Perhatian Terhadap Bencana Kelaparan : Bagaimana Islam Mengatasi Tantangan Ketahanan Pangan yang Berkelanjutan

Perhatian Terhadap Bencana Kelaparan : Bagaimana Islam Mengatasi Tantangan Ketahanan Pangan yang Berkelanjutan

 

Oleh : Al-Hafiz Yunus Omotayo[1]

Terjemahan : Fatimah Zahra

Di Somalia, Suray kehilangan anak-anaknya. Dia membawa ketujuh anaknya dalam perjalanan dua minggu ke Baidon dalam upaya yang putus asa untuk mencari makanan. Namun, satu demi satu mereka melemah lalu mati. Yang terakhir, seorang bayi, dia masih menyusu. Penduduk desa yang baik membantu ia menggali kuburan dangkal di tanah yang keras. “Saya tidak sadar lagi,” katanya. “Saya tersesat dalam kesedihan. Saya bahkan tidak tahu bagaimana saya bisa sampai di sini. “[2]

Fakta yang mengganggu adalah di seluruh dunia, jutaan orang menghadapi nasib yang sama: kelaparan, kekurangan gizi, dan kematian. Sekitar 9 juta orang meninggal setiap tahun karena kelaparan dan penyakit dikarenakan kelaparan. Ini lebih dari jumlah gabungan kematian akibat AIDS, malaria dan tuberkulosis. Seorang anak meninggal karena kelaparan setiap 10 detik. Gizi buruk dan kelaparan bertanggung jawab atas kematian 3,1 juta anak setiap tahun,atau hampir setengah dari semua kematian pada anak-anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia. [3]

Apa itu kelaparan dan siapa yang kelaparan? Mengapa orang lapar? Seberapa fatal efek kelaparan di dunia? Apa tantangan yang menghalangi ketahanan pangan di dunia? Islam menawarkan pendekatan dan tindakan praktis untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan. Tulisan ini berusaha untuk menelaah masalah-masalah tersebut.

 

Kelaparan – Arti, Penyebab, dan Kematian Global

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), ketahanan pangan ada ketika semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik, sosial dan ekonomi ke makanan yang cukup, aman dan bergizi yang memenuhi kebutuhan makanan dan preferensi mereka untuk aktif dan hidup Sehat. Kekurangan atau kelaparan terjadi ketika asupan kalori di bawah kebutuhan energi makanan minimum (MDER). MDER adalah jumlah energi yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas ringan dan untuk mempertahankan berat badan minimum yang dapat ditolerir tubuh untuk mencapai tinggi badan[4]. Dalam bidang politik, bantuan kemanusiaan, dan ilmu sosial, kelaparan adalah keadaan di mana seseorang dalam jangka waktu yang lama tidak dapat makan cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi dasarnya. [5]

 

Hingga abad ke-21, kelaparan terus berlanjut sebagai salah satu krisis kesehatan paling parah di dunia. Dan ada kecenderungan untuk menjadi lebih buruk Terutama sekarang setelah dunia mulai menghadapi efek Covid-19. Faktanya, pembatasan pergerakan sudah mulai mempengaruhi pendapatan mereka yang rentan, menghambat makanan sampai ke mereka yang membutuhkan, yang menyebabkan jutaan orang di seluruh dunia kehilangan makanan dan kudapan. Selain itu, terhambatnya pengiriman benih dan alat pertanian kepada petani di banyak negara menyiratkan kemungkinan bahwa pandemi kelaparan global ini dapat meningkat dan mengancam kehidupan kelompok yang lebih rentan. Secara keseluruhan, diperkirakan 265 juta orang akan berada di ambang kelaparan pada akhir tahun 2020. [6]

Patut dicatat bahwa, pada tahun 1990, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan development goal untuk mengurangi separuh jumlah orang yang menderita kelaparan. Namun, meski kelaparan global berkurang 2 miliar orang antara tahun 1990 dan 2015, laporan PBB tahun 2019 menunjukkan bahwa jumlahnya telah meningkat dalam tiga tahun terakhir[7] – dari 784 juta pada 2015 menjadi 804 juta pada 2016; 821 juta pada 2017, dan 822 juta pada 2018. Demikian pula, jumlah penduduk kurang gizi juga meningkat – 10,6% pada 2015; 10,7% pada 2016; 10,8% pada 2017, dan 10,8% pada 2018. Dari 822 juta kekurangan gizi pada 2018, 113 juta menghadapi kelaparan akut. [8]

Di Nigeria, 27% keluarga mengalami hari-hari tanpa makanan. Di India, 24%; dan di Peru, 14%.[9]  Satu dari setiap sembilan orang tidur dalam keadaan lapar setiap malam, termasuk 20 juta orang yang saat ini berisiko kelaparan di Sudan Selatan, Somalia, Yaman dan Nigeria. 98% dari kelaparan dunia terjadi di daerah berkembang. Jumlah penderita malnutrisi tertinggi – 520 juta – berada di Asia dan Pasifik. Di sub-Sahara Afrika, 243 juta orang menghadapi kelaparan di negara-negara tandus. Dan jutaan orang di Amerika Latin dan Karibia tengah berjuang untuk mendapatkan cukup makanan.[10]  “Bahkan di Inggris dan Amerika Serikat,” kata Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh., Pimpinan Jemaat Muslim Ahmadiyah dunia keempat, “ada ratusan ribu orang tanpa tempat tinggal dan mereka yang harus mengorek tempat sampah untuk mendapatkan sisa makanan guna memuaskan rasa lapar mereka.[11]

Kelaparan adalah siklus berbahaya yang turun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Keluarga yang berjuang dengan kelaparan kronis dan malnutrisi secara konsisten hidup tanpa nutrisi yang dibutuhkan oleh otak dan tubuhereka, yang kemudian menghalangi mereka untuk dapat melakukan yang terbaik di tempat kerja, sekolah, atau untuk meningkatkan kehidupan mereka. Orang yang menderita kelaparan kronis terjangkit penyakit menahun, perkembangan yang cacat dan produktivitas yang rendah. Mereka seringkali terpaksa menggunakan semua sumber daya fisik dan keuangan mereka yang terbatas hanya untuk menyediakan makanan di atas meja.[12]

 

Tantangan Ketahanan Pangan

Mengapa jutaan orang kesulitan untuk mendapatkan makanan untuk dimakan dan mengalahkan jenis kelaparan yang “terlihat” dan “tersembunyi” – kelaparan dan malnutrisi? Seperti yang diyakini oleh banyak pakar pangan, jawaban langsungnya adalah bahwa keluarga di negara yang mengalami kelaparan berjuang untuk mendapatkan makanan yang mereka butuhkan karena beberapa masalah: kurangnya infrastruktur, peperangan yang sering dan pengungsian, bencana alam, perubahan iklim, kemiskinan kronis dan kurangnya daya beli. Lebih dari itu, ada tantangan pembuangan makanan. Faktanya, hingga sepertiga dari makanan yang diproduksi di seluruh dunia tidak pernah dikonsumsi. Beberapa faktor yang menyebabkan terbuangnya makanan antara lain termasuk teknik pertanian yang tidak efisien, kurangnya penyimpanan pasca panen dan sumber daya manajemen, dan rantai pasokan yang rusak atau tidak efisien[13].  Selain itu, tata kelola yang buruk dan tidak dapat diaksesnya makanan juga merupakan beberapa tantangan.

 

Bagaimana Islam Mengatasi Tantangan Ketahanan Pangan

Sebagai agama universal, Islam mengakui perlunya ketahanan pangan yang berkelanjutan bagi seluruh umat manusia. Dalam konteks ini, Islam menawarkan pendekatan dan tindakan berikut untuk memastikan bahwa umat manusia mendapatkan makanan, terutama bagi yang paling rentan – yang membutuhkan dan yang miskin.

 

Jaminan Kemampuan Bumi atas Pangan Maksimal untuk Umat Manusia

Populasi dunia diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 10 miliar pada tahun 2050 – naik dari 7 miliar populasi saat ini. Itu berarti akan ada lebih dari 2 miliar lebih orang yang membutuhkan makanan pada tahun 2050. Memastikan ketersediaan makanan yang cukup untuk setiap orang akan menjadi tantangan yang semakin meningkat seiring dengan berlipatnya populasi.[14]

Namun, terkait persoalan di atas, pernyataan Al-Qur’an tentang kemampuan bumi untuk menyediakan pangan yang maksimal bagi umat manusia sangat meyakinkan. Allah swt. berfirman:

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِىَ مِن فَوْقِهَا وَبَٰرَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَآ أَقْوَٰتَهَا فِىٓ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَآءً لِّلسَّآئِلِينَ

Dia menempatkan di sana gunung-gunung yang kokoh di atas permukaannya, dan memberkatinya dengan kelimpahan, dan menyediakan di dalamnya makanan dalam jumlah yang tepat dalam empat hari – dalam jumlah yang sama untuk semua manusia. (Al-Qur’an, 41:11).

Mengomentari ayat di atas, dalam tafsir Al-Qur’annya, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra. menjelaskan: ‘Kata-kata, “menyediakan makanan dengan ukuran yang tepat,” menandakan bahwa bumi sepenuhnya mampu menyediakan makanan bagi semua makhluk yang hidup di atasnya. Ungkapan, “Sama untuk semua manusia” dapat menandakan bahwa makanan yang telah Tuhan sediakan di bumi dapat diakses secara merata oleh semua manusia yang berusaha mendapatkannya sesuai dengan hukum alam. Ini juga dapat berarti bahwa semua kebutuhan fisik dan kebutuhan manusia telah terpenuhi secara memadai dari makanan yang tumbuh dari bumi. Jadi ketakutan bahwa suatu hari nanti bumi mungkin tidak dapat menumbuhkan cukup makanan untuk populasi dunia yang meningkat pesat adalah tidak berdasar. ‘Dia menyimpulkan dengan kutipan dari Profesor Colin Clark, Direktur Institut Penelitian Ekonomi Pertanian Universitas Oxford, yang meramalkan bahwa, “Dunia dapat menyediakan makanan, serat, dan semua kebutuhan pertanian lainnya untuk 28 miliar orang.[15]

Bumi kita bisa memberi makan 28 miliar orang! Kepastian ini semakin ditekankan ketika dibaca dalam  proyeksi ahli yang didokumentasikan dalam jurnal berjudul, How Many People Can the Earth Feed: ‘Kombinasi dari praktik agronomi yang lebih baik (terutama, efisiensi penggunaan pupuk dan air yang lebih tinggi), mengurangi limbah pasca panen, dan makan yang lebih sehat (khususnya pengurangan asupan lemak) dapat memberikan nutrisi yang cukup untuk 3 miliar orang tambahan tanpa adanya peningkatan pasokan yang ada. Selain itu, mobilisasi produksi pasokan baru yang realistis dapat menyediakan cukup makanan untuk 2 miliar orang lagi. Akibatnya, tampaknya tidak ada rintangan yang tidak dapat diatasi untuk memberi makan populasi global yang berjumlah sekitar 10 miliar orang yang diperkirakan ada pada akhir pertengahan abad ke-21.[16]

Berbagai pemerintah harus terus merancang mekanisme untuk mengurangi pembuangan dan pemborosan pangan. Dalam artikel penelitian makanan yang diterbitkan oleh World Resources Institute, para penulis menyatakan bahwa sekitar seperempat makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia tidak dimakan. Pembuangan dan pemborosan terjadi di sepanjang rantai makanan, dari ladang hingga meja makan. Mengurangi pembuangan dan limbah pangan sebesar 25% pada tahun 2050 akan menutup kesenjangan pangan (*) sebesar 12%, kesenjangan lahan (**) sebesar 27% dan kesenjangan mitigasi GRK (***) sebesar 15%. Tindakan yang harus diambil termasuk mengukur limbah makanan, menetapkan target pengurangan, meningkatkan penyimpanan makanan di negara berkembang dan merperbaiki kedaluwarsa pangan[17].

 

Deklarasi Empat Fasilitas Dasar

Al-Qur’an menyatakan:

Diberikan kepadamu bahwa kamu tidak akan lapar di dalamnya, dan kamu tidak akan telanjang. Dan bahwa engkau tidak akan haus di dalamnya, dan tidak akan terkena (sengatan) matahari. ‘(Al-Qur’an, 20: 119-120)

Dalam bukunya Islam’s Response to Contemporary Issues, Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh. mencatat bahwa:

Islam menetapkan hak minimum dalam bentuk piagam empat poin dengan mendefinisikan kebutuhan dasar yang harus diperoleh suatu negara: makanan, pakaian, air dan tempat tinggal … Pemerintah memiliki tanggung jawab nasional dan internasional. Tanggung jawab di tingkat nasional ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap anggota masyarakat dengan memastikan bahwa semua diberi makan yang memadai, pakaian, dan disediakan air dan tempat tinggal. Tugas internasional adalah untuk berpartisipasi penuh dalam mengumpulkan sumber daya untuk memenuhi tantangan bencana alam berskala luas atau bencana akibat ulah manusia dan untuk membantu negara-negara yang tidak mampu menangani krisis dengan tepat sendirian. Dengan demikian, adalah tugas negara untuk membereskan masalah dengan menyediakan pengemis dan orang miskin apa yang sebenarnya menjadi milik mereka. Jadi empat persyaratan dasar makanan, pakaian, air, dan tempat tinggal, adalah prioritas di atas semua pertimbangan lainnya.[18]

Perlu dicatat bahwa banyak orang yang kelaparan tinggal di negara dengan surplus pangan, bukan kekurangan pangan. Sebagian besar masalahnya adalah bahwa orang yang paling membutuhkan makanan tidak memiliki akses tetap ke sana[19].  Dalam konteks ini, menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memberlakukan jaminan sosial, infrastruktur dan sistem yang akan memfasilitasi aksesibilitas pangan, terutama bagi warga yang terjerat kemiskinan[20].

 

1.     Anjuran Memberi Makan Orang Miskin sebagai Sarana Pengampunan

 

Mungkin – di antara agama-agama dunia – Islam memiliki perbedaan dalam mengadopsi anjuran memberi makan orang miskin sebagai sarana penebusan dosa. Misalnya, hukuman bagi yang melanggar sumpah adalah memberi makan sepuluh orang miskin dengan makanan rata-rata seperti mereka memberi makan keluarga mereka sendiri (Al-Qur’an, 5:90). Demikian pula, hukuman bagi seorang Muslim yang bersalah karena sengaja membunuh hewan buruan dalam keadaan berziarah (haji) yaitu harus memberi makan empat kali lipat orang miskin sebagai penebusan (Al-Qur’an, 5:96). Terlebih lagi, sementara puasa di bulan Ramadhan adalah wajib, anjuran bagi mereka yang tidak dapat melaksanakan ibadah puasa adalah memberi makan orang miskin selama 30 hari puasa (Al-Qur’an, 2: 185). Lebih jauh lagi, seorang Muslim yang bersalah atas Zihar [kebiasaan pagan menyebut istri seseorang “ibu” dengan maksud untuk menghentikan hubungan suami-istri dengannya] harus menebus dengan memberi makan enam puluh orang miskin (Al-Qu’ran, 58: 5). Semua ini diperhitungkan untuk meringankan tantangan kelaparan yang tertindas di masyarakat.

 

2.     Pelembagaan Pungutan Zakat

Untuk mencapai jaminan sosial yang berkelanjutan bagi kelompok masyarakat yang rentan – yang pada gilirannya akan memastikan daya beli mereka, dan karenanya dapat memfasilitasi ketahanan pangan mereka – Islam mengamanatkan pembayaran sedekah oleh orang kaya untuk melayani mereka yang tidak mampu (Al-Qur’an) , 24:57). Penerima manfaat dari ketentuan ini juga dengan jelas menyatakan:

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya sedekah-sedekah itu untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin dan petugas-petugas dalam urusan itu dan orang-orang yang dipikat hatinya dan untuk membebaskan  tawanan dan untuk mereka yang berhutang dan untuk mujahid-mujahid  di jalan Allah swt. dan orang-orang musafir, yang demikian itu ketetapan dari Allah swt. Dan Allah swt. Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (QS. 9 : 60)

 

3.     Mendorong Penelitian Ilmiah ke Pertanian

 

Cara lain Islam menjawab tantangan ketahanan pangan adalah dengan mendorong penelitian ilmiah di bidang pertanian. Ini dapat disimpulkan dari perintah Al-Qur’an berikut:

“Sekarang biarlah manusia melihat makanannya: bagaimana kami menuangkan air dalam jumlah yang banyak, lalu Kami membelah bumi – pembelahan yang tepat – kemudian Kami menumbuhkan di dalamnya biji-bijian, dan anggur dan sayuran, dan zaitun dan kurma, dan kebun bertembok tebal ditanam, dan buah-buahan dan rumputan. Perbekalan untukmu dan ternakmu”(QS. 80 : 25-33)

Selain dari arti harfiahnya, kata ‘melihat’ (seperti yang digunakan dalam ayat dan ayat serupa: Al-Qur’an surah 86: 6 ; surah 88: 18-21) juga mengandung arti keharusan bagi umat manusia untuk melihat secara ilmiah atau melakukan penelitian atas produksi pangan untuk memaksimalkan produktivitas. Ayat-ayat di atas dengan indah menyoroti bidang penelitian terkait yang secara luas berkisar dari ilmu tanaman dan tanah hingga kondisi curah hujan dan pengelolaan air (irigasi, dll.); praktik produksi (pengolahan tanah, dll.); sistem budidaya tanaman (sistem berpindah dan tahunan, dll.) dan kategori tanaman pangan, antara lain.

Tentu saja, studi berkelanjutan tentang hukum alam (sains) dan penerapannya (teknologi) pada produksi pangan adalah kunci untuk mencapai hasil pertanian yang tinggi. Menurut laporan International Food Policy Research Institute, teknologi pertanian akan memiliki dampak terbesar pada produksi pangan jika diterapkan dengan mengkombinasikan satu sama lain. Dengan menggunakan model yang menilai bagaimana sebelas teknologi dapat memengaruhi produktivitas pertanian, ketahanan pangan, dan perdagangan pada tahun 2050, International Food Policy Research Institute menemukan bahwa jumlah orang yang berisiko kelaparan dapat dikurangi sebanyak 40% dan harga pangan dapat diturunkan hampir setengahnya.

 

4.     Nasihat Umum tentang Memberi Makan Orang Miskin

Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa siapa pun, terutama Muslim yang mengabaikan atau tidak memberi makan orang miskin, telah menolak atau menyangkal esensi agama:

Apakah kamu melihat dia yang menolak agama? Itu adalah orang yang mengusir anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin  (Al-Qur’an, 107: 2-4).

Al-Qur’an menganjurkan untuk mengangkat taraf hidup orang miskin sebagai kebutuhan untuk kemajuan nasional dan mengecam setiap orang kaya yang menolak untuk menyalurkan kekayaannya ke jalan kemajuan material dan spiritual:

Dan Kami menunjukkan kepadanya dua jalan. Tapi dia tidak mengikuti jalan ‘Aqabah’. Dan apa yang harus membuat Anda tahu apa itu ‘Aqabah’? Itu adalah pembebasan seorang budak, atau memberi makan pada hari kelaparan, seorang yatim piatu yang dekat dengan kerabat, atau orang miskin yang terbaring di atas tanah. (Al-Qur’an, 90: 11-17)

Dalam bukunya The Economic System of Islam, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra. menjelaskan dalam ayat-ayat di atas bahwa:

“Memberi makan anak yatim piatu dekat kerabat tidak berarti hanya memberi makan anak yatim yang masih kerabat … Ada anak yatim piatu yang tidak memiliki saudara. Anak-anak yatim piatu ini begitu tidak berdaya dan tidak bersahabat sehingga kadang-kadang bahkan orang yang paling berhati batu pun akan merasa simpati dan memberi mereka makan … Bagian terakhir dari ayat ini menanyakan mengapa ‘orang miskin yang terbaring di dalam debu’ tidak diberi makan … Namun, Tuhan mengharapkan kita untuk memiliki simpati dan cinta sedemikian rupa sehingga kita harus mencari orang miskin yang tidak berdaya yang bahkan tidak memiliki kapasitas untuk memprotes dan memohon di depan pintu seseorang… dia tetap tersembunyi dalam penyakit dan kesedihan; dia tidak punya teman tanpa harapan atau energi tersisa.[21]

Al-Qur’an meyakinkan mereka yang memberi makan orang miskin akan kebahagiaan surga. Ia mengatakan:

Dan mereka memberi makan, karena cinta kepada-Nya, orang miskin, yatim piatu, dan tawanan, sambil berkata,’ Kami memberimu makan hanya untuk kesenangan Allah swt.. Kami tidak menginginkan imbalan atau terima kasih dari Anda. Jadi Allah swt. akan menyelamatkan mereka dari kejahatan hari itu, dan akan memberikan mereka keceriaan dan kebahagiaan. (Al-Qur’an, 76: 9-12)

Di sisi lain, bagi mereka yang tidak memberi makan orang miskin, ini menyajikan skenario dramatis yang akan terungkap antara mereka dan orang-orang di sebelah kanan – penghuni surga – pada Hari Penghakiman:

Kecuali yang di tangan kanan. Mereka akan berada di Taman saling bertanya tentang orang-orang yang bersalah. “Apa yang membawamu ke dalam Api Neraka? Mereka akan berkata, ‘Kami bukan dari mereka yang shalat, kami juga tidak memberi makan orang miskin …’ (Al-Qur’an, 74: 40-45)

Dalam hadits, dikisahkan bahwa Nabi Muhammad saw. dengan tegas menyatakan bahwa, “Orang seperti itu bukanlah orang beriman yang melewatkan malam dengan perut kenyang sementara tetangga dekatnya tetap lapar[22]. ” Dalam perspektif Nabi (saw), yang terbaik dari Islam adalah ‘bahwa Anda memberi makanan dan mengungkapkan salam damai pada orang yang Anda kenal atau tidak[23]

Tentang penulis: Al-Hafiz Yunus Omotayo adalah Imam Jemaat Muslim Ahmadiyah, Nigeria, dan Pimpinan Muslim Writers Guild of Nigeria, dan seorang koresponden berita di Truth Newspaper, Nigeria.

 

 

 



[2] Facing Famine: Battling Hunger with Hope in East Africa– World Vision https://www.worldvision.org/hunger-news-stories/facing-famine-hunger-hope-east-africa– diterbitkan 10 July  2020

[3] How Many People Die From Hunger Each Year? – TheWorldCounts https://www.theworldcounts.com/challenges/people-and-poverty/hunger-and-obesity/how-many-people-die-from-hunger-each-year– diterbitkan 6 Juni 2020.

[4] FAO Statistical Yearbook 2012: Part 2 Hunger Dimensions, (PDF) FAO 2012 – diterbitkan 8 Juni 2020

[5] Hunger, Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Hunger?wprov=sfla1– diterbitkan 8 Juni 2020

[6] Global Hunger Facts – What You Need to Know | Mercy Corps https://www.mercycorps.org/blog/quick-facts-global-hunger.

[7] Ibid.

[8] How Many People Die From Hunger Each Year? – TheWorldCounts Global Hunger Facts, Op. Cit.

[9] Global Food Security: 10 Challenges – The Globalist https://www.theglobalist.com/global-food-security-10-challenges/– diterbitkan 8 Juni 2020.

[10] Global Hunger Facts – What You Need to Know | Mercy Corps, Op. Cit.

[11] Ahmad, Mirza Tahir, Islam’s Response to Contemporary Issues, (1997), Islam International Publications Ltd., UK, hal. 211

[12] Global Hunger Facts – What You Need to Know | Mercy Corps, Op. Cit.

[13] Ibid.

[14] Global Hunger Facts – What You Need to Know | Mercy Corps, Op. Cit.

[15] Ahmad, Mirza Bashiruddin Mahmud, The Holy Qur’an, English Translation and Commentary, [2008], Nazarat Nashro Ishaat, India, vol. 4, hal.. 2322-2323

[16] How Many People Can the Earth Feed? on JSTOR https://www.jstor.org/stable/2137520?seq=1– diterbitkan 8 Juni 2020.

[17] How to Sustainably Feed 10 Billion People by 2050, in 21 Charts | World Resources Institute https://www.wri.org/blog/2018/12/how-sustainably-feed-10-billion-people-2050-21-charts.

[18] Ahmad, Mirza Tahir, Islam’s Response to Contemporary Issues, (1997), Islam International Publications Ltd., UK, hal.. 212-213

[19] Global Hunger Facts – What You Need to Know | Mercy Corps, Op. Cit.

[20] International Food Policy Research Institute (2014) Food Security in a World of Growing Natural Resources Scarcity. Croplife International. Archived from the original on 5 March 2014 – diterbitkan 1 Juli 2013.

[21] Ahmad, Mirza Bashiruddin Mahmud, The Economic System of Islam, (2013), Islam International Publications Ltd., UK, hal.. 25-26.

[22] Diriwaytkan oleh Abdullah bn Abbas dan terdapat pada al-Mustadrak of al-Hakim

[23] Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr in Sahih al-Bukhari (Hadits no. 11) and Sahih Muslim (Hadits No. 56)

Leave a Reply

Your email address will not be published.