Pujian Para Ulama dan Tokoh Dunia Kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.

Pujian Para Ulama dan Tokoh Dunia Kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.

Oleh : Syamsul Ulum

Pujian dari sahabat adalah sesuatu yang biasa, tapi pujian dari lawan barulah luar biasa. Dari masa ke masa, Allah swt. selalu mengirim utusan-Nya untuk menunjukkan keberadaan-Nya pada dunia. Utusan itu selalu dianugerahi  semangat besar dalam membesarkan agama Allah swt. dibarengi dengan ketajaman hujah sebagai bukti kebenaran. Hal ini jugalah yang berlaku atas diri Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. yang datang sebagai al-Masīḥ wal Mahdi Al-Mau’ud. Beliau dianugerahi semangat yang tiada banding dalam membela Islam dibarengi dengan hujah yang cemerlang.

Ada satu adagium yang mengatakan bahwa:

الحق ما شهدت به الأعداء

“Kebenaran dan keunggulan itu adalah apa yang telah disaksikan oleh lawannya”.

Kesaksian Dunia terhadap Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as (al-Masīḥ wal Mahdi Al-Mau’ud). Sehubungan dengan kewafatan beliau, banyak surat kabar, para ulama dan zu’ama yang memuji dan mengagumi beliau dalam membela dan menyiarkan Islam ke seluruh dunia. Pujian itu bukan hanya datang dari murid-murid beliau, tapi juga dari ulama-ulama yang tidak menerima pendakwahan beliau, bahkan dari lawan yang bertentangan dengan pendakwahan beliau.  Diantaranya seperti kutipan berikut ini:

(1). Harian Sadik al Akbari, Rewari, India mengomentari sebagai berikut:

“Mirza Sahib dengan khutbah-khutbahnya yang kuat dan tulisan-tulisannya yang mengagumkan, telah beristirahat untuk selama-lamanya. Beliau yang menghadapi lawan-lawan Islam dengan menunjukkan bukti yang tak terjawab, dan membuktikan bahwa kebenaran selamanya menang. Sesungguhnya Mirza Sahib telah memberikan pengabdian yang paling sangat berharga bagi Iman Islam dengan sepenuh kemampuannya, tugas untuk membela Islam, mengejutkan dari pengabdi Islam yang berkemauan keras seperti beliau. Seorang penolong kaum Muslimin, seorang ulama besar yang semacam beliau yang tidak pernah kita dapati lagi”. (Mujaddid A’zham).

(2). Maulana Abdul Kalam Asad, seorang negarawan Muslim India yang pada zaman India merdeka menjadi Menteri Pendidikan dan Pengajaran sampai akhir hayatnya, menulis dalam majalah Wakeel yang beliau pimpin sebagai berikut :

“Orang yang selama tiga puluh tahun menjadi angin topan dan gempa bumi dalam dunia agama, yang dua genggaman tangannya laksana baterai elektrik dan pada jarinya tertambat kawat-kawat revolusi yang berbanjar-banjar, yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad di Qadian, meninggal dunia”. Lebih lanjut beliau menulis:

“Wafatnya Mirza Ghulam Ahmad Sahib dari Qadian, bukan semacam peristiwa di mana satu pelajaran tidak harus ditelaah darinya, ataupun ini diserahkan kepada berlalunya waktu agar terlupakan. Orang semacam ini yang menghasilkan revolusi agama atau intelektual tidaklah sering dilahirkan. Putra-putra sejarah ini, kepada siapa dengan tepat bisa dipetik rasa bangga, nampak sangat jarang di arena dunia, dan ketika mereka mengusung satu revolusi yang bisa dilihat oleh semua orang”.

(3). Mirza Hairat Dahlewi, seorang pujangga yang dikenal pula sebagai penentang Hadhrat Mizra Ghulam Ahmad menulis sebagai berikut:

“Pengabdian almarhum Mirza Sahib bagi Islam speerti dalam menghadapi Arya Samaj dan Kristen sangat berharga dan terpuji. Beliau merobah semrawutnya debat-debat agama dan meletakkan dasar dari literatur modern keagamaan di India tidak hanya sebagai seorang Muslim tetapi juga sebagai seorang peneliti, saya mengakui bahwa orang-orang Arya yang paling terkemuka maupun pendeta Kristen tidak berani buka mulut menghadapi beliau. Saya belum pernah melihat sampai detik ini suatu buku jawaban ataupun sanggahan yang ditulis kaum Arya/Kristen terhadap buku-buku beliau dan dengan tidak terjawabnya maka terbukalah maksud-maksud sesungguhnya dari Islam” (Curzon Gazete, 1 Juni 1908).

(4). Khaudry Afzal Haque, Presiden Majlis Ahrar suatu organisasi yang menentang keras Ahmadiyah, menulis pujian sebagai berikut:

“Sebelum terbentuknya Arya Samaj, Islam adalah satu tubuh yang mati tanpa semangat dakwah. Konsepsi yang keliru dari Swami Dayananda tentang Islam membangunkan kaum Muslimin sementara waktu; tetapi sesudah itu mereka tertidur lagi seperti biasa. Tiada organisasi atau maksud-maksud dakwah timbul, hanya satu orang inilah yang sakit hatinya melihat perpecahan di kalangan kaum Muslimin dan beliau bangkit. Mengumpulkan sekelompok kecil sekeliling beliau dan ditegakkan penyiaran Islam. Meskipun Mirza Ghulam Ahmad bisa melepaskan diri dari penggolongan, bagaimanapun beliau meniupkan semangat dakwah kepada para pengikutnya yang berharga untuk diikuti tidak saja bagi golongan-golongan lain dalam Islam, tetapi juga menyajikan suatu contoh tersendiri bagi semua organisasi-organisasi dakwah yang lain”. (Fitna-e Irtada Air Political Qalabazian, hal. 46).

(5). Maulana Abdullah Al-‘Madi, dari Amritsar dalam satu artikel dengan judul “Wafatnya seorang Ulama”, menulis pujian sebagai berikut:

“Wafatnya Mirza Ghulam Ahmad Sahib dan Qadian tidaklah sekedar bahwa kita tidak menarik pelajaran dari hal itu dan melupakannya sebagai bagian dari sejarah. Orang semacam beliau yang menciptakan revolusi dalam kalangan cerdik cendekia maupun keagamaan tidaklah seringkali dilahirkan. Hanya sedikit sekali putra-putra yang merupakan kebanggaan sejarah kemanusiaan, dilahirkan dan ketika mereka muncul mereka melenyapkan revolusi”.

Lebih lanjut beliau nyatakan, “Dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan yang kecil dengan sedikit pernyataan dan kepercayaan, kematian dari Mirza Sahib telah membuat kaum intelegensia yangt terdidik dari kaum Muslimin merasa bahwa seorang dari orang-orang yang besar mereka telah berlaku dan beserta beliau babak-babak yang mulia tentang pembelaan Islam yang dilambangkan dengan kepribadiannya, telah berakhir.

Kwalitasnya yang besar adalah bahwa beliau dibebani suatu utgas sebagai jendral yang menang perang terhadap musuh-musuh Islam memaksa kami untuk mengakui bahwa Gerakan yang besar untuk membuat musuh-musuh kami tidak berdaya dan tidak bisa efektif lagi harus dilanjutkan. Jiki tiada aral melintang, dari suatu landasan yang bersatu dengan rasa tanggung jawab bersama berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Mirza sahib tampak sebagai pelopor dari badan yang cinta keimanan yang menyerahkan pengorbanan ini untuk Islam. Mereka, dari lahir sampai mati, dalam keadaan kaya atau susah mengorbankan semua yang mereka miliki kepada keimanan dan panggilan dari Tuhan yang mereka cintai” (Wakeel, Amritsar, 30 Mei 1908).

Mingguan Life Amerika, menulis:

“Belum selang beberapa lama umat Islam masih belum punya suatu gerakan teratur dan terorganisir, baik dibidang dakwah…Akan tetapi sekarang kita jumpai tanda yang nyata pada mereka dengan perhatiannya tekhnik dakwah misi-misi Kristen. Golongan Islam yang paling kuat, paling dinamis dan hidup diantara semua orang Islam adalah golongan Ahmadiyah yang berpusat di Pakistan, yang memiliki Pusat-pusat Dakwah di seluruh Eropa, Afrika, Amerika dan Timur jauh…Di beberapa daerah dimana misionaris-misionaris Kristen dan Muballig-muballig Islam Ahmadiyah berlomba-lomba dalam dakwah, maka hasil yang ia capai adalah apabila seorang berhasil dimasukan ke dalam Kristen, maka 10 orang lainnya masuk ke dalam agama Islam….(Life, 9 Mei 1955)

“Di Ashanti dibagian selatan Gold Coast agama Kristen sekarang ini masih mempertahankan kedudukannya. Sekalipun begitu di beberapa daerah di bagian selatan ini terutama sepanjang pantai, Jemaat Ahmadiyah mencapai kemenangan besar terus-menerus. Harapan yang dikenal ialah Gold Coast akan jadi Kristen secepatnya, tetapi harapan ini sekarang dalam keadaan bahaya lebih jauh dari apa yang kita pikirkan. Bahwa Gereja Kristen dihadapkan pada ancaman bahaya yang besar tidak dapat diragukan lagi. Kita belum dapat memutuskan, apakah Salib yang akan menang ataukah Bulan Sabit, Crescent (Islam) yang akan menguasai seluruh Afrika……(S.G. Williamson dalam: Crist or Muhammad”, University College og Gold Coast, 1953)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *