Tujuan Menjadi Ahmadi dan Menjaga Kerohanian


 Oleh : Bilal Ahmad Bonyan

Menjadi seorang muslim merupakan karunia yang paling berharga. Menjadi seorang muslim merupakan jalan untuk mencapai tujuan hidup kita. Terlebih sebagai muslim ahmadi kita diberi karunia khusus yang harus disyukuri. Dan memiliki keimanan yang benar merupakan nikmat yang paling utama. Akan tetapi setelah kita menyatakan beriman, tidak lantas tujuan hidup kita tercapai. Menyatakan keimanan seibarat membuka pintu gerbang menuju tujuan hidup yang sebenarnya.

Secara nama, kita dan saudara-saudara muslim yang lain adalah sama. Mereka Islam kita juga Islam, mereka membaca syahadat kita juga membaca syahadat yang sama, mereka menda’wakan sebagai pengikut Al-Qur’ankita juga mendawakan sebagai pengikut Al-Qur’an.

Yang membedakan kita dengan saudara muslim yang adalah kita meyakini bahwa Imam Mahdi wal Masihil Mau’ud as telah datang dalam pribadi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.     Tetapi keimanan secara pengakuan ini tidaklah cukup, tanpa disertai upaya perubahan.

 

A.                 Tujuan Menjadi Ahmadi

Baiat seperti menanam sebuah benih atau biji. Jika seorang petani merasa cukup hanya pada penyemaian benih saja, dan dia tidak melaksanakan satu pun kewajiban-kewajiban untuk memperoleh hasil, dia tidak membersihkan tanahnya dari rumput liar, tidak mengairinya, dia tidak memberi pupuk yang tepat pada waktuny dan tidak melakukan pemiliharan yang cukup, maka apakah petani itu akan mendapatkan hasil panen ? sama sekali tidak ! justru, ladangnya pasti akan hancur dan rusak.

Jadi, pada hari ini pun anda telah melakukan semacam penyemaian benih. Allah Swt. mengetahui apa yang telah ditakdirkan untuk masing-masing. Tetapi beruntunglah orang-orang yang memelihara bibit ini (baiatnya) dan yang senantiasa berdoa menurut caranya untuk meraih kemajuan.[1]

Hadhrat Masih Mau’ud as. selalu risau memikirkan bagaimana supaya di dalam Jemaat timbul suatu perubahan suci. Beliau as. tidak menginginkan orang yang baiat hanya sekedar menirukan beberapa kalimat untuk diulang. Beliau as mengharapkan agar para Ahmadi memahami maksud kedatangan beliau as kedunia ini. Bersabda :

“Ciptakanlah oleh kalian suatu perubahan dalam diri kalian. Dan benar-benar jadilah insan yang baru. Oleh karena itu penting bagi setiap orang diantara kalian supaya memahami rahasia ini. dan adakan perubahan sedemikian rupa sehingga dia dapat mengatakan bahwa saya sudah berubah”.[2]   

 

Perubahan apa yang dimaksudkan ?

Setiap pribadi mengetahui kelemahan apa yang masih dimiliki oleh dirinya sendiri. Yang masih mewarnai keseharian hidup kita, yang orang lain pun masih memandang itu sebagai kelemahan kita. Setelah baiat kepada Imam Mahdi wal Masihil Mau’ud as. kita berusaha meninggalkannya. Dan setiap pribadi mengetahui amal sholeh apa yang masih lemah dalam mengamalkannya, yang masih belum dawwam atau rutin mengamalkannya. Setelah baiat, kita berusaha untuk mengamalkannya dengan lebih bersemangat dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan meraih kecintaan Allah Swt..

Hadhrat Imam Mahdi wal Masihil Mau’ud as. mengharapkan agar perubahan diri menuju kearah yang lebih baik dapat mendekatkan kita semua kepada Allah Swt.. Kita berusaha untuk selalu mengamalkan sesuatu yang dapat mendatangkan kecintaan Allah Swt.. Beliau as. menjadikan perubahan diri kearah yang lebih baik, kedekatan pada Allah Swt. dan memiliki hubungan dengan-Nya, merupakan tujuan beliau diutus.

Beliau as. bersabda :

Suatu hubungan sejati dan kecintaan hakiki berdiri kokoh antara sang hamba dan Allah Swt.. Jika di dalam jemaat kita terdapat 40 orang saja yang memiliki hubungan kokoh demikian – yang senantiasa mendahulukan keridhoan Allah Swt. dalam keadaan duka dan suka, dalam keadaan lapang maupun sempit – maka saya berkesimpulan bahwa tujuan yang untuknya saya diutus kedunia ini, telah sempurna…”[3]   

Alangkah bahagianya apabila kita semua dapat menjadi penyempurna tujuan kedatangan Hadhrat Imam Mahdi wal Masih Mau’ud as.

 

B.                 Pergaulan Dengan Orang Soleh

Bagaimana cara agar kita dapat mencapat tujuan itu ?

Memperbaiki diri dan melawan semua godaan untuk meraih kedekatan dengan Allah Swt. dan Rasul-Nya, merupakan sebuah jihad. Bahkan jihad yang paling besar. Dalam menempuh jihad, kita memerlukan sahabat yang senantiasa mendorong dan menyemangati hingga memenangkan jihad ini. Allah Swt. berfirman :

وَمَن يَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَإِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْغَٰلِبُونَ

Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai sahabat, maka sesungguhnya jama’ah Allah pasti akan menang (QS. Al-Maidah : 57)[4]

Dan Allah Swt. menguatkan di dalam firman-Nya dalam surah lainnya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS. At-Taubah 9: Ayat 120)

Salah satu sifat manusia yang dominan adalah sifat meniru atau mencontoh. Dalam psikologi dijelaskan bahwa perubahan manusia yang paling besar dipengaruhi oleh contoh dan lingkungan. Itulah salah satu hikmah Allah Swt. mengutus para nabi untuk membimbing umat manusia, dan para nabi dipilih dari golongan manusia juga, agar dapat menjadi sahabat yang dapat memberi warna kepada orang-orang yang beriman. Dan siapa yang bergaul dengan orang-orang yang beriman maka akan terwarnai oleh kebaikan yang ada pada mereka.

Dan berkaitan dengan keimanan, pemahaman keislaman dan perubahan diri kearah yang lebih baik, diperlukan pergaulan yang intens atau sering bukan hanya sekali dua kali. Hadhrat Imam Mahdi wal Masihil Mau’ud as menjelaskan berkenaan dengan kuunuu ma’ash-shoodiqiin (Pergaulan dengan orang-orang saleh):

Ini adalah suatu rahasia yang sedikit orang memahaminya. Utusan Allah Swt. tidak pernah dapat menerangkan seluruh permasalahan hanya dalam satu waktu. Melainkan dengan memeriksa penyakit-penyakit para sahabatnya, sesuai dengan kesempatan saat itu, dia terus mengadakan perbaikan pada diri mereka melalui anjuran dan nasihat. Dan tahap demi tahap dia terus mengobati penyakit-penyakit mereka.”[5]  

Dan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., Imam Mahdi wal Masihil Mau’ud as. menekankan pentingnya untuk senantiasa terhubung dengan beliau as, bersabda :

“Baiat yang telah anda lakukan dengan saya pada hari ini adalah bagai penyemaian bibit. Hendaknya anda sering berjumpa dengan saya, dan perkuatlah hubungan yang terjalin pada hari ini. Dahan yang tidak terhubung dengan pohon, akhirnya akan menjadi kering lalu jatuh…”[6]

Untuk mengamalkan nasihat beliau as. agar kita dapat senantiasa bergaul dengan kebenaran dan orang-orang yang benar dapat kita tempuh dengan berbagai cara :

1.                  Membaca Al-Qur’an, terjemah dan tafsirnya

2.                  Mendengarkan dars Hadits

3.                  Membaca buku-buku Hadhrat Imam Mahdi wal Masihil Mau’ud as

4.                  Menyaksikan Khutbah Khalifah atau membaca dalam versi cetak

5.                  Bergaul dengan Mubaligh dan sesama Ahmadi.

Untuk menutup “sharing” ini saya akan mengutip sabda nabi Muhammad saw :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang bergantung pada agama temannya, maka hendaknya ia memperhatikan dengan siapa ia berteman. (HR. Abu Daud)[7]

Semoga Allah Swt. mengaruniakan kepada semangat untuk berubah sebagai mana yang diharapkan oleh Hadhrat Imam Mahdi wal Masih Mau’ud as.



[1] Malfuzat, Add. Nazir Ishaat, London, 1984, jld. VII, h.37-38, Buku Nasihat Imam Mahdi & Masih Mau’ud as mengenai Baiat, h. 39

[2] Malfuzat, Add. Nazir Ishaat, London, 1984, jld. VII, h.70-73, Buku Nasihat Imam Mahdi & Masih Mau’ud as mengenai Baiat, h. 23

[3] Malfuzat, Add. Nazir Ishaat, London, 1984, jld. VI, h.15-19, Buku Nasihat Imam Mahdi & Masih Mau’ud as mengenai Baiat, h. 127

 4] Sistem penomeran ayat, Basmalah dihitung ayat pertama

[5] Malfuzat, Add. Nazir Ishaat, London, 1984, jld. II, h.70-73, Buku Nasihat Imam Mahdi & Masih Mau’ud as mengenai Baiat, h. 22

 6] Malfuzat, Add. Nazir Ishaat, London, 1984, jld. VII, h.37-38, Buku Nasihat Imam Mahdi & Masih Mau’ud as mengenai Baiat, h. 39

[7] HR Abu Dâwud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378. (ash-Shahîhah no. 927)



 

Posting Komentar

0 Komentar