Kenangan Emas Bersama Khalifah Ahmadiyah   Ke-II Bag. 2

Kenangan Emas Bersama Khalifah Ahmadiyah Ke-II Bag. 2

(Dalam riwayat ini, “Hadhrat Amma Jan” berarti adalah istri suci dari Hadhrat Masih Mau’ud(a.s.)).

Sesudah catatan-catatan pengantar ini, saya mengawali riwayat saya mengenai kehidupan dari Hadhrat Mushlih Mau’ud(r.a.) dan memohon Allah Ta’ala untuk menolong dalam upaya kecintaan ini.

Sesudah peristiwa duka cita kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud(a.s.), Hadhrat Ummul Mu’minin(r.a.) menjadi jarang berhubungan dengan orang lain dan sering kali tinggal diam dan gundah. Tiga putra dan dua putri beliau berupaya untuk menghibur beliau dengan cara mereka sendiri. Tapi itu tidak membawa hasil yang diharapkan. Putra tertua beliau, Hadhrat Sahibzada Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad membuktikan keadaan beliau yang ‘amat cerdas dan pengertian’ seperti tersebut dalam nubuwatan mengenai beliau. (Ini terjadi di masa Hadhrat Khalifatul Masih I(r.a.) tapi saya tidak begitu pasti mengenainya). Beliau membawa putra tertua beliau, Sahibzada Mirza Nasir Ahmad(r.h.), yang pada masa itu baru berusia enam atau tujuh tahun dan pergi ke rumah ibunda beliau. Di sana beliau menuntun putra beliau dan menyerahkannya dengan tangan sendiri ke tangan ibunda terkasih beliau dengan mengatakan, “Sejak hari ini, dia adalah putra ibu dan akan tetap beserta ibu.” Sesudah menyerahkan putra beliau sendiri kepada Hadhrat Amma Jan, beliau kembali ke rumah.

Ini bukan rahasia bahwa seorang anak dalam usia amat muda itu memerlukan banyak waktu dan asuhan dari orang tuanya. Makanannya, pakaiannya, penjagaan kebersihannya, mandinya dan pendidikannya menuntut banyak waktu dari ibunya. Ibu itu melupakan dirinya sendiri dan secara mendalam larut untuk mengasuh anak. Begitu juga kejadian di sini. Hal itu membawa hasil yang diharapkan. Pembawaan beliau yang sedih secara perlahan berkurang dan beliau secara bertahap mulai tetap ceria.

Kini apa yang ingin saya tuliskan mungkin menimbulkan beberapa pertanyaan dalam pikiran orang-orang tertentu yang saya tidak ingin menjawab di sini. Sejauh yang saya ingat bahwa sesudah tahun 1924, bapak saya membawa saya berserta beliau pada sebagian besar perjalanan-perjalanan beliau. Di Qadian, saya sudah tinggal dengan beliau tapi bersama dengan beliau dalam perjalanan-perjalanan menjadi satu sumber lain bagi pendidikan saya. Inilah sebabnya bahwa saya dapat menceritakan beberapa peristiwa yang tidak tertulis hingga kini.

 Kini, abang saya berada dalam asuhan Hadhrat Amma Jan(r.a.). Di antara anak-anak lainnya, sesudah kakak perempuan saya, saya adalah yang tertua di rumah saya. Itu merupakan keberuntungan baik saya bahwa tepat sejak saya kanak-kanak saya menjadi berada di bawah asuhan langsung dan pengawasan dari orang besar itu yang kemudian diangkat ke derajat “Mushlih Mau’ud”. Ada banyak jalan, cara dan arahan-arahan tarbiyat. Seorang anak dilahirkan tak berdosa dan tahun-tahun masa kecilnya tetap kebal dari pencemaran lingkungan masyarakat. Alur pikirannya adalah sangat bersih. Oleh sebab itu, jika mereka diasuh dengan pengawasan ketat tepat sejak masa kanak-kanak mereka, kesan-kesan itu akan langgeng.

            Ibu saya beserta dengan anak-anak lain biasa tinggal di bagian yang tergabung dengan Darul Masih – kediaman Masih Mau’ud – tempat yang Hadhrat Masih Mau’ud(a.s.) sendiri bermukim. Di halaman, kami anak-anak biasa bermain dengan permainan-permainan polos kami. Suatu sore, sebagaimana biasa kami sedang bermain di halaman dan pada masa itu saya berusia sekitar delapan atau sembilan tahun. Di antara anak-anak itu, ada seorang wanita seusia saya dan juga sedang bermain dengan kami. Dia melakukan sesuatu yang membuat saya sangat marah dan saya memukul wanita itu pada wajahnya. Tepat pada saat itu, bapak saya datang dan melihat saya sedang memukul anak itu. Beliau menuju ke arah saya, berdiri di samping saya dan memanggil gadis kecil itu dan bersabda, “Anak ini telah memukul engkau dan kini engkau pukul dia sebagai balasan sebab dia memukul engkau.” Gadis itu berdiri terdiam dan bapak saya menyuruh dia dua kali atau tiga kali untuk memukul saya tapi dia tidak berani. Atas hal ini, dalam kemurkaan dan kemarahan maka beliau tertuju kepada saya: “Jika engkau berpikir bahwa dia tak punya bapak dan engkau dapat melakukan apa pun yang engkau suka, itu tidak akan terjadi. Dengarkan dengan baik, aku adalah bapaknya dan bahkan jika engkau menudingkan jari engkau kepadanya, engkau pasti akan dihukum.” (Kemudian saya mengetahui bahwa wanita itu adalah seorang anak yatim dari keluarga sayyid yang bapak saya mengambilnya dalam asuhan beliau).

            Mengasuh anak-anak yatim dan memperlakukan mereka seperti anak-anak kalian sendiri adalah satu ajaran Islam yang penuh cinta kasih. Ini hanyalah satu peristiwa dari seorang anak yatim tapi semua pelayan di rumah dianggap seperti para anggota keluarga. Hal yang sama juga tertanam dalam pikiran saya. Kami tidak berani memperlakukan buruk terhadap seorang pun dari mereka. Di setiap rumah dalam keluarga, hidup adalah sangat sederhana. Tak ada perabotan atau pernik-pernik hiasan yang mahal. Lantai kami tak ada karpet di atasnya. Karpet kapas sederhana yang disebut ‘durries’ menutupi lantai ini. Meja kami (Dastarkhwan) diletakkan pada karpet ini tempat kami biasa makan hidangan kami.

            Manakala berbicara mengenai hidup sederhana, saya teringat bahwa Hadhrat Abba Jan (bapak saya) biasa memberikan uang sangat sedikit kepada istri-istri beliau sebagai belanja pribadi dan rumah tangga mereka yang mereka harus menjaga dengan kehati-hatian penuh pada setiap sen yang dibelanjakan hingga akhir bulan. Jumlah yang amat kecil itu diberikan sesuai dengan jumlah para anggota keluarga. Jika ada tamu dalam suatu keluarga, bantuan khusus diberikan kepada istri yang bersangkutan selama tinggalnya para tamu itu. Ini menunjukkan bahwa beliau menyadari kenyataan bahwa karena kedatangan para tamu dalam keluarga itu, istri tersebut tidak akan dapat melewati bulan itu dengan jumlah uang yang biasa.

            Setiap hari ketiga atau hari keempat, kami punya kesempatan makan bersama dengan bapak kami. Lazimnya ada dua piring di meja. Itu merupakan waktu yang benar-benar sukar bagi anak-anak. Makanan beliau amat sedikit. Itu dapat diperkirakan bahwa tepat pada saat mulai makan, Sekretaris Pribadi beliau biasa mengantarkan tas surat-surat. Pada saat pertama sekali, tas itu ada di sisi beliau. Beliau akan membukanya dan membaca surat selama beliau makan. Beliau akan terus membaca surat demi surat dan membubuhkan catatan-catatan dan perintah-perintah pada tepi kertas surat. Selama membaca, kadang kala beliau juga akan makan. Ketika surat-surat selesai, beliau bangun dari meja (meninggalkan meja). Sering kali saya biasa memikirkan bagaimana beliau hidup dengan makanan yang amat sedikit. Tapi walaupun semua ini adanya, beliau mempunyai perhatian terhadap setiap anak apakah dia menggunakan tangan kanan untuk mengambil kuah kari dari piring, atau dari tempat tepat di depannya, mulut kami seharusnya tidak terbuka ketika makan atau tidak membanting dan menimbulkan bunyi-bunyian. Beliau akan memperhatikan hingga kami membasuh tangan kami sebelum memulai makan kami dan mencuci mulut kami setelah selesai.

            Saya tak akan pernah melupakan satu kejadian istimewa dalam hal ini. Suatu kali saya memutuskan bahwa saya juga akan mengurangi makanan saya dan mulai makan lebih sedikit. Maka saya mulai makan hanya setengah phulka (roti bulat yang lazim di India dan Pakistan) pada waktu makan. Itu tidak lebih dari tiga minggu bahwa ketika kami ada di meja dan saya sedang memegang setengah phulka ketika bapak saya bersabda kepada saya:

            “Aku melihat engkau pada tiga minggu terakhir ini bahwa engkau makan hanya setengah phulka, aku tidak mengizinkan engkau untuk melakukan ini di masa mendatang. Ini adalah usia pertumbuhan engkau dan anak-anak muda wajib mendapat jumlah makanan yang layak. Jika tidak, pertumbuhan engkau mungkin terhambat dan engkau akan tetap lemah. Dengan tubuh yang lemah, bagaimana engkau akan dapat melaksanakan beban tanggung jawab yang berat pada kehidupan mendatang. Ambil kari yang lebih banyak dan ambil roti yang lebih banyak dan makan tepat di hadapanku. Jangan lakukan itu lagi.”

            Inilah apa yang terjadi dengan saya. Pandangan beliau yang waspada pada perkembangan anak-anak yang selayaknya tidak terbatas hanya kepada anak-anak beliau sendiri. Bagi beliau anak-anak Jama’at adalah seperti anak-anak beliau sendiri. Di bawah ini saya berikan dua contoh semacam itu yang ada dalam pengetahuan pribadi saya.

            Seorang anggota Jama’at juga mempunyai hubungan kecintaan yang dekat dengan dengan bapak saya datang ke Qadian dengan putra tertuanya. Sesudah shalat maghrib ketika Hudhur akan pulang, saudara-saudara [Ahmadi] hadir di masjid, membentuk satu barisan seperti biasa. Seorang pemuda juga sedang berdiri di barisan itu. Ketika bapak saya melihat pemuda itu, beliau berhenti dan bersabda kepadanya:

            “Aku lihat engkau sangat lemah dan aku kira bahwa bapak engkau tidak menyediakan makanan yang diperlukan bagi engkau. Katakan kepadanya untuk datang dan menjumpaiku besok di kantorku”.

            Esok harinya, ketika saudara itu menjumpai beliau, dan beliau bersabda kepadanya:

            “Aku sangat sedih melihat anak tuan kemarin. Dia tampak amat lemah. Perhatikanlah baik-baik makanannya dan bawa dia kepadaku bulan depan untuk meyakinkan aku bahwa perhatian yang baik sedang dilakukan untuk anak itu. Dia bukan hanya anak tuan. Setiap anak Jama’at adalah anakku. Aku tidak ingin melihat anak-anak Jama’at menjadi lemah.”

            Satu contoh lain yang ingin saya kutip adalah juga mengenai seorang saudara yang sangat setia dan mukhlis yang mempunyai hubungan yang dekat dengan bapak saya. Putra beliau, yang menjadi seorang dokter di Amerika Serikat telah mengirimkan kepada saya satu kejadian dari kehidupan bapak saya. Dia menulis:

            “Ada satu segi lain dari kepribadian beliau yang tidak ada pada orang-orang yang mencintai beliau. Kecintaan menuntut orang untuk memperhatikan segala sesuatu dari orang yang dia cintai. Semua ini adalah alami bahwa air mata mengalir ketika ketika orang yang dicintai pergi. Pribadi-pribadi seperti itu lahir sesudah ribuan tahun. Hudhur tidak hanya bersabda, “Engkau telah menjadi lemah.”, tapi ketika saudari saya pergi menjumpai beliau, beliau menyuruhnya untuk mengatakan kepada bapaknya untuk mengasuh Tahir baik-baik. Beliau secara teratur menanyakan tentang kesehatan saya. Kejadian-kejadian seperti itu mungkin telah terjadi pada ratusan orang. Setiap orang akan berpikir bahwa dia sendirilah yang menerima perlakuan kasih sayang seperti itu. Setiap mukhlisin mengira hanya dia sendiri yang seperti ini dan menikmati keberkatan.”

            Saya akan mengatakan tentang kehidupan sederhana di rumah kami. Dalam hal ini, saya teringat satu kejadian yang saya ingat hingga hari ini. Bapak saya memesan beberapa karpet tenunan wol kasar yang sangat murah di sebuah desa di United Province, India dan dibagi-bagikan satu lembar pada masing-masing rumah. Itu sangat murah karena harganya hanya empat puluh rupee per lembar. Hanya beberapa hari sesudah itu, seorang wanita tua yang berasal dari kampung udik Qadian. Dia berpakaian kasar, bertelanjang kaki dengan berlumur tanah kotor dan masuk untuk berjumpa bapak saya. Bapak saya sedang duduk di dalam ruangan yang mempunyai karpet yang sama. Dia datang benar-benar dengan santai tapi orang merasa bahwa dia akan melangkah di atas karpet dengan kaki berlumur tanah kotor. Tak seorang pun mengatakan sesuatu dengan keras tapi pandangan beliau yang waspada merasakan bahwa kakinya yang kotor itu tak dikehendaki. Beliau tidak dapat membiarkannya dan memanggil seorang pelayan wanita dan menyuruhnya untuk segera memindahkan karpet itu dan menyingkirkannya keluar. Beliau dengan sangat tegas bersabda, “Karpet yang menghalangi aku dari kaum miskin di Jama’atku tidak akan digelar dalam rumahku.

            Beliau selalu menasihati kami untuk memperlakukan kaum miskin dalam Jama’at dengan kasih sayang dan penghargaan dan menganggap mereka lebih baik dan lebih terhormat dari pada kami. Beliau selalu berdiri untuk menyalami orang yang datang untuk menjumpai beliau. Perlakuan yang sama beliau ajarkan kepada kami juga. Beliau dengan teliti mengawasi bahwa anak-anak beliau mengingat pelajaran itu atau tidak. Dalam masalah tarbiyat beliau tidak akan menutupi bahkan hingga rincian-rincian terkecil.

            Beliau mempunyai indra penciuman luar biasa. Beliau mempunyai cita rasa dan dapat mengenali makanan yang sapi atau kerbau telah makan. Bau kurang sedap adalah tak dapat beliau biarkan. Barangkali inilah sebabnya bahwa beliau sering kali memakai wangi-wangian bagi beliau sendiri. Beliau biasa memakai wangi-wangian sendiri dan ini menjadi kegemaran beliau. Bila saja beliau menyiapkan beberapa wangi-wangian baru, beliau akan menanyakan pendapat istri-istri beliau dan putri-putri beliau apakah mereka menyukainya atau tidak.             Suatu ketika beliau menyiapkan wangi-wangian baru dan memanggil saudari saya dan memintanya untuk mengulurkan tangan kepada beliau. Beliau akan mengusapnya dan dia hendaknya memberikan pendapatnya kepada beliau mengenai hal itu. Saudari saya memberikan tangannya kepada beliau, telapak tangannya menadah. Tapi beliau tidak mengusapkannya ke tapak tangannya dan memintanya untuk membalik. Dia melakukannya dan beliau mengusapkan wangi-wangian itu di atasnya. Kemudian beliau memberi-tahukan kepadanya bahwa menadahkan tangan boleh jadi membawa kebiasaan meminta-minta yang beliau tidak akan biarkan [terjadi] pada anak-anak beliau. Betapa satu hal yang kecil dan betapa satu nasihat yang menakjubkan!

Sumber: Ahmadiyya Gazette Canada, December 1993, hal. 13-15. (kenangan yang ditulis oleh putra Khalifatul Masih ke-II yaitu Hadhrat Mirza Mubarak Ahmad rh. — terjemah ke bahasa Indonesia oleh Mln. Muharim Awaluddin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *