Memahami Latar Belakang Penangkapan Yesus


 
Oleh : Anom Tulus Manembah
Allah swt. berfirman:
ذَٰلِكَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ ۚ قَوْلَ ٱلْحَقِّ ٱلَّذِى فِيهِ يَمْتَرُونَ
 “Itulah Isa ibnu Maryam. Suatu pernyataan benar yang mereka di dalamnya berbantah” (QS. Maryam [19]:35)[1]
Sosok Yesus atau dikenal sebagai Nabi Isa as. dalam Islam, adalah sosok penting bagi dunia keagamaan, khususnya untuk 3 agama semit. Ketiga agama ini memiliki perspektif yang berbeda mengenai berbagai perjalanan hidup beliau, walau terkadang terjadi asmiliasi perspektif juga. Salah satu adalah mengenai apa latar belakang dibalik penangkapan Yesus yang pada kemudian berujung pada peristiwa penyaliban beliau. Latar belakang penangkapan beliau as. ini menjadi salah satu kunci dalam memahami peristiwa penyaliban nya.
Penulis memang seorang muslim, tapi dalam hal ini saya akan berusaha membedah bukan dari kacamata Al-Qur’an tapi dari perspektif Alkitab. Sehingga dalam tulisan ini kita akan membedah ayat demi ayat untuk memahami latar belakang penangkapan Yesus. Selain di Alkitab penjelasan tentang sosok Yesus jauh lebih rinci dibandingkan Al-Qur’an, cara ini juga untuk menunjukkan bahwa kajian lintas kitab suci adalah kajian yang harus ditumbuh kembangkan dalam dialog keagamaan.
Nabi Isa as terlahir dari kalangan masyarakat biasa di sebuah desa bernama Nazaret (Kisah 10:37) disuatu daerah bernama Galilea di Palestina (Markus 1:9) yang dihuni mayoritas suku Yahudi (Matius 4: 15).
Nabi Isa as memberitakan bahwa kerajaan Allah sedang terjadi, siapa yang bergabung akan terselamatkan (Lukman 19:42). Dakwah Nabi Isa as ini berbeda dengan guru-guru agama pada waktu itu (Matius 7:29) yang tidak mau mengajar tafsir-tafsir baru dan hanya berpegang pada tradisi-tradisi lama Yahudi (Matius 15:2)
Maka Nabi Isa as dituduh radikal dan tidak bisa dimasukan kedalam salah satu aliran bangsa Yahudi bukan saja menggegerkan bangsa Yahudi tapi juga memancing perlawanan dari para pemimpin Agama Yahudi (Markus 3:6), dari para ulama Yahudi inilah sebenarnya perlawanan diawali, bukan berawal dari pihak penguasa politik seperti Roma; Raja Herodes.
Pada akhirnya, setelah ketegangan yang hebat antara Nabi Isa as dan para pemimpin agama Yahudi, nabi Isa as diserahkan kepada penguasa politik Roma di masa itu yang pegang oleh wali negeri Pontius Pilatus dan Raja Herodes di Galilea.
Nabi Isa as sendiri hampir pasti memfirasatkan bahwa jalan hidupnya akan segera meneguk cawan/kesengsaraan. Kabar gaib itu diucapkan melalui Jamuan Terakhir di hadapan murid-muridnya (Matius 26:17-25; Lukas 22: 7-14, 21-23; Yohanes 13: 21-30). Dan terbuktiah beliau a.s. menjalani penderitaan itu –sebagai nabi ulûl ‘azmi[2] – dengan tegar. Baiklah mari kita semak kronologi penangkapan beliau.
Dikisahkan bahwa satu kali Yesus mengumpulkan kedua belas muridnya untuk mengadakan satu perjamuan Paskah[3] (Matius 26:17-25; Lukas 22: 7-14, 21-23; Yohanes 13: 21-30). Dalam jamuan itu Yesus memberikan sedikit gambaran mengenai kejadian-kejadian berkenaan perlakuan mereka menjelang peyaliban. Beberapa nubuatan penting itu adalah:
a.       Ada salah seorang diantara mereka yang akan menyerahkan Yesus (Matius 26:21)
b.      Yesus akan “pergi” sesuai apa yang telah dituliskan [takdir] tentang beliau (Matius 26:24).
Baru setelah itu beliau bersama murid-muridnya pergi menyeberangi sungai Kerdon menuju taman zaitun (taman Getsemani). Dalam perjalanannya, Yesus juga bernubuat:
a.       Iman murid-muridnya akan mengalami kegoncangan (Matius 26:31)
b.      Yesus akan bangkit (setelah penyaliban) dan akan mendahului murid-muridnya pergi ke Galilea (Matius 26:32)
c.       Petrus akan menyangkal sebagai pengikut Yesus sebanyak tiga kali sebelum ayam berkokok (Matius 26:34)
a.      Berdoa
Di taman ini semalaman Yesus berdoa dalam sujud sedih dan derita (Matius 26:36-46; Markus 14:32-42; Lukas 22:39-46). Dalam doanya, beliau a.s. menyuruh murid-muridnya untuk duduk berjaga selama beliau a.s. berdoa. Dalam doanya, beliau bersabda, “Ya Bapa-Ku jikalau sekiranya cawan ini tak mungkin lalu, kecuali jika Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu” (Matius 26:42). Namun setelah beliau berdoa, beliau mendapati murid-muridnya itu tertidur, maka mereka dibangunkan dan menyuruh mereka berdoa. Setelah itu beliau kembali berdoa. Hal itu berulang sebanyak tiga kali.
Arti dari cawan piala atau cawan dalam Kamus Alkitab kadang-kadang dipandang sebagai lambang nasib atau penderitaan manusia (Mzm. 75:9). Minum cawan berarti: menerima kesengsaraan (Yer. 49:12; Mat. 20:22). Juga dapat dipakai dalam arti: tempat yang berisi dengan murka Allah (Yes. 51:17; Yer. 25:15; Why. 15:7; 16:1 dsb.)[4].
Jadi walaupun Yesus tidak ingin menjalani ujian yang sangat berat sebagai seorang Nabi, namun hal ini memang telah dinubuatkan oleh Allah Ta’ala. Sehingga mau tidak mau beliau pasti akan melalui peristiwa yang sangat menyakitkan itu. Dan buah dari ketegaran itu, maka beliau a.s. dikategorikan sebagai Nabi Ulul Azmi, yaitu nabi yang mempunyai ketegaran yang luar biasa dalam menjalani ujian.
b.     Yesus Ditangkap
Setelah itu datanglah serombongan pasukan suruhan Imam-imam Yahudi bersama Yudas, salah satu murid Yesus. Yudas memberikan isyarat kepada para pasukan bahwa orang yang akan ia cium adalah Yesus, yang dialah harus ditangkap.
Setelah Yesus dicium maka ditangkaplah beliau. Ketika itu, terjadilah satu insiden kecil yang mengakibatkan putusnya telinga kanan Malkhus, salah satu murid Yesus (Yohanes 18:10). Namun Yesus melarang perseteruan itu dan akhirnya beliau pun meyerahkan diri sedangkan murid-muridnya melarikan diri (Matius 26:47-56; Markus 14: 43-50; Lukas 22:47-53; Yohanes 18:1-11).
Setelah Yesus ditangkap, beliau a.s. bersabda, “Akan tetapi semua ini tejadi supaya genap yang ada tertulis dalam Kitab nabi-nabi,” (Matius 26:56), “…bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (Yohanes 18:11). Jadi sebelumnya, beliau a.s. sudah mengetahui bahwasannya kejadian ini telah dinubuatkan oleh nabi-nabi terdahulu.
Sesudah menangkap Nabi Isa a.s., mereka membawanya menghadap Imam Hanas[5] [mertua dari Imam Kayafas[6]] yang pada tahun itu menjadi imam besar. Setelah beliau ditanyai, maka Yesus diserahkan kepada Imam Kayafas dengan keadaan terbelenggu (Yohanes 18:12-24). Saat itulah berkumpul para ahli Taurat dan tua-tua. Sedangkan salah satu muridnya yang bernama Petrus menyelinap untuk memantau peristiwa penghakiman itu.
Dalam penghakiman itu para Imam mencari-cari alasan agar Yesus bisa dihukum. Yesus dipaksa berbicara di depan mereka tapi beliau tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Lalu Yesus menjawab: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” Oleh karena itu Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?” Mereka menjawab dan berkata: “Ia harus dihukum mati!”[7] karena dalam Taurat disebutkan bahwa seseorang yang menghujat Tuhan, dia layak dihukum mati (Imamat 24:16). Setelah mendengar pernyataan dari Yesus, maka mereka sepakat bahwa Yesus patut dihukum mati. Setelah itu Yesus pun dianiaya dengan cara diludahi dan ditinju (Matius 26:67)
Dalam peristiwa itu, salah seorang Yahudi mengetahui bahwasannya Petrus adalah salah seorang pengikut Yesus. Mendengar hal itu Petrus ketakutan, sampai-sampai menyangkal bahwa ia tidak mengenal Yesus dan bukan pengikut beliau. Hal itu terulang tiga kali (Matius 26:69-75). Maka setelah ayam berkokok sebanyak tiga kali, barulah Petrus menyadari bahwa nubuatan tentang dirinya menjadi sempurna (Matius 26:34) [8].
Siang hari itu, para Imam dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus. Dalam keadaan terbelengu, mereka menyerahkan beliau a.s. kepada Pilatus (Matius 27: 1-2).
Ketika dihadapkan kepada Pilatus, wali negeri itu, orang-orang Yahudi banyak mengajukan tuduhan kepada Yesus. Sebagai seorang yang bijak, Pilatus menanyakan akar permasalahannya kepada Yesus, sang terdakwa. Secara umum, mereka menuntut Yesus karena beliau a.s. mengatakan bahwa dirinya “Raja” Yahudi[9] dan menghujat Tuhan[10]. Tapi setelah diselidiki, ternyata tidak didapati satu kesalahan pun dalam diri Yesus. Oleh karena itu Yesus diserahkanlah kepada Herodes.
Bersamaan dengan kejadian itu, ketika Pilatus ada di kursi pengadilan, istrinya memberikan pesan, “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam” (Matius 27:19)[11]
Herodes adalah Raja Provinsi Yudea, termasuk Galilea, dimana Yesus berasal. Oleh karena itu Pilatus menyerahkan Yesus kepadanya. Ketika Herodes mengajukan banyak pertanyaan, Yesus tidak menjawabnya. Bahkan para imam kepala dan ahli Taurat menuduhkan tuduhan-tuduhan berat kepada beliau a.s. Maka mulailah Herodes dan pasukannya mengolok-olok Yesus (Lukas 23: 8-12)
Karena Herodes juga tidak mendapatkan satu kesalahan pun dalam diri Yesus, maka beliau a.s. diserahkan kepada Pilatus kembali (Lukas 15:15). Saat itu bertepatan dengan pada hari raya. Salah satu perayaannya, mereka terbiasa melepaskan seorang narapidana atas pilihan orang banyak. Di hadapan orang-orang ditanyakan, “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?” (Matius 27:17)[12]. Setelah berulang kali ditanyakan, mereka memilih Barabas untuk dibebaskan. Hal itu disebabkan kedengkian dan kebencian orang-orang Yahudi kepada Yesus.
Setelah itu Pilatus bertanya kembali, “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” namun orang-orang Yahudi tetap bersikeras berkata, “Ia harus disalibkan!”. Pilatus merasa segala usahanya sia-sia, bahkan hanya menambah kekacauan saja. Akhirnya Pilatus membasuh tangannya sebagai tanda bahwa ia telah melepaskan tanggung jawab terhadap Yesus dan menyerahkannya kepada kaum Yahudi karena memang mereka yang menginginkannya[13]. (Matius 27:11-26; Markus 15:1-15; Lukas 23:1-5; Yohanes 18:33-19:16). Setelah itu beliau a.s. didera dengan deraan yang sangat menyakitkan, gambaran hukuman itu adalah sebagai berikut:
“Tidak dapat diragukan bahwa manusia kain kafan itu telah disiksa dengan penderaan. Sesah atau cambuk itu terdiri atas tiga helai tali, dan tiap-tiap tali diberi sepasang bulatan keras berduri pada pucuknya. Manusia kain kafan tidak disesah menurut peraturan Yahudi (yang membatasi cambukan hanya sampai 39 kali), melainkan menurut peraturan orang Romawi yang tidak membatasi jumlah cambukan.”[14]
“Dua (sic) arah cambuk yang konvergen itu menunjukkan bahwa cambuk itu menimpa dari sebelah kanan dan sebelah kiri pesakitan; itu berarti penderanya dua orang. Kemungkian besar, serdadu yang mendera dari sebelah kanan menyesah dengan tangan kiri dan serdadu yang menyesah dari sebelah kiri menyesah dengan tangan kanan.”[15]

Baru setelah itu dibawalah Yesus ke gedung pangadilan. Disana beliau a.s. dilepas pakaiannya, dan diganti dengan sebuah jubah Ungu. Beliau juga diberi sebuah buluh (tongkat) serta dipakaikan anyaman mahkota duri. Lalu mereka berlutut dan mengatakan, “Salam, hai raja orang Yahudi.” [Ini merupakan olok-olokan mereka terhadap Yesus] Itu dilakukan sambil merebut tongkat itu dari Yesus dan memukulkannya ke arah kepala beliau a.s. yang ketika itu bermahkota duri (Matius 27: 27-31; Markus 15:16-20; Yohanes 19:2-3).
Dari ayat demi ayat Alkitab yang disampaikan diatas terlihat bahwa latar belakang utama penangkapan Yesus hingga akhirnya diangkat ke tiang salib adalah penentangan dan provokasi yang dilakukan oleh para Ulama Yahudi saat itu.



[1] Situs ini dalam mengutip ayat Al-Qur’an menggunakan metode penomeran dimana basmallah dihitung sebagai ayat pertama
[2] Penjelasan mengenai Ulul Azmi, bisa dilihat pada bagian awal bab II.
[3] Paskah diambil dari kata Ibrani, yaitu “Pasch” yang berarti “lewat”. Dalam bahasa Inggris disebut dengan “cross over”. Kaum Yahudi memperingati hari itu pada tanggal 25 Maret yang dihubungkan dengan kehijrahan kaum Yahudi dari Mesir “melewati” Laut Merah menuju Palestina.
Sedangkan kaum Kristiani tiap tahunnya, antara Maret dan April mereka memperingatinya sebagai hari kebangkitan Yesus dari kematian. Hari paskah tiap tahunnya berubah-ubah. Namun yang pasti adalah hari Minggu karena kematian Yesus di tiang salib adalah hari Jumat. Lihat Ali Mukhayat MS., op cit , h. 33.
[4] Lembaga Alkitab Indonesia, “Cawan Piala”, Kamus Alkitab Elektronik 2.0.0 – Alkitab Perjanjian Baru, Loc.cit.
[5] Dalam ejaan lain Imam Hanas juga dikenal dengan Imam Anas/Henainas.
[6] Dalam ejaan lain Imam Kayafas juga dikenal dengan Imam Kaifas/Kefas.
[7] Lihat Matius 26:63-66 dalam Lembaga Alkitab Indonesia, loc.cit.
[8] Matius 26:34: “Yesus berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali. Lembaga Alkitab Indonesia, loc.cit..
[9] Yesus pernah berkata bahwa kerajaannya bukan di bumi ini. Dengan kata lain, ia adalah seorang raja Rohani saja (Yohanes 18:36). Namun orang-orang Yahudi tidak menghiraukannya dan tetap menuduhnya sebagai pemberontak Kaisar pada saat itu.
[10] Hal ini karena Yesus pernah bersabda bahwa dirinya adalah Messiah (Matius 16:20) yang diutus oleh Allah –tapi orang-orang Yahudi tidak mempercayainya. Inilah yang menjadikan Yesus dianggap menghujat Allah. Sedangkan menurut Taurat, kesalahan ini hukumannya adalah hukuman mati (Imamat 24: 16).
[11] Lihat Lembaga Alkitab Indonesia, loc.cit..
[12] Ibid.
[13] Matius 27:24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata, ‘Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”. Lihat Lembaga Alkitab Indonesia, loc.cit..
Matius 27:25 Seluruh rakyat itu menjawab, ‘Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!’ ” Lihat Lembaga Alkitab Indonesia, loc.cit..
[14] A. Widyamartaya, Sejenak Memandang Manusia Kain Kafan, (Yogyakarta: Kanisius dan Gandum Mas, 1994), cet. Ke-12, h. 30
[15] Ibid.

Posting Komentar

0 Komentar