Minhajuth Thalibin Bag. 2 : Apakah Khulq Itu ?

Minhajuth Thalibin Bag. 2 : Apakah Khulq Itu ?

Apakah Khulq itu?

            Membahas akhlak sebagai bahasan, kita mula-mula perlu mempunyai beberapa macam definisi (batasan) istilah moral, moralitas atau khulq seperti dikatakan orang dalam Bahasa Arab. Pada masalah yang tampak sangat sederhana ini, semua ajaran dan filsafat keagamaan, kecuali ajaran Islam, telah membuat kesalahan. Mereka telah menetapkan istilah ini dengan berbagai cara. (1) Menurut sebagaian orang khulq berakar mendalam pada naluri atau kemampuan yang memberikan kekuatan pada seseorang untuk memilih dan menerapkan sebentuk tindakan dengan segera, tanpa mempunyai bobot atau pertimbangan dan keputusan; atau menolak dengan segera suatu bentuk amalan, tanpa suatu pertimbangan akal. (2) Menurut sebagian pemikiran yang lainnya khulq adalah semacam kepekaan yang melekat pada manusia, sebagai bukti keberadaan Satu Wujud seperti Tuhan. (3) Menurut jalan pemikiran yang ketiga, khulq merupakan satu kemampuan yang telah berkembang secara lambat dan kini sedang diwariskan dari generasi ke generasi. Hal itu terdiri atas perbuatan dan penghargaan makna-makna akhlak. Para ahli filsafat Barat tampaknya telah sampai pada pandangan (pendapat) ini.

            Pada pendapat saya, keadaan moral (akhlaki) atau perbuatan akhlaki berperan manakala kepribadian alami manusia mulai berperan dengan peran serta akalnya, dan dia jadi berkemampuan untuk memilih (menerima) atau menolak dorongan alami ini. Jika desakan ini berjalan dengan tiada pemikiran, maka desakan ini adalah alami, bukan akhlak seperti halnya yang ada pada hewan-hewan atau anak-anak. Hewan-hewan mengasihi atau bersikap dengan cara yang bersahabat. Tapi tak seorangpun menyebut mereka berakhlak. Kadang-kadang kegiatan yang sedang berjalan tampak seperti kegiatan manusia bahkan terdapat pada tumbuhan atau logam atau batu.

            Bagian dari persoalan ini adalah sukar. Tapi hal itu merupakan hubungan esensial antara apa yang saya telah katakan sejauh ini dan apa yang akan saya katakan lebih lanjut.

            Saya menetapkan tindakan akhlaki sebagai tindakan yang berlangsung (dilakukan) dari seseorang yang punya kemampuan berpikir dan akal, juga mampu memilih atau menolak tindakan tertentu. Apakah itu berupa tindakan baik atau buruk.

            Satu tindakan akhlak yang baik  telah ditetapkan dengan berbagai cara. Sebagian orang mengatakan tindakan-tindakan akhlak yang baik merupakan latihan dari kemampuan-kemampuan alami di bawah arahan (bimbingan) akal dan pemahaman. Yang lain mengatakan tindakan-tindakan akhlak yang baik merupakan tindakan-tindakan produktif dari kebahagiaan hakiki.

            Sebagian lain berpikir tindakan-tindakan akhlak yang baik merupakan tindakan-tindakan yang menuntut pengorbanan diri dan melindungi kebaikan orang lain dengan beban dia sendiri.

            Sebagian lagi mengatakan tindakan-tindakan akhlak yang baik merupakan tindakan-tindakan yang diarahkan dan diatur oleh akal sehubungan dengan pengorbanan diri sendiri dengan niat mengkhidmati orang atas kerelaan sendiri.

            Menurut kaum Sufi Muslim, tindakan-tindakan akhlak yang baik merupakan tindakan-tindakan yang dibimbing oleh akal dan hukum-hukum syari’at.

            Ini, tampaknya, merupakan pendapat Imam Ghazali. Akal dan syariat, tentu saja, merupakan unsur-unsur pokok dalam tindakan-tindakan akhlak yang baik. Tapi ada syarat-syarat lain yang wajib dipenuhi. Tindakan-tindakan itu hendaklah dipilih dan dikehendaki oleh orang yang berbuat dimana mereka dinilai ada dan dalam kemampuannya. Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, tindakan-tindakan itu bukan merupakan akhlak menurut istilah yang kita tetapkan. Misalnya, jika seseorang – yang setengah mengantuk – memberikan sekeping uang kepada orang lain, tapi ketika sadar menjauhi (menghindari) amal-amal sedekah sederhana semacam itu, pemberian uangnya ketika setengah mengantuk tidak akan dihitung sebagai tindakan akhlaki. Ini karena tindakan yang tampak seperti sedekah itu, dilakukan dalam keadaan setengah mengantuk bukan merupakan tindakan yang dipilih dan dikehendaki.

            Tuntutan lain untuk tindakan akhlak yang baik adalah bahwa ia hendaknya sejalan dengan sifat-sifat Tuhan. Tindakan akhlak yang ‘baik’ mesti bebas dari segala kekurangan (kelemahan) dan ini hanya mungkin jika tindakan itu dikaitkan dengan Wujud Tuhan. Tampak bahwa tak ada apa pun yang bebas dari kesalahan atau bebas dari keburukan bagi kita, kecuali jika hal itu ditunjukkan hubungannya dengan hikmah Ilahi dan sifat Ilahi. Tuhan merupakan Penguasa Tertinggi. Hanya Dia yang Maha Sempurna dalam sifat-sifat, bebas dari segala kekurangan.

            Saya kini beralih pada masalah penting mengenai sumber akhlak. Dari mana mata air akhlaki berasal? Di mana berakarnya? Kita berhadapan lagi dengan berbagai jawaban. Menurut sebagian orang, mata air akhlaki berasal dari kendali akal manusia terhadap [dorongan] semangat dan seks. Semangat dan seks adalah seperti dua kuda lair. Akal merupakan penunggang yang mengendalikan kedua-duanya. Bila dia melakukannya dengan baik, mengendalikan masing-masingnya, dia menampilkan amal-amal akhlaki. Jika penunggangnya berbuat kesalahan pada satu atau lain hal, dia menyimpang dari jalur akhlaki. Daya untuk berpikir – menimbang dan menilai dan memutuskan – ini disebut Nafsi Natiqah, atau akal pribadi, oleh Muhyiddin Ibnu Arabi. Menurut beliau semua mata air akhlaki bersumber dari tiga sifat ini, suatu campuran, katakanlah, dari akal dan seks, atau dari akal dan semangat, atau dari ketiga-tiganya yaitu akal, seks dan semangat. Secara kiasan, beliau menganggap akal sebagai suami serta semangat dan seks sebagai dua istrinya. Persatuan antara pria dan wanita melahirkan seorang anak; dengan cara yang sama, akal dan semangat atau akal dan seks akan melahirkan akhlak.

            Sebagian lain mengira bahwa hasrat manusia yang paling kuat adalah untuk mencari kesenangan atau kebahagiaan. Ketika hasrat untuk kebahagiaan itu menyatu dengan akal, hal itu menimbulkan akhlak.

            Pada pendapat saya masalah sumber akhlaki – mutu akhlak, tindakan akhlaki – belum dipahami secara memuaskan. Ia harus diuraikan dengan konteks yang cukup luas. Para ahli filsafat Muslim hendaknya memikirkan masalah ini dengan sorotan Al-Qur’an Suci, tapi mereka tidak berbuat demikian. Saya telah menerapkan prinsip Al-Qur’an pada masalah itu dan menjumpai bahwa sumber akhlak atau akhlaki adalah amat dalam dan kembali pada asal-usul sesuatu. Jika akhlak hanya merupakan hak istimewa manusia, [maka] gambaran dan definisi yang dibuat oleh orang-orang awam sudah mencukupi, sekurang-kurangnya relevan. Tapi akhlak atau pseudo-moral dijumpai juga dalam wujud-wujud kehidupan yang lebih rendah. Misalnya, dikatakan bahwa akal, seks, dan semangat, menghasilkan nilai-nilai akhlak seperti cinta kasih, tapi cinta kasih dijumpai pada hewan-hewan juga. Kemudian dikatakan bahwa akal dan seks, atau akal dan semangat digabungkan bersama dapat menimbulkan akhlak. Hewan-hewan tidak punya akal. Tapi mereka juga menampilkan nilai-nilai cinta kasih yang dihitung sebagai nilai-nilai akhlak dalam kemanusiaan. Maka tampaklah bahwa masalah itu tidak begitu sederhana. Akal, seks dan semangat, di antara mereka, tidak semuanya dihitung sebagai nilai-nilai akhlak. Hewan-hewan juga menampilkan sesuatu yang dengan akhlak, namun mereka tidak mempunyai akal.

            Saya yakin bahawa saya telah berhubungan dengan sesuatu yang telah mencahayai saya mengenai seluruh masalah akhlak. Semua itu karena anugrah Tuhan. Pemikiran saya berlanjut pada jalur-jalur berikut ini.

            Akhlak atau [sesuatu] yang mendekati akhlak berakar (berasal) dari kemampuan-kemampuan atau kepribadian alami tertentu. Kemampuan-kemampuan alami itu tidak dijumpai pada diri manusia saja, melainkan juga dijumpai pada hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan dan bahkan batu-batuan. Mereka tidak hanya dijumpai dalam kelompok-kelompok tapi bahkan dalam zarah-zarah (partikel) yang darinya terbentuk kesatuan kelompok. Maka, begitu kalian beralih dari manusia kepada hewan kalian dapat melihat suatu sikap hewan yang serupa dengan sikap manusia. Kalian dapat melihat sikap agresif pada manusia dan hewan kedua-duanya. Ada perbedaan-perbedaan nyata, tentu saja. Sikap tumbuhan adalah lemah. Tapi persamaannya dengan sikap manusia dan hewan adalah tak dapat disalahkan. Kecenderungan memberi dan menerima begitu nyata pada manusia dan hewan juga terdapat pada tumbuh-tumbuhan. Kini diterima sepenuhnya bahwa ada jenis kelamin pada semua [benda] atau lebih dekat lagi pada semua tumbuhan. Al-Qur’an Suci mengumumkan hal ini sudah lama. Ketika tumbuh-tumbuhan jantan dan betina bersatu maka mereka menghasilkan buah. Ini telah diketahui mengenai tanaman korma selama ribuan tahun, yang menunjukkan adanya jenis kelamin pada tumbuhan. Ahli sains India, Sir J. C. Bose, memeragakan ini dengan sarana-sarana yang peka. Tumbuh-tumbuhan juga menampilkan tanggapan dan emosi seperti tidak suka, tidak setuju dan lain-lain. Tumbuhan yang dikenal sebagai “Touch me not” (putri malu-?) mengerut dan mati karena sentuhan sedikit. Jika kalian menyentuh bunga atau buahnya, ia melepaskan benih-benihnya, dengan sendirinya mengerut jadi kecil. Satu pohon yang tumbuh di Amerika menyukai daging. Bawalah bahan berdaging di dekatnya, ia cenderung senang. Jika ia dibiarkan menyentuh bahan itu, ia mengerut, kemudian mengisap darah dari bahan (daging) itu sebelum melepaskannya. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa tumbuh-tumbuhan, seperti manusia dan hewan, dapat dipacu (dirangsang). Mereka menanggapi rangsangan dengan cara-cara tertentu.

            Marilah kita amati mineral-mineral. Cinta kasih dikatakan merupakan ciri khas akhlak manusia. Tapi apakah cinta itu? Itu adalah menarik sesuatu kepada seseorang. Tidakkah magnet menarik sepotong besi kepada dirinya? Orang dapat mengatakan bahwa magnet mencintai dengan cara yang sederhana. Sebaliknya, jika dua bahan dimuati dengan arus listrik dengan cara yang sama mereka menjauh satu sama lain, seakan-akan mereka membenci satu sama lain. Ini menunjukkan bahwa mineral-mineral dengan caranya sendiri, pada kedudukan mereka, menampilkan tanggapan yang sama dengan manusia, hewan dan tumbuhan.

            Tanggapan-tanggapan ini dibuktikan oleh unsur-unsur terkecil. Tanpa daya tarik yang saling menguntungkan, tak akan ada penyatuan zarah-zarah, tak ada dunia. Kalau zarah-zarah tidak mempunyai sifat dan kemampuan untuk saling menarik satu sama lain dan membentuk zat-zat, tak akan mungkin bagi apapun untuk terwujud dan bertahan di dunia ini. Daya tarik inilah yang menyatukan zarah-zarah menjadi zat-zat. Dari semua itu terbukti bahwa akhlak mempunyai akar yang mendalam pada zarah-zarah benda mati. Makin mendalam kita melangkah, lebih banyak dan lebih banyak lagi contoh, bahkan pada zat yang sederhana, dari akhlak yang kita temukan. Paling sedikit akar-akarnya dapat dikenali.

            Contoh-contoh ini akan membuat jelas bahwa unsur-unsur yang membentuk nilai-nilai akhlak dijumpai dalam bentuknya yang sederhana dalam wujud-wujud yang lebih rendah, pada hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, mineral-mineral dan zarah-zarah. Saya kini akan memberikan beberapa penjelasan dari sifat-sifat dasar yang berkembang menjadi sifat-sifat bernilai akhlak. Secara ringkas, baiklah saya katakan bahwa segala wujud benda, termasuk dalam bentuk-bentuk yang paling sederhana, tersebar dalam enam arah. Inilah arah-arah lahiriah itu atas-bawah, kanan-kiri dan depan-belakang. Arah-arah ruhani juga ditemukan dalam pasangan-pasangan. Dengan cara yang sama atas adalah untuk sesuatu hal dan bawah adalah untuk hal lain, kanan untuk sebagian dan kiri untuk yang lain, depan untuk sebagian dan belakang untuk yang lain. Betapa kita mempunyai dunia jasmani dan ruhani yang terbagi dalam tiga pasangan, atau seluruhnya enam arah. Pasangan aktif-pasif atau pria-wanita atau yang mengaktifkan dan yang diaktifkan. Nyata bahwa sesuatu hal yang tak layak diaktifkan, ia tidak akan diaktifkan. Satu contoh yang baik adalah adonan roti. Tekankan kepalan tangan kalian padanya, adonan itu akan mencari jalannya (mengembang), tapi bukan pada bagian atas yang menerima tekanan tangan. Jelas bahwa tak ada sesuatupun dapat terjadi kecuali ada dorongan yang cukup pada satu segi, dan satu [keadaan] pasif dan siap menerima pada segi lain. Setiap zarah (partikel) yang ada adalah mampu menarik dan ditarik oleh yang lain.

Minhajuth Thalibin adalah buku karya Hadhrat Mirza Basyirudiin Mahmud Ahmad ra. terjemah ke Indonesai SM. Mln. Muharrim Awaludin

Terkait

Minhajut Thalibin Bag. 1

Leave a Reply

Your email address will not be published.