Rukun Islam dan Rukun Iman Jamaah Ahmadiyah

Rukun Islam dan Rukun Iman Jamaah Ahmadiyah

Oleh : Nasiruddin Ahmadi

Selama ini  masih ada orang-orang yang meragukan ke-Islaman dan ke-Imanan anggota Islam Ahmadiyah. Dengan penjelasan dan pengakuan langsung dari Pendiri Ahmadiyah dibawah ini, semoga dapat difahami, inilah keyakinan warga Islam Ahmadiyah, Sama kok Rukun Islam dan Rukun Iman-nya, gak ada bedanya.

Rukun Islam

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ .رواه البخاري و مسلم
“Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji, dan puasa di bulan Ramadhan'”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ciri-Ciri Orang Muslim

Nabi Muhammad Rasulullah SAW. bersabda, “Barangsiapa shalat seperti kita, menghadap ke Kiblat seperti kita, dan memakan binatang sembelihan seperti kita, maka dialah orang muslim yang berada di bawah perlindungan Allah dan Rasul-Nya, Karena itu janganlah anda menghianati Allah perihal perlindungan-Nya itu.” (HR. Bukhari).

Pernyataan Pendiri Jamaah Ahmadiyah

“Kami menasehatkan kepada anggota jamaah kami , bahwa hendaklah mereka beriman dengan sepenuh hati kepada kelimah toyyibah :

لا إله إلا الله محمد رسول الله

(Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah), dan mereka harus mati di atas iman itu. Mereka harus beriman kepada semua Nabi dan semua kitab yang diwahyukan yang kebenaranya telah terbukti dari Alquran. Dan mereka harus mematuhi Islam dengan sebaik baiknya dan sebenar-benarnya dengan mengingat kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan kepada mereka yaitu mendirikan shalat, berpuasa, menunaikan zakat dan beribadah Haji ke Baitullah, dan semua kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan dengan mengingat segala sesuatu yang diharamkan dan di larang oleh Islam. Singkatnya, adalah wajib untuk mereka untuk beriman kepada semua yang berkaitan dengan iman dan amal yang oleh orang-orang yang shaleh terdahulu telah diamalkan dan oleh para ahli sunnah telah di anggap sebagai iman dan amalan Agama Islam. Kami menyeru langit dan bumi untuk menjadi saksi bahwa inilah agama kami”. (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, dalam bukunya  Ayyame sulh ,hal.87)

Rukun Iman

فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Beritahukan kepadaku tentang Iman.” Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para Rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada Takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim, No. 8)

Pernyataan Pendiri Jamaah Ahmadiyah

“Kami beriman bahwa tidak ada Tuhan yang layak untuk disembah selain Allah dan Sayyidina Muhammad Mustofa saw.. adalah Rosul dan Khaataman Nabiyiin. Dan kami beriman bahwa Malaikat adalah benar, alam Mahsyar tempat manusia di kumpulkan adalah benar, Yaumul Hisab adalah benar, Surga adalah benar dan Neraka adalah benar. Dan kami beriman bahwa yang telah difirman kan oleh Allah  yang Maha Gagah di dalam Al-Qur’an, dan apa apa  yang Rasullulah saw..  sabdakan sebagaimana tersebut diatas  semua itu adalah benar. Dan kami beriman bahwa siapapun  orang yang mengurangi walau hanya satu dzarah pun dari syariat Islam, atau yang melebih-lebihkan satu dzarah saja pun terhadap syariat Islam, atau meninggalkan segala perintah yang di fardukan  dan dengan bebas menetapkan sebagai sesuatu yang dibenarkan, maka ia tidak beriman  dan telah keluar dari Islam”. (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, dalam bukunya  Ayyame sulh ,hal.87).

Nabi Muhammad adalah Khaataman Nabiyiin  dan yang terbaik dari para rasul serta syafaat bagi penduduk dunia :

“Kalimah kami yaitu tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad saw. adalah Rasul Allah. Kami beriman kepada Allah, pada Malaikat, pada Para Rosul, pada semua Kitab yang diwahyukan kepada Surga dan Neraka serta hari Kiamat. Kami menyakini Al-quran sebagai kitab Allah, dan Muhammad saw. semoga shalawat dan berkah Allah dilimpahkan kepada beliau, adalah nabi yang benar. Kami tidak mengklaim Kenabian dan tidak pula mengklaim yang lainya yang bertentangan dengan Al-Qur’an sesudah Nabi Muhammad saw. Kami bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Khaataman Nabiyiin  dan yang terbaik dari para rasul serta syafaat bagi penduduk dunia. Dan kami bersaksi  bahwa kebenaran seluruhnya ada di dalam Al-quran dan sabda-sabda Nabi Muhammad saw. setiap bid’ah adalah api neraka balasanya. Dan sesungguhnya kami dalah orang-orang Muslim dan Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati kami kepadanya kami bertawakal dan kepadanya kami kembali“. (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dalam bukunya Anwarul Islam, hal. 34).

Dengan pengakuan ku ini,yang sudah disampaikan oleh Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah, apabila masih ada yang belum percaya, tidak masalah. Yang penting dalam Pandangan Allah SWT, kami Islam. Tetapi kalau ada kelompok yang masih bersikeras tidak percaya juga, kisah di bawah ini bisa dipertimbangkan. Bahwa manusia itu tidak bisa menghakimi hati seseorang.

بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ قَالَ فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ قَالَ وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ قَالَ فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَكَفَّ عَنْهُ الْأَنْصَارِيُّ فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ قَالَ فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَقَالَ لِي يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا قَالَ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ

Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah saw. mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Marga Huraqah, bagian dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami mengalahkan mereka. Saya dan seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba ia mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ (Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya. Adapun saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”

Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi saw. Maka beliau bertanya kepadaku, ‘Wahai Usamah, apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah?’ Saya (Usamah) menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”

Namun beliau saw. tetap bertanya, “Apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah?”

Saya (Usamah) berkata, “Beliau saw. masih terus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (Bukhori-Muslim).

Dalam Hadits lain diriwayatkan :

فَجَعَلَ لَا يَزِيدُهُ عَلَى أَنْ يَقُولَ كَيْفَ تَصْنَعُ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِذَا جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Beliau tidak melebihkan jawaban beliau selain senantiasa mengulang-ulang pertanyaan ‘Lantas bagaimana engkau akan menghadapi kalimat Laa Ilaaha Illa Allah jika datang kelak pada hari kiamat?’” (HR. Muslim: Kitab al-iman no. 97)

Pakar sejarah Islam, Imam Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra dan Ibnu Ishaq dalam Al-Maghazi, menyebutkan bahwa peristiwa yang dialami oleh Usamah bin Zaid di atas terjadi pada bulan Ramadhan tahun 7 Hijriyah. Pasukan tersebut dikomandani oleh sahabat Ghalib bin Ubaidullah Al-Laitsi. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 12/202-203)

Dari kisah ini ada ibrah, diantaranya :

Imam An-Nawawi berkata, “Sesungguhnya engkau hanya diperintahkan untuk beramal sesuai kondisi lahiriah dan ucapan lisan. Adapun urusan hati, engkau tidak akan mampu mengetahuinya. Maka Nabi SAW. mengingkari tindakan Usamah yang tidak bertindak atas dasar apa yang nampak dari ucapan lisan. Maka beliau SAW. bersabda ‘Kenapa engkau tidak membelah dadanya?’ sehingga engkau mengetahui apakah hatinya mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah karena ikhlash dan yakin ataukah karena alasan lainnya?’ Maksudnya, jika engkau tidak mampu mengetahui isi hati orang itu, maka hendaklah engkau mencukupkan diri dengan menerima ucapan lisannya.”  (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 12/203-204 dan Shahih Muslim bi-Syarh An-Nawawi, 2/137-138).

Dalam riwayat lain juga, Rasulullah SAW. pun pernah menegur Usamah bin Zaid, Alaa Syafaqta ‘an Qalbihi ?, “Sudahkah engkau belah hatinya ?, sehingga engkau tahu pengakuan syahadatnya karena takut pedang”.

Jadi kita tidak bisa memvonis seseorang itu sesat atau Kafir, apalagi orang itu sudah menyatakan pengakuan ke-Islaman dan ke-Imanannya. Dan kita tidak bisa menghakimi seseorang sampai ke lubuk hatinya, karena hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui itu. Sebagaimana Imam An-Nawawi berkata, “Sesungguhnya engkau hanya diperintahkan untuk beramal sesuai kondisi lahiriah dan ucapan lisan. Adapun urusan hati, engkau tidak akan mampu mengetahuinya. Dan ini sesuai dengan Sabda dari Pendiri Islam Ahmadiyah, “…Dan kami bersaksi  bahwa kebenaran seluruhnya ada di dalam Al-quran dan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.. setiap bid’ah adalah api neraka balasanya. Dan sesungguhnya kami dalah orang-orang Muslim dan Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati kami kepadanya kami bertawakal dan kepadanya kami kembali“. (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dalam bukunya, Anwarul Islam, hal. 34).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *