamat, tapi hari menakutkan tiba hanya tujuh hari sesudah itu. Sang mullah dalam pelarian sejak itu dan rezimnya menantikan penghakiman sejarah yang keras. Taliban telah melakukan satu penghancuran yang tak dapat diperbaiki terhadap Islam. Afghanistan-nya Khilafat Mullah Umar telah digambarkan, secara ringkas, oleh Marshal Ewans (seorang pejabat di British Foreign Service dengan tinggal di Afghanistan, Pakistan dan India) dalam bukunya tentang Afghanistan:

Adalah tak menjadi satu kebetulan bahwa Afghanistan, yang mungkin lebih parah dari pada suatu negeri lain di bumi ini, juga telah menjadi tempat teroris global yang mengancam.” (Afghanistan, A Short History of its people and politic, Harper Collins Publishers, Ed. 2002, p.214).

“Khilafat” Mullah Umar hanya ada di surat-surat kabar pro-Taliban Pakistan. Rezim Taliban hanya diakui oleh tiga Negara – Pakistan, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab. Singkatnya sebelum kejatuhan Taliban, negara-negara ini buru-buru menarik pengakuan mereka dan mullah itu harus menanggung akibatnya sendiri.

Dr. Israr Ahmad

Dr. Israr Ahmad adalah pengacara yang paling vokal dari kebangkitan khilafat Islam. Dia mendirikan Tanzim-e-Islami tahun 1975 dan meluncurkan Tahrik-e-Khilafat (Gerakan Khilafat)-nya sendiri tahun 1991. Dia percaya bahwa Pakistan merupakan bagian dari rencana Ilahi yang ditakdirkan untuk kebangkitan kembali Khilafat Islam. Hal itu menimbulkan persoalan yang sangat serius. Jika dakwaan itu benar, maka apa kedudukan para mullah (ulama) yang secara berapi-api menentang Gerakan Pakistan dan menyebutnya “Palidistan” (Tanah Kotor), dan mencap pemimpinnya, Qaid-i-Azam, sebagai Kafir-e-Azam (Kafir Besar)?

Dr. Israr Ahmad telah menulis 60 buku dan selebaran dan dihormati sebagai ahli tafsir Kitab Suci Al-Qur’an terkemuka. Dr. Sahib sedang mengalihkan kedudukan dengan homat untuk perwujudan impian khilafat. Dengan kedatangan Taliban di Afghanistan, Dr. Israr berharap bahwa Taliban akan meratakan jalan bagi khilafat Islam. Sesudah kekalahan mereka, Bangladesh menjadi pusat harapannya. Dia beralasan bahwa Muslim Bangladesh, yang berasal dari etnis yang sama, berbicara bahasa yang sama (Bengali) dan mengamalkan fiqih yang sama (Hanafi) menjadi kelompok yang solid untuk tersebarnya Khilafat Islamiyah.

Itulah seorang pemimpin Muslim Bengali yang mengemukakan resolusi Pakistan tahun 1940, yang ditakdirkan menjadi kenyataan tahun 1947. Dalam masa kurang dari 25 tahun, Muslim Bangali terpisah dari Pakistan dan mengubur teori dua bangsa termasyhur yang hidup. Meskipun harapan besar dan doa sungguh-sungguh dari Dr. Israr, dengan perubahan geografi dan iklim antar bangsa yang berbeda, golongan demokratik Bangladesh tidak akan membiarkan segolongan kecil ekstrimis keagamaan untuk membajak Negara itu atas nama sebuah slogan.

Dr. Israr menganggap dirinya sendiri sebagai orang yang layak untuk menduduki jabatan khilafat Islamiyah. Dia pada suatu kali secara bersemangat mengadakan perjalanan ke Inggris untuk menerima bai’at dari orang-orang yang percaya kepadanya tapi sayang mimpi itu tidak dapat terpenuhi. Dr. Sahib adalah seorang penggemar berat dari ahli filsafat penyair Sir Muhammad Iqbal yang memandang kemungkinan khilafat Islamiyah di masa mendatang dari umat Islam dalam wujud pergiliran kepemimpinan dari persekutuan negeri-negeri Islam. Cendekiawan terpelajar akan memperoleh beberapa hal yang menarik hati dari hipotesa itu. Saya berharap beliau berumur panjang tapi saya mempunyai firasat bahawa akhir harapan beliau sebenarnya adalah harapan yang kosong.

Khilafat Di Bumi Inggris

            Nabi Suci Muhammad s.a.w. telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an untuk bermusyawarah dengan para sahabat beliau dalam masalah-masalah penting (3:160). Para khalifah beliau sepanjang pemerintahan mereka yang beberkat (632-661 M) mendapat manfaat dari badan penasihat (42:25). Islam menerima demokrasi tapi menekankan [pula] pada ketakwaan dan kesalehan orang-orang untuk memastikan sistem demokrasi yang benar-benar sehat dan bermanfaat. Ketika kritik-kritik anti-Islam secara terbuka mencuat, bahwa Islam bertentangan dengan demokrasi, kaum muslimin protes dan secara keras menolak pernyataan itu. Tapi pada pemilihan umum Inggris yang diadakan 5 Mei 2005, kaum muslimin yang berasal dari Hizbut Tahrir, Al-Muhajirun, dan Gerakan Khilafat, secara terbuka mengutuk demokrasi sebagai lembaga yang tak Islami dan menyerukan bahwa kaum muslimin hendaknya tidak memberikan suara mereka, bahkan mereka hendaknya berusaha untuk mendirikan khilafat, yang menurut mereka merupakan satu-satunya system pemerintahan yang dapat diterima. Mereka percaya bahwa seluruh penduduk muslimin di dunia hendaklah dipimpin oleh seorang khalifah. Ditekankan bahwa memberikan suara akan membuat mereka kafir. Di beberapa tempat pemungutan suara mereka berusaha untuk mengacaukan pemilihan. (Pakistan Times U.S.A. (Urdu) May 21st, 2005 page 7).

           Hampir seluruh kaum muslimin yang tinggal di Inggris (sekitar 1,7 juta) menolak seruan ini dan para pemilih muslim menggunakan hak pilih mereka. Itulah akhir yang mengecewakan untuk gerakan penyokong khilafat di Inggris.

Sebab Kegagalan

            Semua orang agamis yang bersemangat, raja-raja, pangeran-pangeran, pemimpin politik, kepala Negara dan pemerintahan, jendral yang menjabat dan purnawirawan, ulama dan cendekiawan, organisasi dan kelompok agama, yang berusaha menghidupkan kembali khilafat Islamiyah termasuk pendukung-pendukung dari Hindu dan Kristen, gagal untuk meraih tujuan mulia itu. Para pribadi dan organisasi ini telah mengadakan usaha-usaha yang sungguh-sungguh di berbagai bagian dunia pada waktu-waktu yang berbeda, tanpa keberhasilan. Timbul pertanyaan apa penyebab bencana ini, yang menyebar lebih dari seabad?

            Hadits Nabi Suci Muhammad s.a.w. berikut ini menjawab pertanyaan itu. “Hadhrat Hudzaifah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Suci Muhammad s.a.w. bersabda: “Kenabian akan tinggal beserta kalian selama Allah menghendaki, kemudian khilafat yang mengikuti kenabian akan ada beserta kalian selama Allah menghendaki, sesudah itu kerajaan akan bermula dan akan berlanjut selama Allah menghendaki, lalu kerajaan yang zalim akan berlaku dan akan berlanjut selama Allah menghendaki. Sesudah itu akan ada khilafat yang mengikuti kenabian.” Sesudah itu Rasulullah s.a.w. berdiam diri.” (Musnad Ahmad, Jil. 4, hal. 273, Darul Fikr Beirut, Lebanon. Misykat Babul Inzaar wat Tanzir).

Hadits di atas secara jelas merujuk pada jenis-jenis pemimpin dan penguasa dari umat Islam berikut ini, sesudah Rasulullah s.a.w.:

1). Khulafaur Rasyidin.

2). Raja-raja dan kerajaan.

3).Dinasti penguasa dalam wujud tirani.

4).Kebangkitan kembali Khilafat dengan kedatangan seorang utusan/penerima wahyu     Ilahi/Muslih Rabbani.

Sejarah Islam yang sahih membuktikan kandungan hadits di atas sepenuhnya. Data para Khalifah dan Raja serta Dinasti penguasa umat ini diberikan dalam tabel berikut ini( Penguasa kedaerahan tidak dimasukkan):

Jenis KepemimpinanJarak MasaJumlah Khalifah / Raja / Penguasa
Khulafaur Rasyidin632 – 661 M                4
Pemerintah Dinasti Umayah  di Damaskus661 – 750 M               14
Pemerintah Dinasti Abbasiah di Baghdad750 – 1258 M               37
Pemerintah Dinasti Abbasiah di Kairo1261 – 1517 M               18
Pemerintah Dinasti Usmaniah1517 – 1924 M               36
Dinasti yang bersamaan dengan Khilafat Abbasiah  
Dinasti Umayah di Spanyol756 – 1031 M               16
Dinasti Fatimiah di Mesir909 – 1171 M                14

      Jumlah keseluruhan Khalifah/Raja/Penguasa : 139.

Secara keseluruhan, para penguasa Dinasti Umayah, kecuali Yazid, Abdul Malik dan Walid, tidaklah buruk. Mereka melakukan banyak hal untuk pengembangan tapal batas negeri Islam dan konsolidasi Internasional. Beberapa ahli sejarah telah merujuk kepada Hadhrat Umar bin Abdul Aziz r.h., Mujaddid abad pertama Islam sebagai “Khalifah Rasyid” ke lima.

Dinasti Abbasiah menghasilkan 55 penguasa. Sebagian dari mereka adalah saleh dan takut kepada Tuhan, tapi banyak yang bersalah melakukan penumpahan darah, zalim dan tirani. Sejumlah besar Ulama saleh dan imam-imam  dihinakan, dipenjarakan bahkan dibunuh karena perbedaan pendapat dengan raja-raja yang takabur. Penguasa-penguasa itu sendiri tidak kebal dari intrik-intrik kekuasaan, pemberontakan, persaingan-persaingan kepentingan  dan politik. Tujuh raja Abbasiah diturunkan dari tahta, tiga dibutakan, dan lima dibunuh. Itu merupakan satu bukti keadaan huru-hara yang mencukupi yang dinubuatkan dalam hadits. Keadaan menyedihkan dari dinasti lain yang ada  bersamaan atau mengikutinya adalah tidak berbeda. Dari tiga puluh enam penguasa Usmaniah, satu digantung, dua dibunuh, tujuh dilengserkan dan tiga dipaksa turun tahta digantikan penguasa lain. Penguasa Usmaniah ke lima memerintahkan  untuk membunuh saudaranya untuk kestabilan politik. Sesudah itu pembunuhan atau pemenjaraan saudara oleh penguasa menjadi kebiasaan.

Khilafat Ahmadiyah

Bagian akhir dari hadits di atas merujuk pada kedatangan Hadhrat  Mirza Ghulam Ahmad, Al-Masih Al-Mau’ud dan Mahdi a.s dan sesudah itu adalah awal era baru khilafat. Peristiwa ini terjadi pada 27 Mei 1908 ketika orang-orang yang beriman secara sepenuh hati mengadakan sumpah setia di tangan Hadhrat Maulana Nuruddin r.a., seorang keturunan dari Hadhrat Umar bin Khatab r.a. Kejayaan masa depan Islam kini terikat pada Khilafat Ahmadiyah.

Segi lain yang penting dicatat. Para penentang Jama’at Ahmadiyah dari kalangan ulama, raja, pangeran, jendral tentara, kepala Negara, pemimpin politik, organisasi, media, telah berusaha semampu mereka untuk menghancurkan Khilafat Ahmadiyah tapi sejauh ini telah gagal secara menyedihkan. Keadaan ini dapat menjadi pembuka mata untuk semua pencari kebenaran. Hadhrat Khalifatul Masih IV r.h., dalam khutbah jum’at yang kedua sesudah beliau menduduki jabatan khilafat meyakinkan kepada Jama’at bahwa, Insya Allah, Khilafat Ahmadiyah akan berlanjut tanpa rintangan dan halangan paling sedikit selama seribu tahun. Menurut nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Islam pasti bangkit sebagai satu kekuatan yang dominan dalam masa tiga abad sejak pengumuman nubuatan itu. Kita secara berhasil telah menjalani abad pertama. Sisa dua abad lagi akan membawa banyak kejutan yang menggembirakan. Kita yakin pada takdir kita. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menyampaikan kepada kita: “Qazai aasman ast in baher haalat syawad peda” Itu adalah ketetapan Ilahi, ditetapkan untuk terwujud, bagaimanapun juga ( Insya Allah).

      Sumber: Ahmadiyya Gazette USA, May – June 2005, hal 30-39. Terjemahan: Muharim Awaludin       

Leave a Reply

Your email address will not be published.