Sebuah Syair

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Sebuah Syair


Perkenankanlah hamba yang lemah ini
Untuk sekedar menari dalam jemari
Menguntai kalimat yang terhempas dan tertindas
Oleh aktualitas dan realitas

Di setiap pijakan tempat bertopang
Terdapat keseimbangan tatanan falsafi
Menyenandungkan wajah indah mikrokosmos
Yang terlantun darinya hembusan dzarrah

Langkah yang terangkai dalam ayunan
Terus melancong dalam perjalanan waktu
Menembus tapal batas telaga maut
Taktala ruh telah berubah menjadi nur

Kefanaan yang melekat telah terlepas
Ketika kebangkitan mengambil tubuh yang baru
Dalam manifestasi ‘Aqal Al-Haqq yang terus bekerja
Melaju tanpa rasa segan

Adakalanya mikrokosmos merasa takut
Untuk kembali satu dengan makrokosmos
Terkulai dalam kebekuan dan kekerasan
Yang mengungkung di pelataran kehidupan

Harum indahnya aroma langit                                                             
Tak menyebabkan hilang irama bumi
Yang senantiasa membisikkan was-was
Ke dalam selubung hati paling dalam

Mata air air mata sang perindu
Berlinang gelisah untuk berjumpa
Bertemu dengan Sang Kekasih Terdamba
Meninggalkan wujudnya sendiri

Jerit tangis yang terpekik dalam kesyahduan
Tanah pun iba melihat dan mendengar
Bersedia menampung tubuh sang perindu
Yang terbungkus dengan kafan kehancuran

Tanah hitam-legam nan hina
Bertransformasi menjadi eliksir
Karena kejuitaan paras Sang Kekasih
Yang melelehkan ruh serta nafas

Sudilah kiranya untuk berharap
Dengan kecintaan dan ketulusan
Untuk sampai pada wujud-Nya
Terselamatkan dari gelombang keburukan

Dendang syair ini kiranya usai
Dengan bersyukur ke hadirat Ilahi
Dengan ucapan dan tindakan pengkhidmatan
Sebagai qurbān yang disembelih di jalan-Nya

---0---

Posting Komentar

0 Komentar