Juru Selamat (Mesias - Yesus Kristus - Imam Mahdi - Isa Ibnu Maryam) Itu Telah Datang




Oleh : M. Syaeful Uyun

 Agama-Agama Menantikan Juru Selamat

Kitab Suci tiga agama besar  - Yahudi, Kristen, dan Islam, menubuwatkan, kelak pada akhir zaman akan datang seorang Juru Selamat Yang Dijanjikan. Taurat menubuwatkan kedatangan seorang yang diurapi - Mesias atau Mesiah (Daniel 9:25-26), Injil menubuwatkan kedatangan Yesus Kristus atau Anak Manusia (Yohanes 14:27-28), Al-Qur’an menubuwatkan kedatangan Dzil, atau Buruz, atau Mazhar Kamil Nabi Muhammad saw., yang disebut sebagai kedatangan kedua kali Nabi Muhammad saw.. (Q.S. Al-Jum’ah, 62:3-4[1]), Matsal Isa ibnu Maryam (Q.S. Az-Zuhruf, 43:58) dan Imam Mahdi (Q.S. Al-Anbiya, 21:74). Nubuwat kedatangan Matsal Isa ibnu Maryam dan Imam Mahdi diperkuat lagi oleh Nabi Muhammad saw., di dalam Hadits-Haditsnya[2].

Injil, Al-Qur’an, dan Hadits, sama-sama menubuwatkan, kedatangan Juru Selamat Yang Dijanjikan – Mesiah, Anak Manusia, Dzil, Buruz, Mazhar Kamil Muhammad saw., Matsal Isa ibnu Maryam-Imam Mahdi as., akan ditandai dengan terjadinya gejala cosmis, yakni gerhana bulan dan gerhana matahari.

“Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia. ....... Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang”.(Matius, 24:27, 29)

“Sesungguhnya untuk Mahdi kita ada dua tanda yang belum pernah terjadi sejak langit dan bumi diciptakan. Yaitu, gerhana bulan akan terjadi pada malam pertama dalam bulan Ramadhan dan gerhana matahari akan terjadi pada pertengahannya[3]”.

Maka, sesuai dengan nubuwat kitab suci tiga agama besar itu, pada umat Yahudi, umat Kristen, dan umat Islam, berkembang keyakinan mengenai akan datangnya Juru Selamat Yang Dijanjikan, dan dengan harap-harap cemas, mereka pun menunggu-nunggu kedatangan Juru Selamat Yang Dijanjikan itu.

Harold E. Metcalf, seorang Penginjil dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, menulis:  “Kesaksian seragam tentang Kristus ini cukup untuk meyakinkan semua orang bahwa Kristus akan datang kembali. Tidak ada keraguan disini. Yesus akan kembali[4]”.  

Sedangkan para ulama Islam yang tergabung dalam Nahdhatul Ulama (NU), menyatakan keyakinannya, sbb: “Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa as., itu akan diturunkan kembali pada  akhir zaman nanti sebagai Nabi dan Rasul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammad Saw., dan hal itu, tidak berarti menghalangi Nabi Muhammad sebagai Nabi yang terakhir, sebab Nabi Isa as., hanya akan melaksanakan syariat Nabi Muhammad Saw.. Sedangkan mazhab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku)[5].

Sesungguhnya, tidak hanya tiga pengikut agama besar: Yahudi-Kristen-Islam saja, yang meyakini dan menanti kedatangan Juru Selamat Yang Dijanjikan. Umat Hindu, umat Budha, umat Zoroaster, umat Kong Hu Cu, juga meyakini kedatangan Juru Selamat Yang Dijanjikan.

Umat Hindu meyakini dan menanti kedatangan Tuhan Sendiri dalam rupa Krisna. Umat Budha meyakini dan menanti penjelmaan kembali Budha. Umat Zoroaster  meyakini dan menanti penjelmaan kembali Zaratustra. Dan, semua umat beragama itu meyakini, Juru Selamat Yang Dijanjikan itu, akan datang dari dan untuk agama mereka masing-masing. Setiap agama, sepertinya, mempunyai juru selamatnya masing-masing.

 

Pendakwaan Hz. Mirza Ghulam Ahmad as.

Lebih seabad silam,  di Qadian, sebuah desa terpencil di propinsi Punjab, India, telah terjadi suatu peristiwa yang menakjubkan. Peristiwa yang ditakdirkan akan mengubah masa depan umat manusia. Disana tampil seorang pemimpin agama yang memproklamirkan diri diutus oleh Tuhan untuk membimbing umat manusia sebagai Pembaharu Yang Dijanjikan. Namanya adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., (1835-1908), Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Beliau telah meletakkan pondasi  untuk mempersatukan umat manusia dengan suatu cara yang mandiri. Beliau memecahkan masalah pertentangan-pertentangan dan paradoks-paradoks yang meluas di dunia keagamaan mengenai turunnya seorang Juru Selamat untuk seluruh dunia.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., mengemukakan, semua nubuwat kitab-kitab suci mengenai kedatangan Juru Selamat yang diyakini berbagai pengikut agama adalah benar. Namun, Juru Selamat yang dinubuwatkan kitab-kitab suci dan diyakini berbagai pengikut agama itu, akan tampil hanya pada diri satu orang saja dengan menghimpun semua sifat, peran, dan kekuatan-kekuatan rohani para nabi atau Muslih-muslih Robbani. Pribadi itu akan menjadi prajurit Tuhan yang menyandang busana berbagai nabi. Agama yang menjadi wahana perwujudan ke-Esaan Allah secara universal, satu-satunya dan yang terkahir, hanyalah Islam.

Sesuai dengan konsep yang dikemukakannya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., pun mengumumkan bahwa ia adalah Juru Selamat yang dinubuwatkan kitab-kitab suci dan yang diyakini berbagai pengikut agama itu. Beliau memproklamirkan sebagai orang yang dijanjikan kedatangannya oleh para nabi, sebagai perwujudan semua nabi, sebagai Dzil, Buruz, dan mazhar kamil Nabi Muhammad saw., sebagai Mujaddid, sebagai Masih Mau’ud, sebagai Imam Mahdi, dengan sepenuhnya tunduk-taat kepada Yang Mulia Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Dalam buku Bahtera Nuh, edisi bahasa Indonesia, hal. 22, dalam Dafi’ul Bala,  hal.18, dalam Haqiqot al-Wahyi, edisi 1934, hal.72, dalam Tadzkirah, edisi 1956, hal. 190, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., menyatakan:

“Maka akulah sesungguhnya Masih yang dijanjikan itu”.

“Demi Allah, saya bersumpah, saya adalah Masih Mau’ud (Masih Yang Dijanjikan), dan sayalah orang yang dijanjikan oleh para nabi.”

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikanku Mazhar (penampakkan) bagi seluruh nabi dan dinisbatkan (Allah) kepadaku nama-nama mereka: saya Adam, saya Syith, saya Nuh, saya Ibrahim, saya Ishaq, saya Isma’il, saya Ya’qub, saya Yusuf, saya Isa, saya Musa, saya Daud, dan saya adalah penampakkan sempurna (mazhar kamil) dari Nabi Muhammad Saw, artinya saya adalah bayangan Muhammad”.

“Masih Ibnu Maryam Rasul Allah telah wafat. Sesuai dengan janji, engkau datang menyandang “warna sifatnya”. Sesungguhnya janji Allah itu pasti sempurna. Engkau bersama-Ku dan engkau ada di atas kebenaran yang nyata. Engkau berada di atas jalan kebenaran dan penolong kebenaran”.

 

            Pengakuan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., sungguh sangat menakjubkan.

            Pertama, Teologi kedatangan Juru Selamat Yang Dijanjikan yang dikemukakan beliau merupakan teologi baru – Juru Selamat yang dinubuwatkan para nabi tampil pada diri  satu orang dengan mengenakan busana para nabi.

            Kedua, Pengakuan itu dikumandangkan oleh seorang yang berasal dari dusun terpencil tak dikenal, namun mendapat respon yang begitu meluas. Sebagian menyambut dengan beriman  dan membaktikan diri sepenuhnya kepadanya. Sebagian lainnya bangkit menentang dengan topan perlawanan yang sesengit-sengitnya, suatu yang jarang sekali disaksikan dalam lembaran sejarah umat manusia.

            Ketiga, Klaim beliau sebagai Juru Selamat Yang Dijanjikan diikuti gerhana matahari dan gerhana bulan yang menjadi pertanda kedatangan Isa ibnu Maryam-Imam Mahdi, seperti yang dinubuwatkan Injil, Al-Qur’an, dan Hadits Nabi Muhammad saw.. 1891, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., memproklamirkan diri sebagai Juru Selamat Yang Dijanjikan: Al-Masih dan Al-Mahdi. 1894, gerhana matahari dan bulan di satu bulan di bulan Ramadhan terjadi. Gerhana pada 1894 tampak dikawasan Hindustan.  1895, gerhana matahari dan bulan di satu bulan di bulan Ramadhan, kembali terjadi. Gerhana kedua pada 1895 tampak dikawasan benua Amerika[6].  

            Gejala cosmis ini tentu merupakan bukti, klaim Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., sebagai Juru Selamat Yang Dijanjikan – Mesiah, Yesus Kristus, Dzil, Buruz, Mazhar Kamil Muhammad saw., Matsal Isa ibnu Maryam, dan Imam Mahdi, adalah benar. Sebab, jika dusta, mustahil langit akan memberikan kesaksian dan memberikan dukungan atas klaim-klaimnya.

Semoga berita ini menjadi Lailatul Qadar, bagi anda yang mendengarnya. Malik Ghulam Farid, dalam Al-Qur’an Dengan Terjemah Tafsir Singkatnya mengatakan, masa kemunculan seorang mushlih rabbani besar disebut Lailatul Qadar.

Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita semua termasuk diantara mereka yang memperoleh Lailatul Qadar.

 

 

 



[1] Metode penulisan ayat Al-Quran dalam situs ini seluruhnya menggunakan metode basmallah di awal surat dihitung sebagai ayat pertama. Sehingga akan ada perbedaan satu nominal ayat dengan metode perhitungan basmallah di awal surat yang tidak dihitung sebagai ayat pertama

[2] Lihat Shahih Bukhari, 4/356, Shahih Muslim, 2/189,192 dicantumkan dalam Imam Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi, Turunnya Isa bin Maryam Pada Akhir Zaman, CV Haji Masagung Jakarta 1990

[3] Sunan Addarul Quthni, Darrun Nasyri Alkutubil Islamiyah, Lahore, tt, Jld. II, hal. 65, H. Mahmud Ahmad Cheema H.A. Tiga Masalah Penting, Jemaat Ahmadiyah Indonesia 2001, hal. 42

[4] Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 2005, SPL, hal. 135

[5] Ahkam al Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Diantama-LTN-NU, Cet. Ketiga, Pebruari 2007: 47-48

[6] Suvenir Peringatan Seabad Gerhana Bulan dan Gerhana Matarahi Ramadhan 1894 – 1994, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, tt, hal. 42

Posting Komentar

0 Komentar