Ahmadiyah 100 % Islam, Tidak Sesat dan Tidak Menyesatkan


Oleh : Syaeful Uyun

Ahmadiyah: Organisasi

Ahmadiyah adalah organisasi dalam Islam. Sama seperti NU, seperti Muhammadiyah, seperti Persis, dll. Ahmadiyah bukan agama, pula bukan partai politik. Ahmadiyah hanyalah wadah perjuangan untuk menghidupkan agama, menegakan agama, dan memenangkan agama Islam di atas semua agama.

Ahmadiyah: Nama Ahmadiyah
Nama Ahmadiyah diberikan bukan karena Sang Pendiri bernama Ahmad. Nama Ahmadiyah diambil dari nama lain Nabi Muhammad saw, yaitu: Ahmad.[1] Diberi nama Ahmadiyah dengan tujuan agar para pengikutnya memiliki budi pekerti yang luhur dan agung, budi pekerti yang halus, lembut, sopan, dan santun, seperti yang terhimpun dalam nama Ahmad-nya Nabi Mummad saw. Nama Ahmad menampilkan sifat jamal – cantik, indah. Sedangkan nama Muhammad menampilkan sifat jalal – gagah, berani.

Ahmadiyah: Legalitas di Indonesia
Jemaat Ahmadiyah Indonesia berdiri pada 1925, 20 tahun sebelum Indonesia merdeka. Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah organisasi legal formal berbadan hukum dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman R.I., No. JA.5/23/13 Tgl.13-3-1953, Tambahan berita negara R.I., tanggal 31 Maret 1953 nomor 26. Dengan status badan hukum, berarti: Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah organisasi yang mempunyai hak untuk hidup diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ahmadiyah: Kiprah Dalam Kehidupan Berbangsa
Dalam kehidupan berbangsa, Jemaat Ahmadiyah Indonesia berasaskan Pancasila.[2] Menghayati, mengamalkan dan mengamankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (seribu sembilan ratus empat puluh lima).[3] Membina dan memelihara persatuan dan kesatuan Bangsa serta meningkatkan kemampuan para anggotanya baik dalam bidang sosial, pendidikan, kebudayaan, akhlak, amal bakti maupun kerohanian.[4] Berpartisipasi dalam usaha pembangunan Bangsa dan Negara Republik Indonesia. [5] Sikap politik Ahmadiyah, sesuai dengan petunjuk Al-Quran: athii’ullaaha wa athii’urrasulla wa uulil amri minkum.[6]
Sebagai warga negara Bangsa Indonesia, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, sepenuhnya berpedoman kepada Dasar Negara: Pancasila dan UUD 1945. Sebagai umat beragama, sepenuhnya berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw., sumber pokok ajaran Islam.
Jemaat Ahmadiyah meyakini, sebagai warga negara dan Bangsa Indonesia, berpedoman kepada Pancasila dan UUD 1945, tidak akan mengurangi nilai dan rasa keagamaan. Dan sebagai umat beragama, berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw., tidak akan mengurangi nilai dan rasa kebangsaan. Jemaat Ahmadiyah Indonesia bisa menjadi 100 % Islam tanpa harus meninggalkan prinsip-prinsip kebangsaannya, dan bisa menjadi 100 % Bangsa Indonesia tanpa harus meninggalkan prinsip-prinsip keagamaannya.
Jemaat Ahmadiyah Indonesia, sebegai organisasi yang lahir sebelum Indonesia merdeka, dimasa perjuangan kemerdekaan, bersama dengan komponen bangsa yang lain, ikut serta dalam kancah revolusi perjuangan kemerdekaan. Setelah Bangsa Indonesia merdeka, Jemaat Ahmadiyah Indonesia ikut berpartisipasi dalam pembangunan Bangsa dan Negara Republik Indonesia. Tidak hanya pembangunan secara fisik, tetapi dan yang terutama adalah dalam pembangunan mental spiritual, yang menjadi ruh, menjadi jiwa Bangsa Indonesia.

Ahmadiyah: Sumber Pokok Ajaran
Sebagai organisasi Islam, Jemaat Ahmadiyah tidak mempunyai sumber lain selain dua sumber pokok ajaran, yaitu: Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Jemaat Ahmadiyah meyakini, tidak ada agama kecuali Islam, tidak ada kitab suci kecuali Al-Quran, dan tidak ada panutan kecuali Baginda Nabi Muhammad,  Khatamun-Nabiyyin saw..
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.: “Tidak ada agama bagi kami kecuali agama Islam dan tidak ada Kitab bagi kami kecuali Al-Quran Kitab Allah Yang Maha Tahu. Tidak ada Nabi panutan bagi kami kecuali Nabi Muhammad, Khatamun-Nabiyyin Saw”.[7] “Tidak ada kitab kami selain Al-Qur’an Syarif dan tidak ada Rasul kami kecuali Muhammad Musthafa Saw. Tidak ada agama kami kecuali Islam dan kita mengimani bahwa Nabi kita, Muhammad Saw. adalah Khaatamul Anbiya, dan Al - Qur’an Syarif adalah Khaatamul Kutub”.[8]

Ahmadiyah: Akidah
Ahmadiyah beraqidah sesuai dengan aqidah: Enam Rukun Iman, dan beribadah sesuai dengan prinsip: Lima Rukun Islam.
Enam Rukun Iman yang diyakini Ahmadiyah ialah: 1) Iman kepada Allah, 2) Iman kepada Malaikat-Malaikat Allah, 3) Iman kepada Kitab-Kitab Allah, 4) Iman kepada Rasul-Rasul Allah, 5) Iman kepada Hari Akhirat, 6) Iman kepada Taqdir baik dan buruk.
Lima Rukun Islam yang diamalkan Ahmadiyah ialah: 1) Syahadat, 2) Shalat, 3) Puasa, 4) Zakat, 5) Hajji.
Kalimah syahadat yang diikrarkan Jemaat Ahmadiyah, adalah: ﺍﺸﻬﺩﺍﻥﻻﺍﻠﻪﺍﻻﷲﻭﺤﺩﻩﻻﺸﺭﻙﻠﻪﻮﺍﺸﻬﺩﺍﻥﻤﺤﻤﺩﺍﻋﺒﺩﻩﻭﺭﺴﻮﻠﻪ  - Aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi, Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.
Muhammad yang dimaksud dalam ikrar kalimah syahadat tersebut adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib dari Mekah al-Mukaromah, yakni: Nabi Muhammad Rasulullah Khâtamun-Nabiyyîn saw., bukan yang lain.

Ahmadiyah: Keyakinan Kepada Nabi Muhammad, Islam dan Al-Quran
Ahmadiyah meyakini, Nabi Muhammad saw., adalah Khâtamun-Nabiyyîn, Islam adalah Khâtamul Addyân, dan Al-Quran adalah Khâtamul Kutûb.
Ahmadiyah meyakini, Islam adalah agama yang sempurna dan lengkap, dan satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai kesatuan  dengan Tuhan.
Bagi Ahmadiyah, meyakini Nabi Muhammad sebagai Khâtamun-Nabiyyîn, Islam sebagai Khâtamul Addyân, dan Al-Quran sebagai Khâtamul Kutûb, adalah harga mati, final tidak bisa diganggu gugat lagi.
Tidak benar, mengada-ada dan fitnah, jika ada yang mengatakan, Ahmadiyah tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai Khâtamun-Nabiyyîn, punya nabi baru, punya kitab suci baru, dan punya kalimah syahadat baru.
Bagi Ahmadiyah meyakini ada lagi nabi baru, yang membawa agama baru, kitab suci baru, dan kalimah syahadat baru, adalah kekufuran dan kesesatan yang sekufur-kufurnya dan sesesat-sesatnya.[9]

Ahmadiyah: Keyakinan Kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad
Ahmadiyah meyakini, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Jemaat Ahmadiyah, bukan nabi baru, yang membawa agama baru, kitab suci baru, dan kalimah syahadat baru, seperti yang diisukan, disangkakan, dan dipropagandakan beberapa kalangan umat Islam non-Ahmadiyah.[10]
            Ahmadiyah meyakini, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., adalah orang yang fana fillah – larut tenggelam dalam kecintaan kepada Allah, dan fana fir-Rasul saw., – larut tenggelam dalam kecintaan kepada Rasulullah Muhammad saw..
            Ke-fana-annya kepada Allah swt, dan Rasulullah saw., telah memungkinkan beliau mendapat kehormatan di beri amanat  sebagai Mujaddid Abad XIV H, sebagai Imam Mahdi, dan sebagai manifestasi Isa ibnu Maryam Yang Dijanjikan Kedatangannya oleh Nabi Muhammad saw., (Masih Mau’ud), yang kedatangannya telah dikabarghaibkan oleh Nabi Muhammad saw., dan ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam – sunni atau pun syi’ah. [11]
Ke-fana-an Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad,  Pendiri Jemaat Ahmadiyah, kepada Nabi Muhammad saw., juga telah mengantarkan beliau menjadi ummaty  pengikut sejati, dhilly – bayangan,  buruzy  – cerminan, Nabi Muhammad saw..[]

Ahmadiyah: 100% Islam
Al-Quran mengatakan: “Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang memberi salam kepadamu, “Engkau bukan mukmin”.[12]
            Nabi Muhammad saw., ketika diminta menjelaskan apakah  Iman itu, beliau menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Dan, ketika diminta menjelaskan apakah  Islam itu, beliau menjawab: “Islam adalah engkau bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”[13]
Jemaat Ahmadiyah, tidak hanya suka saling memberi salam: assalamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakatuhu, dengan sesama Ahmadi ataupun dengan bukan Ahmadi. Tetapi, Jemaat Ahmadiyah berakidah sesuai dengan akidah 6 rukun Iman, dan beribadah sesuai dengan lima rukun Islam. Dengan standar Iman dan Islam yang di definisikan Nabi Muhammad saw, maka dapat dipastikan, Jemaat Ahmadiyah adalah 100% Islam, tidak sesat dan tidak menyesatkan.
Jika standar Islam adalah keyakinan: Allah itu Esa dan Muhammad adalah Nabi terakhir (Khaatamun-Nabiyiin) – seperti di definisikan para ulama tanah air belakangan ini, Jemaat Ahmadiyah pun tetap 100% Islam, tidak sesat dan tidak menyesatkan, sebab Jemaat Ahmadiyah meyakini dengan teguh: Allah itu Esa, dan Nabi Muhammad saw., adalah Khaatamun-Nabiyyiin.
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Jemaat Ahmadiyah:
“Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya kami beriman kepada Allah sebagai Tuhan, dan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang nabi, serta kami beriman, beliau adalah “Khaataman-nabiyyin”.[14]

“Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad saw, adalah Khaatamul Anbiya. Seorang yang tidak percaya pada Khatamun Nubuwwah beliau (Rasulullah Saw), adalah orang yang tidak beriman dan berada diluar lingkungan Islam”.[15]

Dengan bukti-bukti ini, anggapan dan fatwa yang menyatakan: Ahmadiyah berada diluar Islam, sesat, dan menyesatkan, murtad, kafir, adalah anggapan dan fatwa yang tidak berdasar dan menyesatkan.  Sebaiknya, segera menarik anggapan dan fatwa tersebut, supaya anggapan dan fatwanya tidak mental, berbalik kepada diri sendiri. Baginda Nabi Muhammad saw., pernah bersabda: “Idza qaala rajulu li akhiihi ya kafir, faqad baa-a biha ahaduhuma, in kaana kama qaala, wa illaa roja’at ‘alaihi” - Apabila seseorang menyebut sudaranya: wahai kafir, maka sungguh sebutan kekafiran tersebut akan tertuju kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya, maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu akan kembali kepada yang mengucapkan”. [16]
Semoga Allah s.w.t., menjaga hati dan lisan kita. Aamiin. Wassalaamu ‘alaa manit-taba’al huda!. []
Padang, 29 Juni 2020


[1] Ash-Shaf, 61:7. Jubair bin Muth’im meriwayatkan, Rasulullah (saw), bersabda: Aku mempunyai lima nama, aku Muhammad, aku Ahmad, dan aku al-Mahyi, yang dengan sebabku Allah (swt) menghapus kekafiran, aku al-Hasyir, yang semua manusia akan dikumpulkan di bawah kakiku (sepeninggalku), dan aku al-‘aqib, nabi yang terakhir datang” (HR. Bukhari dan Muslim, Syekh Usamah Ar-Rifa’i, Tafsirul Wajiz, Gema Insani, Cetakan pertama, Zulhijjah 1429H/Desember 2008, hal. 554)
[2] Anggaran Dasar Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Bab II: Asas, Pasal 2
[3] Anggaran Dasar Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Bab III: Tujuan, Pasal 3:1
[4] Anggaran Dasar Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Bab III: Tujuan, Pasal 3:2b
[5] Anggaran Dasar Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Bab IV: Usaha, Pasal 4:1a
[6] An-Nisa, 4:60
[7] Mirza Ghulam Ahmad, Anjami Atham, hal. 143
[8] Mirza Ghulam Ahmad, Maktubaat-e-Ahmadiyyah, jld.5, No. 4
[9] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Jemaat Ahmadiyah, dalam bukunya berjudul Eik Ghalati Ka Izalah – Memperbaiki Suatu Kesalahan, hal. 9, menyatakan: Tidak akan ada nabi yang membawa syari’at dapat datang setelah Nabi Muhammad saw.; demikian pula, tidak seorang pun dapat meraih pangkat kenabian tanpa melalui perantaraan Nabi Muhammad saw. dan menyatukan diri seutuhnya kepada wujud Nabi Muhammad saw. (fana fir-rasul) sehingga ia di langit dikenal sebagai Muhammad dan Ahmad. Ia yang mendakwakan diri sebagai nabi tanpa memenuhi syarat-syarat ini adalah seorang kafir.
[10] Pasca fatwa MUI 2005, KH Amidhan, Ketua MUI Pusat, dalam berbagai kesempatan dialog di Televisi berulang-ulang mengatakan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, adalah nabi baru, bahkan disebutnya sebagai nabi baru ke-26
[11] Keyakinan akan datangnya Isa ibnu Maryam di akhir zaman bukan monopoli keyakinan Ahmadiyah. Nahdhatul Ulama (NU), punya keyakinan Isa ibnu Maryam akan diturunkan kembali pada akhir zaman. Dalam kitab Ahkam al Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, diterbitkan oleh Diantama-LTN-NU, Cet. Ketiga, Pebruari 2007: 47-48, dan diberi pengantar oleh KH. M.A. Sahal Mahfudz, Ketua Umum Majlis ‘Ulama Indonesia, terdapat tanya jawab, sbb: Soal : Bagaiaman pendapat muktamar tentang Nabi Isa as., setelah turun kembali ke dunia. Apakah tetap sebagai Nabi dan Rasul? Padahal Nabi Muhammad SAW, adalah Nabi terakhir? Dan apakah mazhab empat itu akan tetap ada pada waktu itu? Jawab : “Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa a.s, itu akan diturunkan kembali pada  akhir zaman nanti sebagai Nabi dan Rasul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammad SAW., dan hal itu, tidak berarti menghalangi Nabi Muhammad sebagai Nabi yang terakhir, sebab Nabi Isa a.s, hanya akan melaksanakan syariat Nabi Muhammad saw. Sedangkan mazhab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku)”. Muhammadiyah, juga punya keyakinan Isa ibnu Maryam akan datang kembali pada akhir zaman. Dalam Majalah Windon Nomer “Mutiara”, Madjlis H.B. Moehammadiyah Taman Pustaka, Pebruari 1940/Moeharram 1359 Th. Ke IX, hal. 32-34, dan disiarkan lagi oleh Sinar Islam, Edisi Juli 1985, hal. 26-27, tertulis keyakinan Muhammadiyah, sbb: “Tentang kedatangan tuan Yezuz kedoenia kembali, memang rata-rata kaum Moeslimin mempertjayainya. Hal kepertjayaan Moeslimin tentang kedatangamn Yezuz ke dunia lagi itoe demikianlah : Sungguh Baginda Nabi Isa (Yezuz Kristus), itu akan toeroen ke doenia lagi pada akhir zaman dan beliau itu akan menghoekoemi dengan syari’at Nabi Moehammad SAW., tidak dengan syari’atnya; karena syari’at Yezuz itoe, telah terhapoes sebab soedah lalunya waktoe jang sesoeai oentoek mendjalankannya. Maka kedatangan Yezuz itoe nanti menjadi sebagai khalifah ataoe pengganti Nabi kita, di dalam menjalankan syri’at Baginda Nabi SAW., pada ini oemat”.
[12] Al-Quran Surah An-Nisa, 4:95
[13] H.R. Muslim, Bab Kitabul Iman, HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad bin Hambal
[14] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Tuhfatu Baghdad : 23
[15] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taqrir wajibul I’lan, 1891
[16] Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Alhamdulillah jelas,dan gamblang menguraikan nya.. Smg dpt menjadi renungan bagi yg membaca nya agar tdk mudah mengatakan sesat dan kafir.

    BalasHapus