Kebenaran Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. Ditinjau dari Ayat ولو تقوّل علینا بعض الاقاویل Bagian 2


Oleh : Arif Rahman Hakim
       Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya dengan judul yang sama, karena cukup panjang editor memecahnya dalam dua bagian. 

Jadi nampak dari beberapa referensi tafsir di atas bahwa menurut para mufassir, hukuman bagi seorang pendusta dalam ayat ini jelas, yaitu dia sedikit pun tidak akan mendapatkan kesempatan, sebagaimana lamanya jangka waktu Rasulullah saw. menyampaikan dakwa beliau yaitu 23 tahun. Akan tetapi, dia akan dibinasakan sesegera mungkin dan anak keturunannya pun akan dimusnahkan. Para mufassir pun telah sependapat berkenaan dengan ini. Masih banyak lagi referensi-referensi tafsir yang menafsirkan ayat         ولو تقوّل علینا بعض الاقاویل  ini. Bagaimana pun juga para mufassir telah sepakat atas perkara ini bahwa dalam ayat ini disampaikan standar kehancuran dan kebinasaan para pendusta dan Allah Ta’aala tidak akan memberikan kesempatan selama 23 tahun kepada pendakwa ilham palsu.
           
        I.            Sepuluh Ayat Qur’an Tentang Kebinasaan Pendusta
Kemudian bagi para pendusta pun Alqur’an mengemukakan bahwa Allah Ta’aala juga telah menetapkan kebinasaan mereka. Berikut sepuluh (10) ayat-ayat Qur’ani yang menyatakan kebinasaan para pendusta yang mengada-adakan perkataan atas nama Allah Ta’aala.
            Penegasan mafhum ayat ولو تقوّل علینا بعض الاقاویل dan untuk menangkal penjelasan asal-asalan bahwa “di dalam Alqur’an Suci tidak disebutkan tentang seorang pendusta yang dibinasakan dengan cepat” maka kami menyampaikan sepuluh (10) bukti dalam Alqur’an tentang kebinasaan seorang pendusta degan cepat.
1        1.  Q.S. Taha: 62
قَالَ لَهُم مُّوسَىٰ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ وَقَدۡ خَابَ مَنِ ٱفۡتَرَىٰ 
“Musa berkata kepada mereka, “Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan dusta terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan suatu azab, dan sesungguhnya orang yang mengada-adakan dusta akan gagal.”

2        2. Q.S. Al-Nahl: 117
ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ
“Sesungguhnya, orang-orang yang mengada-ada dusta terhadap Allah tidak akan mendapatkan kesuksesan.”
3.       3. Q.S. Hud: 36
 ۖ قُلۡ إِنِ ٱفۡتَرَيۡتُهُۥ فَعَلَيَّ إِجۡرَامِي وَأَنَا۠ بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُجۡرِمُونَ
“Wahai Rasul katakanlah! “Seandainya aku telah mengada-adakannya, maka akulah yang akan menanggung dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat.”
و الاصل إِنِ ٱفۡتَرَيۡتُهُۥ فَعَلَيَّ عقوبۃ افترائی
“Dan kebenarannya adalah bahwa jika aku berdusta maka akulah yang akan menanggung hukumanku”. (Ruh Al-Ma’ani, jilid 3, halaman 546)
4        4.  Q.S. Al-‘Araf: 153

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ ٱلۡعِجۡلَ سَيَنَالُهُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَذِلَّةٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُفۡتَرِينَ

“Adapun orang-orang yang telah menjadikan patung anak sapi sebagai sembahan, kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan di dalam kehidupan dunia akan menimpa mereka. Dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang mengada-adakan kedustaan.”

5.       5.   Q.S. Al-Mukmin: 29
وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ
“dan sekiranya ia seorang pendusta, maka bagi dialah dosa kedustaannya”.

6.       6.   Q.S. Al-Jin: 23
قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا
“Katakanlah (jika aku melakukannya dengan kedustaan maka), “Sesungguhnya, tidak akan pernah ada seorang pun dapat melindungi aku dari azab Allah, dan sekali-kali tidak akan mendapat tempat berlindung selain Dia.”

7.      7.   Q.S. Al-Tur: 31
أَمۡ يَقُولُونَ شَاعِرٞ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ
“Ataukah mereka berkata, “Ia seorang penyair, kami sedang menunggu masa kehancuran untuknya.”

Orang-orang kafir yang mengatakan Rasulullah saw. pendusta, mereka tahu bahwa seorang pendusta pasti segera binasa. Sayang sekali bahwa saat ini dengan mengatakan diri sebagai muslim, orang-orang seperti ini justru mengingkari kebinasaan seorang pendusta dengan segera.

8.      8.  Q.S. Al-‘Araf: 38

فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِ‍َٔايَٰتِهِۦٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ يَنَالُهُمۡ نَصِيبُهُم مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِۖ

“Maka siapakah yang lebih aniaya dari orang yang mengada-adakan dusta ayat-ayat-Nya? Orang-orang seperti demikian pasti akan mendapatkan bagiannya yang ditetapkan (azab pembalasan).”

Seolah-olah telah ditetapkan hukuman juga bagi para pendusta yang mengatasnamakan Allah, sebagaimana telah jelas dari ayat-ayat yang lain.

9.       9. Q.S. Al-Ahqaf: 9
قُلۡ إِنِ ٱفۡتَرَيۡتُهُۥ فَلَا تَمۡلِكُونَ لِي مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔاۖ
“(Wahai Rasul) katakanlah, “Sekiranya aku telah mengada-adakannya, kamu sedikit pun tidak akan mampu untuk membela aku melawan Allah.”

1        10.  Q.S. Al-Zumar: 40-41

قُلۡ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ إِنِّي عَٰمِلٞۖ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ - مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيۡهِ عَذَابٞ مُّقِيمٌ
“(Hai Nabi) katakanlah kepada mereka bahwa, “Wahai kaumku! Beramallah kamu sesuai kedudukanmu, sesungguhnya aku pun beramal. Maka kamu akan segera mengetahui bahwa siapakah yang datang kepadanya azab (di dunia) yang menghinakannya dan yang kepadanya turun azab (di akhirat) yang tetap.”

Inilah sepuluh ayat dalam Bab ini yang merupakan dalil qath’I bahwa seorang pendusta pasti dibinasakan, tujuan-tujuannya akan terus gagal, dengan cepat mendapatkan kehancuran, dan penerima azab yang layak. Demikianlah pengertian dari mafhum ayat ولو تقوّل علینا بعض الاقاویل dari segi alqur’an menafsirkan dirinya sendiri (Alqur’an sebagian menafsirkan sebagian lainnya).


    II.            Sepuluh Rujukan dari Taurat dan Injil Tentang Kebinasaan Pendusta

1.    1.  “Beginilah Tuhan bersabda mengenai para nabi yang bernubuat dengan mengatasnamakan-Ku padahal Aku tidak mengutus mereka, dan yang berkata bahwa perang dan kelaparan tidak akan menimpa negeri ini. Para nabi itu sendiri yang akan dibinasakan oleh perang dan kelaparan.” (Yeremia, Bab 14: 15)
2.        2.   “Seorang nabi yang terlalu berani mengucapkan suatu perkataan dengan nama-Ku yaitu perkataan yang tidak Ku perintahkan kepadanya untuk mengatakannya, atau yang berkata dengan nama sesembahan lain maka nabi itu harus mati.” (Ulangan, Bab 18: 20)
3.     3.   “Tuhan Yehuda bersabda bahwa Aku akan menjadi lawanmu dan Aku akan mengacungkan tangan-Ku kepada nabi-nabi yang menipu dan mengucapkan tenungan-tenungan bohong, mereka tidak termasuk ke dalam perkumpulan umat-Ku.” (Yehezkiel, Bab 13: 8-9)
4.      Berkenaan dengan Nabi-nabi palsu dan akibat yang akan didapatkan, bersabda:
   4.  “Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan Allah: Di dalam amarah-Ku Aku akan membuat angina tofan bertiup dan di dalam murka-Ku hujan lebat akan membanjir, dan di dalam amarah-Ku rambun yang membinasakan akan jatuh. Dan Aku akan meruntuhkan tembok yang kamu kapur itu dan merobohkannya ke tanah, supaya dasarnya menjadi kelihatan; tembok kota itu akan runtuh dan kamu akan tewas di dalamnya. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan.” (Yehezkiel, Bab 13: 13-14)
5.     5.  “Maka Tuhan mengerat dari Israel kepala dan ekor, batang dan ranting pada satu hari juga. Tua-tua dan orang yang terpandang, itulah kepala, dan nabi yang mengajarkan dusta, itulah ekor.” (Yesaya, Bab 9: 14-15)[1]
6.     6.   “Dan apabila masih tampil sebagai nabi, maka ayahnya dan ibunya, yang telah memperanakan dia, akan berkata kepadanya; Janganlah engkau hidup lagi, sebab yang kau katakana demi nama Tuhan itu adalah dusta!” (Zakharia, Bab 13: 3)
7.      7.  “Dan Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati” (Ulangan, Bab 13: 5)
8.    8.  “Sungguh, baik nabi maupun imam berlaku fasik; di rumah-Ku pun juga Aku mendapati kejahatan mereka, demikianlah firman Tuhan. Sebab itu jalan mereka akan seperti jalan-jalan yang licin bagi mereka; di dalam gelap mereka akan terserandung dan akan jatuh di sana; sebab Aku akan mendatangkan malapetaka atas mereka dalam tahun waktu mereka dihukum, demikianlah firman Tuhan.” (Yeremia, Bab 23: 11-12)
9.   9.  “Sebab itu beginilah firman Tuhan Semesta Alam mengenai para nabi itu: “Sesungguhnya, Aku akan memberi mereka makan ipuh dan minum racun, sebab dari para nabi Yerusalem telah meluas kefasikan ke seluruh negeri.” (Yeremia, Bab 23: 15)
1     10.  “Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini;” (Kisah Para Rasul, Bab 5: 38-39)
Dari semua penjelasan di atas jelas bahwa sebagaimana nash-nash Qur’aniyah menjadi saksi atas kebinasaan yang cepat para pendusta begitu juga kesaksian-kesaksian bible pun jelas dalam bab ini.
Laknat bagi pendusta dalam kitab Tuhan
                  Tidak mendapat sebesar dzarah pun kehormatan untuknya
Dalam Taurat pun, juga dalam kalam suci
                  Ditulis dalam warna janji penghukuman
Jika seseorang sedikit pun berdusta atas nama Tuhan
                  Dia pasti mati, karena inilah hukuman bagi dosanya
(Durr-e-Samin)

 III.            Standar 23 Tahun Menurut Ulama Ahli Sunnat Wal Jamaa’at
Berkenaan dengan akhir dari para pendusta, ulama ahli sunnat wal jamaa’at juga bersabda;
(1)  Dalam kitab akidah terkenal yaitu Syarh ‘Aqaid Nasfi, bahwa:
 

“bahwa dalam hal ini akal pun berkeyakinan bahwa urusan-urusan ini (mukjizat, akhlak mulia, dan lain-lain) tidak ditemukan pada orang-orang yang bukan nabi. Kemudian perkara-perkara ini tidak akan ada dalam seorang pendusta dan dia tidak akan mendapat kesempatan selama 23 tahun.” (Matba’ Mujtabai, hal. 100)

(2)  Hadhrat Imam Ibnu Al-Qayyum r.h. di depan seorang peserta Kristen sebagai sebuah dalil kebenaran bersabda :

“Bagaimana mungkin seorang yang kalian nyatakan sebagai seorang pendusta berdusta atas nama Allah Ta’aala sampai 23 tahun dan bukannya Allah membinasakannya dengan tangan kanan-Nya tapi malah mendukungnya?”

Dalam pernyataan di atas pendapat Hadhrat Ibnu Al-Qayyum rh. seolah-olah menyatakan bahwa dalil kebenaran untuk mendapatkan kesempatan sampai 23 tahun adalah sebuah dalil kebenaran.
(3)  Dalam Syarh Al-‘Aqaid ki Syarh Al-Nibras, sebab standar 23 tahun adalah,

 
“Rasulullah saw. diutus (sebagai nabi) pada umur 40 tahun dan beliau wafat pada usia 63 tahun. Dengan demikian, setelah pendakwaan menerima wahyu, beliau hidup sampai 23 tahun.” (Syarh Al-‘Aqaid ki Syarh Al-Nibras, hal. 444)

Inilah standar kesempurnaan suatu kebenaran, yakni barangsiapa yang mendapatkan kesempatan (hidup) begitu lama setelah mendakwakan diri menerima wahyu dan ilham dari Allah Ta’aala maka sesungguhnya dia itu benar (jujur).

(4)  Maulvi Sanaullah Sahib Amritsari menulis bahwa,

a.       “Dalam peraturan alam (hukum alam), alam semesta dan aturan-aturan adalah Tuhan. Begitu juga bahwa seorang nabi pendusta tidak akan mendapatkan kemajuan melainkan dia pasti akan terbunuh.”
(Muqaddimah Tafsir Sanai, hal. 17)

b.      “Seorang pendakwa nabi palsu adalah semisal racun, barangsiapa yang meminum racun maka dia akan binasa.” (Muqaddimah Tafsir Sanai, hal. 17, catatan kaki)
Nampak di dalam kutipan-kutipan di atas bahwa pendapat-pendapat ulama Ahl Sunnat wa al-Jamaa’at bersepakat bahwa akidah ini adalah sempurna bahwa seorang pendusta pasti akan cepat binasa dan dia tidak akan mendapatkan kesempatan hidup sampai 23 tahun. Ingatlah ini!
Seorang pendusta tak akan pernah bernafas panjang
Semisal masa fakhr al-rasul dan fakhr al-khiyar (rasul kebanggaan dan kumpulan kebaikan).



[1] Dalam terbitan Alkitab (Injil) Bahasa Urdu, terdapat pada Yesaya, Bab 9: 14-15, sedangkan pada terbitan Alkitab Bahasa Indonesia cetakan LAI terdapat pada Yesaya, Bab 9: 13-14.

Posting Komentar

0 Komentar