Hadits : Tolonglah Saudaramu yang Zalim, Bukan Saja yang Dizalimi

Hadits : Tolonglah Saudaramu yang Zalim, Bukan Saja yang Dizalimi

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

Diriwayatkan oleh Hadhrat Anas radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim (aniaya) dan yang dizhalimi”. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, jelas kami faham menolong orang yang dizhalimi tapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zhalim?” Beliau bersabda: “Pegang tangannya (agar tidak berbuat zhalim) “. (H.R.Bukhari, No.2264)

Penjelasan:

Hadis yang indah ini merupakan perpaduan dari falsafah persaudaraan dan falsahah akhlak. Falsafah persaudaraan menghendaki agar seorang saudara harus ditolong, apakah dia itu yang menganiaya atau yang dianiaya; dalam keadaan apa pun persaudaraan bukanlah sesuatu yang nilainya dapat dilupakan atau dihilangkan begitu saja.

Seorang yang menjadi saudara kita, dalam keadaan apa pun berhak mendapat pertolongan dari kita. Meskipun dia itu berada di pihak yang bersalah atau berada di pihak yang teraniaya, tidak akan mempengaruhi haknya untuk menerima pertolongan.

Sebaliknya, falsafah moral menghendaki agar di dalam kita berurusan dengan seorang yang menjadi saudara kita atau seorang yang tidak kita kenal, bagaiamana pun kita berkewajiban untuk menjauhkan semua kejahatan dan ketidakadilan dari permukaan bumi ini, bahkan kita harus menegakkan keadilan dan kebajikan.

Kita tidak dibenarkan berbuat aniaya kepada seseorang meskipun dia bukan saudara kita, demikian pula kita tidak boleh membantu atau bersekutu dengan seseorang dalam kemungkaran meskipun dia saudara kita.

Sepintas lalu kedua falsafah tersebut sepertinya tidak selaras dan saling bertolak-belakang. Bila seorang saudara yang berbuat kesalahan tidak ditolong, maka ikatan persaudaraan bisa putus. Dan, bila saudara yang berbuat aniaya itu ditolong maka akan bertentangan dengan keadilan.

Tetapi junjungan kita telah menghubungkan kedua jalur sejajar yang nampaknya tidak dapat bertemu. Rasulullah ﷺ dengan seksama telah menghubungkan kedua jalur itu dengan satu jalur penghubung yang sarat dengan hikmah dan kearifan, sehingga kedua jalur itu menyatu.

Beliau ﷺ mengemukakan bahwa persaudaraan itu adalah pertalian suci yang seyogyanya jangan terputus dalam keadaan apa pun.

Seorang saudara kita, biar itu baik atau buruk, suci atau jahat, zalim atau mazlum, dia tetap saudara kita, dan bagaimana pun juga pertalian persaudaraannya tidak dapat diputuskan. Akan tetapi menurut ajaran Islam, Allah Ta’ala tidak mengizinkan perbuatan aniaya, dan memerintahkan supaya kita berlaku adil walaupun terhadap musuh.

Karena itu dua perkara ini harus dipersatukan; biar bagaimana pun keadaanya saudara itu harus ditolong, tetapi bila saudara itu zalim maka sifat dan cara menolongnya harus kita rubah dan sesuaikan. Kalau dia itu mazlum(yang dianiaya)kita harus ikut serta kepadanya untuk menghadapi si zalim. Dan, kalau dia sendiri seorang yang zalim, maka kita harus mendekatinya, kemudian dengan sekuat tenaga mencegah dan menghalangi tangan si zalim itu. Sambil menghentikan tangannya, dengan tegas kita harus berkata kepadanya: “wahai saudaraku! Bagaimana pun keadaannya aku akan senantiasa berdampingan dengan kamu, akan tetapi Islam tidak mengizinkan perbuatan aniaya. Aku tidak akan membiarkan tanganmu melakukan kezaliman.”

Demikianlah prinsip dasar dan peraturan suci yang dikemukakan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadis ini. Sebagian orang mengemukakan persepsi bahwa dalam hadis ini yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ adalah, jika saudaramu itu mazlum(yang dianiya)kamu harus menolongnya, dan jika dia itu zalim(yang menganiaya)kamu harus menentangnya. Anggapan ini sangat keliru dan sama dengan mempermainkan kata-kata yang penuh ilmu dan hikmah dalam hadis ini.

Seandainya Rasulullah ﷺ benar beranggapan demikian, maka dengan mudah beliau ﷺ akan berkata; “Bagaiamana pun kamu harus melawan kezaliman, biar itu dari musuhmu atau dari seorang saudaramu”. Namun beliau ﷺ sama sekali tidak berkata demikian.

Bahkan dua keadaan yang semula kelihatan bertentangan satu sama lain, oleh beliau ﷺ dipadukan dalam satu rumusan sikap dan pemahaman yang benar dan arif, sebagai berikut:

  1. Bagaimana pun saudaramu tetap berhak untuk ditolong
  2. Bagaiaman pun kezaliman harus dilawan
  3. Bila saudaramu zalim dia harus didekati, kemudian dengan sekuat tenaga mencegah tangannya yang zalim itu, supaya persaudaraan tetap terpelihara dan kezaliman dapat dilenyapkan.

Demikianlah sikap dan pemahaman yang sempurna, empat belas abad yang silam dikemukakan kepada dunia oleh Rasulullah ﷺ di padang pasir tanah Arab.

Jadi, tidak ada satu bangsa pun baik di Amerika atau di Eropa yang katanya sudah maju, mampu memiliki sikap dan pemahaman yang demikian luhur dan sempurna. Bahkan, bila mereka mengikat tali persaudaraan, dengan menjunjung tinggi persaudaraan itu mereka melakukan tindakan aniaya yang tidak terhingga, dan bila mereka memiliki anggapan bahwa mereka berdiri untuk menghapuskan suatu keaniayaan(kezaliman)bersamaan dengan itu mereka mencabik-cabik ikatan persaudaraan.

Dikutip dari: Buku Empat Puluh Permata Hadits, Karya Hadhrat Mirza Bashir Ahmad MA, r.a. Diterjemahkan oleh: Mln.Malik Aziz Ahmad Khan(alm). Ditulis ulang oleh : Abdul Haq Kartono

Leave a Reply

Your email address will not be published.