Nizam Khilafat Sang Pemersatu Umat Islam

Oleh : Nanang Salman

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ
فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُون
Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali  Allah, janganlah kamu bercerai-berai,dan ingatlah akan nikmat Allah atasmu ketika kamu dahulu bermusuh - musuhan, lalu Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan  antara satu sama lain maka dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkanmu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imran [3]: 104)
Ayat Al-Qur’an diatas adalah sebuah perintah dari Allah swt. Bahwa untuk kemajuan dan persatuan Islam maka Umat Islam harus berpegang teguh pada hablullah (tali Allah). Maksud dari tali dan nikmat Allah disini adalah kenabian dan khilafat yang berdiri setelah kenabian. Inilah tali dan nikmat Allah yang menyatukan dan mengikat hati satu sama lain. Dan menyelamatkan orang yang beriman kepadanya, dari terjatuh di lubang api.  Sesuai dengan janji-Nya, Allah swt. telah mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi. Beliau telah meletakkan pondasi Jamaah Muslim Ahmadiyah pada abad ke-14 di bulan yang ke-6 Hijriah. Sampai sekarang puluhan juta manusia telah memperoleh taufik untuk bergabung dalam Jemaat Ahmadiyah dengan berbaiat di tangan beliau dan para khalifah beliau yang mulia. Karena memegang habluLlah (tali Allah) dengan kuat, mereka selamat dari terjatuh ke dalam api. Tetapi sungguh disayangkan sejumlah besar kaum Muslimin masih termahrum dari nikmat Allah ini. Kaum Muslimin menganggap bahwa mereka  akan maju di dunia ini tanpa harus mengingatkan diri dengan tali Allah swt. ini.
Jika sepintas kita saksikan negara-negara Islam,kondisinya yang menyedihkan membuat air mata berderai. Negara besar dengan kebudayaan dan etika Islami, yakni Irak, sejak 24 tahun lalu telah menjadi mangsa persekongkolan baik dari dalam maupun dari luar. Ratusan ribu Muslim telah meninggal, lumpuh, dan cacat. Setelah kepergian tentara Amerika bukan artinya masalah selesai. Kelompok Syiah, Suni dan Kurdi masing-masing tengelam dalam hasrat untuk menghancurkan dan memusnahkan satu sama lain. Tidak diketahui kapan rangkaian ini akan berakhir. Selain Irak [hal ini] juga menimpa satu negara lain yaitu Syam/Suriah, dimana Sayyidina Muhammad Musthofa saw. biasa pergi ke sana untuk berdagang. Negara Muslim ini juga sejak tiga tahun lalu menjadi korban pertikaian dan kekacauan satu sama lain. Satu kelompok ingin tetap memegang kekuasaan, kelompok lain ingin menyingkirkannya dan dirinya sendiri ingin memegang kekuasaan. Kekejaman dan kebiadaban yang terus berlangsung dari kedua belah pihak hingga kini telah menelan [korban] lebih dari seratus ribu kaum Muslimin.
 Pasukan udara 2 pemerintahandengan dalih untuk menyerang para pemberontakmenghujani para penduduk kota yang tiada berdosa dengan bom beracun, dan pihak yang lain juga menggunakan senjata yang serupa. Akibatnya, jenazah anak-anak, orang tua, dan kaum perempuan yang tiada berdosa terus memenuhi lorong-lorong jalan. 3 juta orang terpaksa harus meninggalkan negara mereka dan berlindung di negara-negara tetangga.
Dibawah sebuah konspirasi baru, telah didirikan ISIS (negara Islam Irak dan Suriah). Seseorang yang disebut khalifah telah diumumkan. Khilafat ini berdiri di atas tumpukan mayat kaum Muslimin. Tanda Khilafat Ilahiah telah Allah Taala sebutkan,
وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
..ia akan mengubah keadaan mereka setelah ketakutan menjadi keamanan (QS An-Nur [24]: 56). Tetapi [Khalifah ISIS] yang didengung-dengungkan sebagai khilafat itu justru mengubah rasa aman menjadi takut. Ini menjadi bukti nyata akan kebathilannya.
Hadhrat Khalifatul Masih Al-Khamis aba. seraya menyinggung tentang khilafat semacam itu beliau bersabda :
Khilafat yang mendengungkan slogan kekhilafatan [seperti demikian], apakah Allah swt. akan menjadikannya khilafat di bumi ini dan menjadi utusan-Nya ? Tuhan yang merupakan Tuhan Yang Maha Pengasih, apakah Dia akan menjadi penolong atas kedzaliman dan orang-orang yang dzalim ? Tidak pernah. Sesuai dengan nubuwatan dari Hadhrat saw., bahwa khilafat itu akan berdiri dengan perantaraan Hadhrat Masih Mauud, yang akan mendapat dukungan dan pertolongan Allah swt. di luar itu, setiap slogan khilafat yang mengatasnamakan agama, hanyalah untuk memperoleh keuntungan-keuntungan duniawi dan cara untuk merebut kekuasaan. Jumat lalu datang kemari orang-orang dari salah satu chanel TV. Saya telah diwawancarai. Saya katakan kepada mereka bahwa khilafat yang kalian anggap telah berdiri [ISIS], itu bukanlah khilafat. Khilafat sudah berdiri, dan tidak dengan kedzaliman. Ia berdiri dengan dukungan Allah Taala. Andai umat Muslimin juga memahami hal ini dan perselisihan mereka satu sama lain, kekacauaun dan peperangan untuk [berebut] kekuasaan berakhir.[1]
 Selama mereka mengikatkan diri mereka sendiri pada tali ketaatan kepada khilafat dan berkat khilafat, maka kekuatan dunia sebesar apapun tidak akan dapat mematahkan mereka. Tetapi jika mereka berada diluar tali dan perlindungan khilafat, maka kekuatan-kekuatan dunia akan mematahkan mereka satu demi satu. Inilah rahasia yang telah disampaikan oleh Sayyidina Muhmmad saw dalam salah satu hadis beliau, yaitu :
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Imam adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan mencari perlindungan darinya[2].  Selama berada dibalik perisai maka akan terjaga, jika tidak, maka senjata-senjata konspirasi dunia akan memotong-motongnya.
Orang Muslim yang memiliki perhatian, ketika mereka melihat kondisi dunia saat ini yang penuh dengan kekacauan, mereka berpikir bagaimana cara untuk keluar dari keadaan berbahaya saat ini. Bagi orang Muslim yang berpikiran seperti demikian hendaklah mereka mencari nikmat Allah yang disebutkan dalam Quran majid dan habluLlah (tali Allah) dengan kuat. Hendaklah berpegang pada tali Allah dengan berbaiat kepada Khalifah Hadhrat Imam Mahdi alaihis salaam. Setelah terikat pada nizam Khilafat hendaklah taat secara sempurna kepadanya. Ini adalah nasihat yang diberikan Sayyidina Muhammad Musthafa saw melalui Hadhrat Hudzaifah bin Yaman :
«تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ». قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ: «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّه .
Bersabda: “Engkau harus mengikatkan diri pada Jamaah Muslim dan imam mereka. Hudzaifah bertanya, Wahai Rasulullah jika jamaah dan imam mereka tidak ada? Bersabda: Engkau jauhi seluruh golongan itu. Meskipun engkau harus menggigit akar pohon, sampai mati dalam keadaan seperti ini.” (Muttafaqun Alaih).
Nabi Muhammad saw. memberikan nasehat kepada setiap Muslim : Wahai orang Muslim jika engkau ingin menjaga Islam dan iman engkau, maka hendaklah engkau senantiasa terikat dengan Imam dan jamaah. Jika tidak, maka fitnah dan konspirasi para penentang Islam akan mecabik-cabik kalian secara ruhani dan jasmani
Oleh karenai itu Hadhrat Imam Mahdi as. bersabda : Aku adalah benteng perlindungan pada zaman ini. Barangsiapa yang masuk [dalam benteng] ku, maka ia menyelamatkan dirinya dari para pencuri, perampok dan binatang buas. Tetapi barangsiapa ingin tinggal jauh dari dinding-dindingku, maka maut mengintainya dari segala penjuru! Bahkan jenazahnya pun tidak akan selamat[3].
Setiap Muslim yang ingin mencintai dan mentaati Sayyidina Muhammad Mushthafa saw. dengan sebenar-benarnya, maka sesuai dengan perintah Hudhur saw. hendaklah ia baiat kepada  Al-Khulafaa-urRaasyidinal-Mahdiyyiin pada zaman ini. Karena Rasulullah saw. bersabda:
وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ في عُنُقِهِ بَيْعَةٌ
Barang siapa yang mati dalam keadaan tanpa baiat, maka matinya mati jahiliyyah[4].
Yang paling memahami perintah Rasulullah saw. ini adalah para sahabat radhiallohu anhum. Karena itu, setelah kewafatan Hadhrat saw, mereka berbaiat di tangan Hadhrat Abu Bakar ra. Di sini dapat muncul pertanyaan bahwa ketika mereka telah baiat di tangan Rasulullah saw., lalu apa perlunya berbaiat kepada Hadhrat Abu Bakar ra. ? Jawabannya adalah, karena mereka mendengar hadis Rasulullah saw yang disebutkan di atas mengenai pentingnya perintah baiat. Kerena itu, mereka menganggap bahwa baiat kepada khilafat adalah keharusan dan mesti. Sekarang inipun, beberapa orang mengatakan bahwa kami ini Muslim, lalu apa pentingnya baiat lagi buat kami. Mereka ini hendaknya memperhatikan hadits Rasulullah saw. di atas dan bagaiaman amalan sahabat untuk memenuhi hadits tersebut.
Sekarang ini, nizam khilafat Islamiyyah Ahmadiyyah inilah yang menjadi solusi untuk seluruh kegelisahan dan keresahan kaum Muslimin. Inilah Hablullah (tali Allah) yang dapat menjadikan kaum Muslimin bunyaanum marshush (bangunan yang kokoh). Selain ini, tidak ada organisasi, mutamar, liga Arab, dan jamaah dapat mempersatukan kaum Muslimin. Inilah perisai yang dapat melindungi kaum Muslimin dari fitnah-fitnah dajjal, dari jahatnya konspirasi dan rencana licik yajuj dan majuj.
Tidaklah mungkin kaum Muslimin dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari serangan musuh yang berbahaya tanpa pemimpin yang memberi petunjuk. Jangankan untuk urusan persatuan umat, sebuah perjalana yang terdiri dari 3 orang saja kita diperintahkan mencari pemimpin.
إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَكُمْ.
Ketika dalam perjalanan ada tiga orang, maka jadikanlah salah seorang di antara kalian sebagai amir (pemimpin)[5]
Andai kita kaum Muslimin memahami hadis yang satu ini maka, kita pasti akan berusaha mencari siapakah sosok yang layak memimpin/khilafat perjuangan umat Islam. Dalam hadis ini Hadhrat saw menasehatkan bahwa perjalanan panjang bagi kemajuan kaum Muslimin tidak dapat ditempuh tanpa adanya Khilafat. Orang-orang dalam umat ini yang tidak mentaati Nabi Karim saw sampai batas ini, maka bagaimana mereka dapat meraih keberhasilan dalam perjalanan kemajuan Islam.
Dalam Quran Karim, Allah Taala berfirman kepada orang-orang beriman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman jawablah seruan Allah dan Rasul, karena ia menyeru kalian kepada kehidupan.” (Al-Anfal [8]: 25).
Muncul pertanyaan bahwa pada masa sekarang ini firqoh-firqoh Muslim lain selain Jamaat Ahmadiyah, kepada seruan siapakah mereka akan mengatakan labbaik untuk kehidupan rohani dan keberlangsungan mereka? Dan siapakah yang akan menyeru mereka untuk menghidupkan mereka secara ruhani? Karena tidak terhubung dengan wujud seperti itu, akibatnya kematian mengitari kehidupan ruhani kaum Muslimin. Mengisyaratkan kepada Kematian Ruhani inilah Rasulullah saw bersabda : Laa yabqoo minal islami illa smuhu. Yakni dalam kehidupan mereka nama besar Islam akan tetap bertahan, tetapi ruhnya akan hilang sirna.
Terus memberikan kehidupan ruhani kepada orang yang beriman bukanlah pekerjaan sementara, melainkan kewajiban yang terus berlangsung. Sebagaimana untuk tetap bertahan dan berlangsungnya kehidupan jasmani memerlukan oksigen atau udara yang segar, demikian pula untuk tetap hidupnya ruh memerlukan adanya perhatian, doa, nasehat, dan tarbiyat dari khalifah – wakil Allah swt. di muka bumi.
Masa sekarang ini, sungguh karunia besar didapatkan oleh para ahmadi karena Hadhrat Khalifatul Masih Al Khamis pada setiap jumat menyampaikan khutbah. Selain itu, beliau menyampaikan nasehat yang melindungi ruh, melalui pesan-pesan pada acara jalsah atau ijtima-ijtima yang diselenggarakan di berbagai negara. Pada Jalsah Salanah Inggris, dalam kesempatan baiat inernasional, bersama dengan orang-orang yang baru bergabung, orang-orang Ahmadi lama juga melakukan baiat ulang. Dan orang yang melakukan pembaharuan baiat dengan hati yang benar merasakan bahwa ia mendapatkan suatu kehidupan ruhani baru.
Di dalam Quran Karim ada beberapa ayat yang penggenapannya pertama kali terjadi pada Sayyidina Muhammmad Musthafa saw. dan setelah beliau terjadi pula pada para khalifah beliau. Jika pada kedua wujudnya tidak didapati [penggenapan itu] maka akan ada ruang kosong yang sangat besar dalam kehidupan ruhani dan diinii (agama) kaum Muslimin.
Tidak pula dapat dikatakan bahwa ayat-ayat tersebut berhubungan hanya terbatas pada pribadi beberkat Rasulullah saw. Karena pembahasannya juga terbukti dalam kitab yang akan berlaku sampai hari kiamat [Al-Quran], bahwa pada masa sekarang ini juga hendaknya ada wujud yang menjadi penggenapan ayat-ayat tersebut. Sebagaimana Allah Taala berfirman :
خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Wahai Rasul, ambillah olehmu sedekah dari harta mereka sehingga engkau menyucikan mereka dan menyediakan sarana kemajuan mereka, dan berdoalah untuk mereka karena doa engkau membuat mereka tenang (At-Taubah [9]: 104)
Sesuai dengan perintah Ilahi itu, yang berhak mengambil sedekah dan mensucikan mereka adalah Rasulullah saw, dan setelah beliau adalah setiap khalifah beliau. Masa sekarang ini penggenapan dari kebangkitan kembali Hadhrat saw adalah Hadhrat Masih Mauud alaihi salam dan setiap khalifah beliau. Sesungguhnya khalifah-e-waqt[6] lah yang dapat mengatur penerimaan sedekah dengan cara yang benar. Karena dibawah beliau terdapat suatu nizam(pengaturan) yang luas untuk semua mubaligh dan pengurus yang tersebar di seluruh dunia. Berdasarkan hal itu, pengaturan pengumpulan sedekah yang benar juga dapat dilakukan oleh khalifah-e-waqt. Selain Jemaat Ahmadiyah, firqoh-firqoh Muslim yang lain tidak memiliki sistem/pengaturan untuk seluruh dunia seperti ini. Dan tidak akan bisa. Hanya dan hanya terkhusus dengan khilafat semata.
Allah Taala telah memerintahkan Baginda Nabi saw dan semua khalifah setelah beliau : wa sholli alaihim, berdoalah untuk orang-orang yang beriman karena doa engkau menimbulkan ketenangan bagi mereka. Di dunia ini, sungguh bernasib baiklah anak yang naungan kedua orang tua tercintanya senantiasa ada di atas dirinya, dan mereka berdoa untuknya dengan penuh kasih. Anggota Jemaat Ahmadiyah lebih beruntung dari anak-anak itu, karena di atas kepala mereka ada naungan khalifah yang berdoa untuk mereka dengan hati yang pilu. Dalam firqoh-firqoh Muslim lain tidak ada wujud yang berdoa (seperti itu). Di dunia ini mereka ibarat anak yatim dan anak yang tidak memiliki sandaran hidup yang perduli akan keadaannya.
Berkaitan dengan ini Hadhat Khalifatul Masih Al Khamis ABA (ketika Allah Taala memilih seseorang sebagai Khalifah) bersabda :
Pemimpin dunia yang mana yang berdoa untuk orang-orang yang sakit. Pemimpin dunia yang mana yang gelisah akan perjodohan anak-anak perempuan dalam kaumnya dan berdoa untuknya. Pemimpin dunia yang mana yang memikirkan talim untuk anak-anak. Memang pemerintah juga membuka lembaga-lembaga pendidikan, pendidikan memang tersedia, tetapi yang memikirkan pendidikan untuk anak-anak yang tersebar di seluruh dunia ini hanyalah khalifah-e-waqt. Hanya anggota Jemaat Ahmadiyahlah yang bernasib baik selalu diperhatikan oleh khalifah-e-waqt, bahwa mereka harus menempuh pendidikan, kesehatan mereka diperhatikan oleh Khalifah-e-waqt, dan masalah-masalah perjodohan. Pendek kata, tidak satupun permasalahan para Ahmadi yang tersebar di dunia, baik permasalahan pribadi, maupun permasalahan Jemaat, yang tidak diperhatikan oleh khalifah-e-waqt, dan yang tidak diupayakan penyelesaiannya secara amalan dan dengan tunduk [berdoa] di hadapan Allah Taala. [tidak satupun permasalahan para Ahmadi] yang tidak dimintakan dalam doa kepada-Nya. Saya dan para khalifah sebelum saya juga melakukan hal ini. Tidak ada negara di dunia ini yang bayangannya tidak sampai kepada saya sebelum saya tidur pada malam hari dimana saya tidak berdoa untuknya dalam tidur dan jaga saya. Saya tidak sedang mengatakan hal ini sebagai ihsan/kebaikan [saya]. Ini adalah kewajiban saya. Semoga Allah Taala menjadikan saya dapat menunaikan kewajiban saya lebih dari itu[7].
Alhamdulillah Hadhrat Khalifatul Masih Al-Khamis aba. berdoa untuk para anggota Jemaat dan doa-doa beliau menyebabkan ketenangan dan ketentraman bagi mereka. Banyak Ahmadi mengalaminya.
Renungkanlan dengan hati yang bersih oleh kita ayat Quran Majid
وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ
 wahai rasul dan para khalifah setelah rasul teruslah engkau berdoa untuk orang-orang yang beriman. Karena doa engkau membuat mereka tenang
Di dekat anda pada masa sekarang ini, wujud siapa dan pribadi yang manakah yang menjadi penggenapan dari ayat ini ? yang doanya dapat menimbulkan ketentraman dan ketenangan bagi anda? Yang menberikan pengaruh suci pada luka-luka anda dalam kesulitan serta bencana. Dan siapakah yang keberkatan doa-doanya sampai kepada Anda? Tidak ada.
Alhamdulillah di dekat para anggota Jemaat Ahmadiyah ada Hadhrat Khalifatul Masih Al-Khamis aba. yang berdoa untuk mereka. Doa-doa beliau menjadi penyebab timbulnya ketenangan dalam diri para anggota. Di dalam Quran Masjid Allah Taala memerintahkan kepada Rasul karim saw dan para khalifah setelah beliau :
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Yakni, bermusyawarahlah dengan mereka dalam perkara yang penting. Maka, ketika engkau telah memutuskan, bertawakallah kepada Allah (Q.S. Ali Imran [3]: 160)
Perintah Quran karim ini adalah abadi dan selamanya. Pada masa sekarang ini, selain Jemaat Ahmadiyah, tidak ada firqoh Muslim lain yang dapat mengklaim bahwa pada mereka ada khalifah yang didirikan oleh Allah Taala, yang memberikan saran berkenaan dengan masalah yang dihadapi oleh islam dan kaum Muslimin dan memiliki kemampuan untuk meneruskannya ke seluruh dunia. Hadhrat Khalifatul Masih Al-Khamis aba. adalah khalifah yang ditetapkan Allah Taala, dan dalam Jamaat Ahmadiyah ada Nizam syura dan musyawarah. Perkara-perkara penting dimusyawarahkan dalam majlis syura dan setelah bertekad sesuai dengan Firman Ilahi lantas menetapkan suatu putusan, maka setiap anggota Jemaat yang diberikan tanggungjawab, mereka sekuat tenaga berusaha untuk melaksanakannya dan mengucapkan labbaik terhadap perkataan Khalifah Waqt.
Oleh karena itu pada suatu ketika, Hadhrat Muslih Mauud bersabda :
“Allah Taala menganugerahi saya hati (orang) yang siap untuk segala pengorbanan atas perintah saya. Jika saya mengatakan kepada mereka untuk melompat ke kedalaman samudra, maka mereka siap untuk melompat ke samudra. Jika saya mengatakan untuk menjatuhkan diri mereka dari puncak gunung, maka mereka akan menjatuhkan diri mereka dari puncak gunung. Jika saya mengatakan kepada mereka untuk melompat ke dalam tungku yang menyala, maka mereka akan melompat ke dalam tungku yang terbakar. Jika bunuh diri tidak haram, jika bunuh diri itu tidak haram dalam Islam, maka saat ini saya bisa memperlihatkan contoh kepada kalian bahwa jika saya memerintahkan kepada seratus orang Jemaat untuk meninggal dengan menusukkan belati ke perutnya, maka seratus orang saat ini akan menusukkan belati ke perutnya dan meninggal. Tuhan telah membangkitkan saya untuk membela Islam. Tuhan telah membangkitkan saya untuk meninggikan nama Muhammad Rasulullah saw.[8]
Ketaatan dan gejolak untuk berkorban ini semata mata merupakan berkat dan tarbiyat dari khilafat. Golongan Muslim yang lain mahrum dari hal ini.
Sudah semenjak awal Hadhrat Masih Mauud memberitahu dan memperingatkan para penentang Ahmadiyah :
Para penentang sedang menghancurkan diri mereka sendiri. Aku bukanlah tanaman yang dapat dicabut dengan tangan mereka....tengoklah, ratusan orang bijak bestari yang keluar dari jamaat orang-orang dan bergabung dengan jamaah kami. Di langit penuh dengan gemuruh, malaikat menarik hati-hati yang suci dan membawanya kemari. Sekarang, apakah manusia dapat mengehentikan pekerjaan samawi ini? Ya, kalau memang memiliki kekuatan, maka hentikanlah. Lakukanlah semua makar dan tipu daya yang tengah kalian lakukan untuk menentang para nabi......berusahalah sekuat tenaga, panjatkanlah doa-doa buruk hingga kalian sampai pada kematian, lalu tengoklah, apakah [Ahmadiyah] bisa hancur ?[9]  
Para penentang sekarang ini berusaha sekuat tenaga, tetapi mereka tidak dapat menghentikan kemajuan Ahmadyah. Alhamdulillah ala dzalik.
Hadhrat Khalifatul Masih Al-Khamis bersabda :
Sesuai dengan janji Allah, nizam dalam Jemaat Hadrat Masih Mauud alaihi salam ini, tetap berdiri tegak bersama dengan nizam khilafat. Dan sekarang, berkat karunia Allah Taala, pondasi-pondasi yang kokoh telah berdiri. Tidak ada musuh dan penentang yang dapat mendatangkan kerugian terhadapnya. Insya Allah Taala[10].
Demikian pula Hudhur aba. bersabda :
Ingatlah, Tuhan yang Maha menepati janji itu, sekarang pun Dia mengulurkan tangan kepada Jamaat tercinta dari Masih alaihi salam Nya yang tercinta. Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Tidak akan pernah meninggalkan. Tidak akan pernah meniggalkan. Saat ini pun Ia tengah menyempurnakan janji-Nya kepada Masih alaihi salam sebagaimana Ia terus sempurnakan pada khalifah-khalifah sebelumnya. Saat ini Ia tengah menganugerahkan rahmat-Nya sebagaimana dahulu ia telah anugerahkan, dan akan terus menganugerahkannya, Isnya Allah. ......karena itu sambil berdoa kepada-Nya dan memohon karunia-Nya, hendaklah senantiasa tunduk di singgasana-Nya dan teruslah memegangkan tangan pada tali yang kuat ini. Maka kemudian tidak akan ada yang dapat melukai rambut anda sekalipun. Semoga Allah Taala menganugerahkan taufiknya kepada semua. Amiin.

                                                                                                              


[1]  Mirza Masroor Ahmad, Terjemah Khutbah Jumah tanggal 4 Juli 2014
[2] Terdapat dalam HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll
[3] Ruhani Khazain, jilid 3, hal. 34
[4] Kanzul Ummal, hadits  nomor 463, halaman 56, cetakan 2005
[5] Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2609)
[6] Khalifah yang sedang memipin
[7] Mirza Masroor Ahmad, Khutbah 6 Juni 2014
[8] Al Fazal 18 Februari 1958
[9] Ruhani Khazain jilid 17 hal 473, Arbain
[10] Al Fazal Internasional, 14-20 januari 2005

Posting Komentar

0 Komentar